EssaiOpini / Gagasan

KISAH SEDIH DI SEKOLAH!

Oleh: Ary Senpai

Sekolah dan keseragaman

Apa itu sekolah? Dan mengapa sekolah? Bagaimana sejarah terjadinya sekolah? Sekolah adalah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa di bawah pengawasan guru dengan tujuan yang jelas maupun dengan tujuan yang tidak jelas.

Tujuan yang jelas contohnya menjadikan manusia itu terampil, sedangkan tujuan yang tidak jelas adalah menganggap nilai rapor adalah segala-galanya. Mengapa nilai rapor menjadi bagian dari ketidakjelasan? Karena kelak jika lulus dan bekerja, nilai rapor hanyalah menjadi “bantal turu”, apakah bakul kerupuk butuh nilai rapor? Apakah atlet tinju butuh nilai rapor yang baik? Apakah seorang kyai butuh nilai ujian nasional yang di atas standar? Ataukah seorang penyanyi butuh nilai ujian semester yang tinggi?

Mengapa sekolah?

Satu jawaban paling simpel adalah untuk menyeragamkan manusia. Mengapa manusia yang unik harus dituntut mempunyai kemampuan yang seragam? Padahal punya banyak keahlian? Mengapa manusia yang katanya sekolah, ibarat harus mengetahui cabe, bawang, micin, dan teh mengapa harus mengerti tentang cabe saja?

Di sini sudah jelas bahwa tujuan sekolah adalah untuk menyeragamkan potensi manusia. Satu jawaban telak dari mengapa sekolah bukanlah untuk menjadikan manusia semakin cerdas dan berpengetahuan luas, tapi hanya mengetahui materi pelajaran saja. Bedakan antara cerdas, berpengetahuan luas, dengan mengetahui materi pelajaran saja.

“Seragam” hasil sekolah inilah yang mengakibatkan manusia enggak bisa ngapa-ngapain, gampang malu jika kerjanya bakul micin, gampang minder jika enggak pegawai negeri, suka membandingkan gaji. Itulah bentuk “kebodohan” hasil dari sekolah yang menuntut keseragaman. Terus, sebenarnya sekolah itu budaya darimana?

Sejarah kelam sekolah

Pada masa peradaban zaman old, di tanah Jawa maupun di Arab, pembelajaran dimulai dari orang yang dianggap sakti mandraguna, pinter, hebat, digdaya, dan alim (dianggap suhu). Ia lantas didatangi para siswa yang ingin belajar. Siswa alias warga inilah yang aktif dalam mencari ilmu, bukan guru yang ceramah (seperti timbo marani sumur, bukan sumur marani timbo).

Bisa dikatakan siswa atau warga belajarnya yang aktif. Misal ada yang ingin belajar masalah ilmu statistika, seseorang datang kepada Pak Al Maqrizi (Suhunya Suhu Statistik Pada Masanya). Karena siswanya yang aktif inilah sistem belajar menjadi lebih bagus pada masa itu. Jika siswa dari Al Maqrizi merasa masih kurang dalam hal pemahamannya, boleh ia berpindah ke suhu lain untuk memperdalam ilmunya.

Pada masa jayanya, Islam dicirikan dengan berkembang pesatnya guru dan alim ulama serta ilmu pengetahuan. Namun di Eropa masih merupakan zaman kegelapan. Hanya sedikit yang belajar kepada para ahli. Dari sinilah orang yang setelah belajar banyak hal berusaha mengajarkan ilmu pengetahuan ke anak-anak, sehingga dibikinlah sistem kelas (ya kayak zaman now lah, ada kelas 1,2,3 dst. Disinilah mekanisme kelas lahir).

Jadi, di Eropa pada zaman kelam inilah, sistem belajar sekolah cenderung pasif, karena anaknya “dicekoki” oleh gurunya di dalam kelas. Kita tahu mekanisme dari hal tersebut, guru merupakan sosok yang dianggap ampuh, dan muridnya harus diseragamkan. Inilah cikal bakal standar penilaian akademik yang sering diadopsi oleh people zaman now. Padahal manusia itu unik, tetapi konsep harus seragam, ini terus turun temurun dari generasi ke generasi.

Pada masa revolusi industri di Eropa, peran sekolah semakin terpacu. Perusahaan butuh pekerja yang disesuaikan oleh kriteria industri yang ada. Dengan adanya kriteria industri ini, dibuat kesepakatan lagi atau standar lagi, yaitu titel atau gelar (contoh S.Kom, M.Kom, S.Pd, Lc, M.Ag, MA, SS, Esteler, Es Jus, Es Micin, dst) sebagai bentuk penyeragaman manusia. Dari sejarah kelam sekolah kita sudah tahu bahwa sekolah hanyalah tempat untuk menyeragamkan potensi manusia.

Terus, haruskah sekolah?

 Jawabannya adalah relatif.

Kok bisa relatif?

Kita telah mengetahui bahwa sekolah adalah bagian terkecil dari belajar. Sebelum menentukan apakah sekolah itu penting atau tidak, kita bisa melihat potensi yang ada pada diri seseorang.

Kecenderungan seseorang apakah masuk dalam kategori harus sekolah, gak usah sekolah, atau sekolah aja tapi jika tambah kurang terampil enggak usah sekolah aja. Nah kita harus mampu melakukan identifikasi kebutuhan belajar.

Misal Yudha adalah anak yang suka main gim, kita bisa melakukan identifikasi anak ini mau belajar main gim, animasi, perbankan atau marketing? Pertama yang harus dilakukan adalah identifikasi.

Identifikasi kebutuhan belajar akan berdampak secara berkelanjutan. Misal kita terlalu memaksakan agar seseorang masuk sekolah padahal ia potensinya adalah berada di pondok pesantren ya tidak akan menjadi hal yang maksimal, ya kan? (hehehe).

Bagaimana cara untuk melakukan asesmen atau identifikasi kebutuhan belajar?

Jika kita menjadi orangtua maka kita harus bisa melihat potensi anak, jika kita seorang guru kita juga melakukan tindakan lanjutan dari identifikasi kebutuhan belajar dari orangtua. Anak yang memiliki potensi di dunia seni susah untuk diarahkan untuk menjadi seorang akuntan publik (misalnya), demikian pula sebaliknya. Anak yang memiliki potensi di dunia akuntan publik juga akan susah diarahkan untuk masuk ke dunia seni. Setidaknya kita bisa memberikan fasilitas agar anak tersebut menekuni bidang seni agar dapat mengembangkannya lebih jauh potensi seninya.

  • Ary senpai & Abi Emkom  (Penulis Buku Sekolah Membunuhmu)

Related Articles

Back to top button