Kiai Muqiet
Tokoh Kita

Kiai Muqiet; Jejak Perjalanan dan Kerja Kemanusiaan (1)

0

Oleh : Ferdiansah*

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) — Ketika itu, bersama penulis dalam sunyi sore hari, Kiai Muqiet bernostalgia menceritakan masa lalunya dengan begitu gembira dan penuh hikmat. Seraya menggunakan beberapa humor yang muatan narasinya khas humor pesantren.

Kiai Muqiet
Kiai Muqiet, cucu KH, Syamsul Arifin, pendiri pondok pesantren Al-Falah, Karang harjo, Silo Jember (dok: istimewa)

Kiai Muqiet sendiri, yang saya tahu merupakan sosok pendidik di lingkungan pesantren dan juga aktivis sosial “tulen”.

Berbagai gerakan sosial telah beliau lakukan sejak muda, dan memang karena ia sangat senang dengan kerja-kerja kemanusiaan.

Baca Juga : Jateng dan Jabar Ikuti Pelatihan Satgas COVID-19 Pesantren

Kiai Muqiet merupakan keturunan Madura dari jalur ayah dan ibunya. Ia merupakan cucu KH, Syamsul Arifin, pendiri pondok pesantren Al-Falah, Karang harjo, Silo Jember. Ia lahir pada tanggal 21 Maret 1962, ia anak kedua dari lima bersaudara.

Secara historis, Muqiet muda pada waktu itu, seorang anak yang rajin menimba ilmu, ia merupakan cucu pertama dari Kiai Syamsul Arifin yang sekolah formal (sekolah Dasar).

Karena kakeknya ketika itu sangat fanatik terhadap lembaga pesantren. Sejak dulu, ia dikenal sebagai anak yang rajin dan selalu mendapat ranking kelas di sekolahnya.

Ketika menginjak SMP, perjalanan untuk menuju sekolahnya cukup jauh. Tetapi dengan semangat ia berjalan kaki sekitar 5 Km dari rumahnya, hanya agar bisa sekolah.

Seringkali ketika menuju sekolahnya, ia selalu memakai jalur alternatif yakni melewati persawahan yang seringkali membuat kakinya penuh dengan lumpur ketika sampai di sekolah maupun di rumah. Hal ini dilakukannya seorang diri, karena ia satu-satunya siswa yang berjalan kaki ke Sekolah.

Setelah lulus dari SMP, Ia pernah selama lebih dari 1,5 tahun bekerja ke “tetelan” (berkebun/bertani) karna tidak sekolah. Ia menanam jagung dan tembakau di kawasan perkebunan jati, dan untuk menuju kesana bisa menempuh waktu 2 jam dari rumahnya.

Ia berjalan kaki berangkat ke ladang, mulai dari bakda subuh dan baru sampai rumah kembali ketika bakda Isya’.

Baca Juga : Pesantren ‘Diserang’ Covid, Ganjar Maksimalkan Program Jogo Santri

Makanan pokoknya ketika itu adalah nasi Singkong, yang cukup lama menjadi makanan sehari-hari dengan saudara-saudaranya.

Memang ketika itu, kondisi finansial keluarganya cukup pasang surut. Sekitar tahun 1972, abahnya, Kiai Arif, mulai berbisnis tembakau.

Secara perlahan kemudian mampu menaikkan taraf hidupnya, dan cukup untuk membangun rumah yang layak. Meskipun demikian, kondisi finansialnya tetap juga pasang surut.

Setelah itu, melihat potensi belajar Muqiet yang ketika itu berprestasi. Akhirnya, ia dibantu oleh paman dari jalur ibunya dan kakeknya untuk dimondokkan di Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep Madura.

Meskipun ia awalnya bercita-cita untuk sekolah di SMAN 1 Jember. Mulai dari sinilah, ia menjadi seorang pembelajar yang tekun dan menjadi santri yang melayani para masyayikh Pesantren.
Dari pesantren Annuqayah khususnya wilayah Latee ini, ia kemudian aktif di gerakan sosial.

Berupa penanaman pohon di sekitar pesantren dan gerakan advokasi sosial lainnya. Karena ketika bersamaa dengan itu pula tahun 1981 Pesantren Annuqayah mendapatkan Kalpataru dari pemerintah RI.

Aktivisme Sosial

Dari Pesantren inilah Kiai Muqiet kemudian memiliki spirit dalam kerja-kerja sosial dan kemanusiaan.

Karena pasca secara formal selesai nyantri dari pesantren ini, kemudian ia melanjutkan estafet kepimpinan pondok pesantren Al-Falah. Karena bersamaan dengan itu, paman sekaligus mertuanya, Kiai Ahmad Jauhari Syams wafat.

Melihat berbagai problem yang terjadi di masyarakat, kemudian ia menginisiasi berbagai program. Salah satunya, listrik masuk desa yang digawanginya sejak tahun 1993, tetapi kemudian baru bisa terealisasi sekitar tahun 1996.

Selain itu, Kiai Muqiet juga merupakan inisiator telepon selular masuk desa, yang akhirnya pada tahun 1997 bisa terwujudkan di kecamatan Silo.

Awalnya, berbagai inisiasinya ini ia galakkan ditolak masyarakat, tetapi akhirnya ketika mereka merasakan dampak baiknya, kemudian mengapresiasi kinerja Kiai Muqiet.

Kerja sosial yang Kiai Muqiet lakukan, secara tidak langsung telah menunaikan kerja kemanusiaan. Sebagaimana yang dianjurkan dalam titah-titah agama.

Karena visi dan nilai kemanusiaan itu sendiri berkelindan dengan nilai agama. Akhirnya, inilah sedikit dari sisi tentang Kiai Muqiet, semoga bermanfaat.(*)

*Penulis adalah Peneliti Muda di Institute of Southeast Asia Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, alumnus Pondok Pesantren Al-Falah, Karangharjo, Silo Jember

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Tarif Listrik Non-Subsidi Diturunkan? Ini Lho, Faktanya!

Previous article

Kurikulum Baru 2021, Siswa Merdeka Belajar!

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Tokoh Kita