fbpx
Inspirasi BangsaPojok Bangsa

Kiprah dan Kontribusi Jakob Oetama Untuk Pers Indonesia

ENERGIBANGSA.ID (Jakarta) – Dunia Pers Indonesia hari ini, Rabu (9/9) sedang berduka. Pasalnya salah satu putra terbaik yakni Jakob Oetama, meninggal dunia diusia 88 tahun akibat gangguan multi organ yang di idapnya.

Rasa kehilangan yang cukup besar tentu dirasakan seluruh insan pers Indonesia. Sebab bila menilik lebih dalam, salah satu dari dua pendiri majalah intisari, Harian Kompas, dan Kompas Gramedia Group itu telah menyumbangkan banyak karya dan buah pikir semasa hidupnya. Terlebih lagi dibidang jurnalistik yang telah ia geluti sejak masih belia.

JO, panggilan akrab Jakob Oetama, selain menjadi wartawan dan pimpinan tertinggi dari Harian Kompas, diketahui sempat menjabat sebagai pengurus pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Berdasarkan arsip pemberitaan Litbang Kompas, JO pertama kali dipilih menjadi pengurus pusat PWI pada tahun 1965. Berdasarkan Kongres PWI ke-12, JO dipilih untuk menempati posisi Sekretaris Jenderal PWI (1965-1968).

Jakob Oetama
Jakob Oetama, salah satu dari dua pendiri harian kompas, majalah intisari dan Kompas Gramedia Group tutup usia. (Sumber: suara.com)

Selama menjabat sebagai Sekjen PWI, JO sempat ditunjuk menjadi anggota panitia khusus bentukan PWI yang ditugaskan mempelajari RUU Pokok Pers ketika itu, akhir November 1965.

Selain itu, ia juga dipercaya menjadi anggota dari tim koordinasi Pembinaan Media Massa di tahun berikutnya.

Tugas lain yang pernah ia jalani sebagai Sekjen PWI, melansir dari kompas.com, adalah terlibat dalam pertemuan dengan Sekretariat Bersama (Sekber) Rehabilitasi Pers pada Agustus 1966.

Pertengahan 1967, pria kelahiran Magelang, 27 September 1931 itu masuk dalam redaksi Majalah Pers Indonesia. Majalah yang terbit 3 bulan sekali itu berisi berita terkait pers, film, radio, dan tv.

Memasuki tahun 1968, kepengurusan PWI Pusat pun kembali diperbaharui. Meski tidak lagi menjabat Sekjen, dalam kepengurusan baru ini JO naik posisi menjadi Ketua II PWI Pusat. Sementara posisi Ketua Umum masih dijabat oleh orang yang sama, yakni Machbub Djunaidi.

Pada 17 April 2003, Universitas Gadjah Mada (UGM) memberi Jakob Oetama gelar Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi. Anugerah itu diberikan karena Jakob dianggap sebagai raksasa jurnalis yang menawarkan jurnalisme damai dengan karya-karya jurnalisme bernuansa sejuk. 

Kiprah Jakob Oetama di bidang jurnalistik tidak hanya berhenti di dalam negeri. Sebagaimana pantauan tim energibangsa.id, di pertengahan tahun 1966, medio Mei, JO bersama Ketua I PWI, Jusuf Sirath pergi ke Berlin, Jerman selama 3 minggu memenuhi undangan pemerintah setempat untuk menghadiri seminar Federasi Wartawan Internasional.

Selama di sana, keduanya sempat juga diwawancarai salah satu radio Jerman, Deutsche Welle, membahas seputar dunia jurnalistik di Tanah Air.

Selain ke Jerman, JO juga pernah berangkat ke Tokyo untuk mengikuti sebuah seminar yang membahas permasalahan media massa di Asia.

Di sana didapatkan kesimpulan, bahwa Asia membutuhkan koran-koran rakyat. Yaitu, koran atau media massa yang mudah dijangkau oleh masyarakat, khususnya dari segi harga. (Gilban/EB)

Related Articles

Back to top button