fbpx
Kabar Indonesia

Kisah Pernikahan Soekarno dan Nyi Roro Kidul

ENERGIBANGSA. ID – Apa yang ada dibenak sobat energi saat sedang mengunjungi atau berlibur di  pantai selatan?. Tentunya, yang pertama terlintas dibenak sobat energi pasti sosok ratu penguasa pantai selatan dengan segala atributnya bukan?

Sebagai ratu yang menguasai pantai dan lautan selatan,  Kanjeng Nyi Roro Kidul sudah tak lagi asing ditelinga masyarakat Nusantara. Namanya begitu tersohor dan menggema dari ujung utara apalagi di ujung selatan.

Eksistensi Nyi Roro Kidul seakan tak pernah ada habis-habisnya. Mulai dari zaman kerajaan lalu hingga zaman tumbuh kembangnya cebong dan kampret saat ini, sosoknya masih tetap hidup dan melekat ditengah-tengah masyarakat.

Hal itu tak mengherankan memang, sebab Nyi Roro Kidul memiliki segudang kisah yang menarik untuk selalu di perbincangkan di kalangan khayalak yang tak ada matinya.

Betapa tidak, sosok Nyi Roro Kidul sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatkan. Dari yang bergelar S3 hingga tidak punya gelar berdebat terhadap keberadaan sosok Ratu cantik Penguasa Lautan selatan ini.

Ada yang meyakini sosok Nyi Roro kidul itu nyata tetapi tidak sedikit yang menganggap itu hanya mitos tutur ataupun legenda.

Sastrawan besar dan terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer turut buka suara terkait hal tersebut. Ia mengatakan bahwa  Nyi Roro Kidul adalah tokoh rekaan seniman kala itu.

Tokoh ini diciptakan untuk menutupi kekalahan Mataran dari Belanda. Dengan menciptakan tokoh Nyi Roro Kidul, mereka seakan-akan masih memiliki kuasa akan pantai selatan.

 Namun terlepas  berdebatan keberadaan Nyi Roro Kidul, ada satu cerita yang sangat begitu mengundang rasa penasaran.

Yaitu Hubungan Spesial antara Kanjeng Ratu Pantai selatan dengan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno.

Banyak buku dan artikel ilmiah bergenre sejarah yang mencoba membahas hubungan Soekarno dan Penguasa Laut Selatan itu.

Lalu hubungan spesial seperti apa?

Dari penelusuran tim energibangsa.id,  diketahui Presiden Soekarno pernah melakukan pernikahan atau perkawinan secara gaib dengan sang ratu.

Dari beberapa sumber yang ditelesuri tim energibangsa.id, Presiden pertama Indonesia ini pada beberapa kesempatan kenergaraan berkali-kali mengawali sambutannya dengan cerita tentang sosok Ratu cantik itu.

“Ratu Roro Kidul, ratu dari lautan selatan, ratu dari samudera yang dulu bernama Samudera Hindia, tetapi kemudian kita rubah dengan nama Samudera Indonesia, saudara-saudara,” kata Soekarno, di Istana Merdeka , Jakarta, saat melantik R.E Martadinata sebagai kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, 17 Juli 1959.

Ia melanjutkan kembali kisahnya bahwa sejak zaman lampau, apalagi sejak zaman mataram islam, ada tradisi yang mengatakan bahwa raja hanyala bisa menjadi raja besar yang kuat, pimpinan hanyalah bisa menjadi pimpinan yang kuat, jikalau beristerikan Ratu Pantai Selatan.

Sang Proklamator ini kembali membuka sambutan dengan menyeritakan sosok Nyi Roro Kidul ketika Musyarawah Nasional Maritim, 23 September 1963.

Kata Bung Karno kala itu, terserah mau percaya atau tidak. Itu bukan soal. Tetapi nyata bahwa ini berisi satu symbol.

“Kepercayaan ini berisi satu simbolik bahwa tidak bisa seseorang raja, bahwa tidak bisa sesuatu Negara di Indonesia ini menjadi kuat jikalau tidak dia punya raja kawin beristrikan Ratu Roro Kidul.”

Simbolik itu sambung dia, berarti bahwa Negara Indonesia hanyalah bisa menjadi kuat jikalau ia juga menguasai Lautan.

“Jikalau Negara di Indonesia ingin menjadi kuat, sentosa, sejahtera, maka dia harus kawi juga dengan laut. Bahwa bangsa Indonesia tidak bisa menjadi bangsa kuat, tidak bisa menjadi Negara kuat, jika tidak menguasai samudera, jikalau tidak kembali menjadi bangsa maritime,” tandas soekarno.

Tidak sebatas itu saja, hal tersebut diperkuat dengan cerita para penduduk yang tinggal di Pantai Citepus, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Dari penuturan mereka, pada zaman dulu Soekarno acapkali datang berkunjung ke kampung tersebut.

Lalu pada tahun 1960 dibangun Istana Presiden Republik Indonesia di kawasan itu. Persis di bibir Pantai Citepus. Namanya Pesanggrahan Tenjo Resmi.

Sepelesatan ketapel dari Istana Presiden, dibangun pula Samudera Beach Hotal dengan anggaran Rp 660 miliyar dari dana pampasan perang jepang.

Hotel ini pun kedepannya melahirkan segudang cerita yang bertalian dengan Ratu Pantai Selatan dimana dainataranya sebagai gerbang kerjaan sang ratu dan tempat pertemuan antara Soekarno dengan Nyi Roro Kidul di kamar 308.

Pernikahan antara Soekarno dan Nyi Roro Kidul juga tertulis dalam buku Dunia Batin 2 Macan Asia: Pengalaman-Pengalaman Spirtual Bung Karno dan Pak harto (2014).

Di buku tersebut diceritakan bahwa kawin disimbolkan sebagai upaya Seokarno memperkuat bangsa Indonesia dari segi Maritim atau laut sebagaimana pada zaman Kerajaan Majapahit dulu.

Ia ingin kembali mengulang kebesaran Nusantara masa lalu dengan mencoba mengadopsi sistem ke kemaritiman majapahit yaitu dengan kawin atau menikahi lautan.

Artinya manusia Indonesia mesti menyadari bahwa mereka hidup di Negara maritim yang besar sehingga harus berkolaborasi dengan laut bila ingin jaya.

Pernikahan Ghaib sendiri sebenarnya sudah terjadi sejak masa lalu. Menurut Kepercayaan Jawa, Raja Jawa merupakan suami dari Penguasa Pantai Selatan .

Pernikahan itu terjadi ketika diadakan perjanjian antara Panembahan Senopati dengan Nyi Roro Kidul sebelum kerajaan Majapahit dibangun.

Perjanjian itu terus berlanjut ke raja-raja berikutnya, diantaranya Sri Mangkunegaraan IX dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sinuhun Pakubuwono XIII Pura Mangkenagaraan, hingga sampai kepada penguasa nusantara, Ir. Soekarno.

Pernikahan yang dimaksudkan itu tidak seperti biasanya, melainkan tersirat untuk mempertahankan kekuasaan seperti saat Senopati membangun Kerajaan Mataram.

Begitu halnya dengan Soekarno yang ingin dan bertujuan untuk memperkuat Indonesia dari sisi maritime seperti zaman Majapahit saat mencapai kejayaan.

Nah demikian lah kisah Pernikahan antara Soekarno dan Nyi Roro Kidul. Sampai saat ini hal itu masih menjadi perdebatan antara mitos tutur yang berkembang di masyarakat atau fakta sejarah.

Related Articles

Back to top button