Tokoh Kita

KH Hasyim Asy’ari: Dedikasi, Karya dan Perjuangannya

Oleh: Didik T. Atmaja, Pemimpin Redaksi Energi Bangsa

Energibangsa.id — KH. Hasyim Asy’ari, yakni sosok ulama yang sangat populer di kalangan Nahdliyin. Dialah pendiri organisasi massa (ormas) Islam terbesar di Nusantara: Nahdlatul Ulama (NU). Tak hanya itu, Hasyim Asy’ari adalah pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Dunia pendidikan tanah air juga memberinya gelar sebagai Tokoh Pembaharu Pendidikan Pesantren.

Mbah Hasyim, sapaan KH Hasyim Asy’ari adalah seorang mursyid (guru) di bidang pendidikan Islam khususnya pesantren. Namun Mbah Hasyim juga mengajarkan para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi serta berpidato.

Biografi KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari lahir di Jombang pada 10 April 1875. Ibunya bernama Halimah, yakni keturunan Raja Brawijaya VI. Sedangkan ayahnya, Kyai Asyari adalah pimpinan Pondok Pesantren Keras (sebelah selatan Jombang).

Hasyim kecil telah dikenalkan dengan lingkungan pesantren, yakni untuk belajar agama. Pertama kali, Hasyim belajar ilmu agama dari ayahandanya yang juga pendiri Pondok Pesantren Asy’ariyah. Sedangkan di usia 15 tahun, ia telah melakukan pengembaraan ilmu, yakni berguru pada pesantren-pesantren masyhur di tanah Jawa.

Beberapa perguruan (pesantren) yang pernah dijadikan tempat menimba ilmu antara lain Pondok Pesantren Wonorejo (Jombang), Pondok Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pondok Pesantren Tringgilis (Surabaya), serta Pondok Pesantren Langitan (Tuban). Di tanah Madura, Hasyim Asy’ari berguru di Bangkalan di bawah asuhan Kyai Muhammad Kholil bin Abdul Latif (Mbah Kholil).

Sekitar 5 tahun Hasyim Asy’ari berguru dengan Kiai Kholil, membangun kedekatan hingga diberikan apresiasi berupa tongkat kesayangan Kiai Kholil. Tongkat itu dibawakan oleh KH As’ad Syamsul Arifin, yakni pengasuh Pondok Pesantren Syafi’iyah Situbondo menjelang pendirian ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU).

Pengembaraan ilmu berlanjut di Pondok Pesantren Siwalan Sono Sidoarjo di bawah asuhan KH Ya’qub. Di pesantren itu pula, Hasyim Asy’ari menemukan jodoh di usia 21 tahun. Ia memutuskan menikah dengan Nafisah, seorang gadis yang tidak lain adalah putri Kiai Ya’qub. Sebagai hadiah pernikahan, bersama istri dan gurunya (KH Ya’qub), Hasyim Asy’ari pergi menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmunya di Tanah Suci.

Di jazirah Arab, Hasyim Asy’ari praktis mempelajari semua disiplin ilmu, termasuk hadist yang diriwayatkan Rasulullah SAW. Tujuh bulan bermukim di Mekah, pasangan Hasyim-Nafisah dikaruniai seorang putra; Abdullah. Sayangnya, Nafisah, istri Hasyim mengalami sakit dan wafat. Kesedihan itupun terus berlanjut. Setelah 40 hari sepeninggal istrinya, Abdullah juga menyusul sang ibunda pulang ke Rahmatullah.

Pada 1893, Hasyim Asy’ari kembali ke Tanah Suci bersama dengan adik kandungnya, Anis. Selain belajar, berguru pada ulama dan berziarah ke makam Rasulullah SAW, Hasyim Asy’ari juga ‘sowan’ pada ulama tersohor seperti Syekh Su’ab bin Abdurrahman, Syekh Muhammad Mahfud Termas (bidang bahasa dan syariah), Sayyid Abbas al-maliki al-Hasani (ilmu hadist), Syeikh Nawawi al-bantani serta Syeikh Khatib al-Minang Kabawi.

Setelah sekian lama di Mekah, Hasyim Asy’ari memutuskan untuk kembali ke Tanah Air dengan membawa bekal ilmu ma’qul maupun manqul, sebagai bekal untuk beramal dan mengajar di kampung halaman. Faktanya, ia kembali mengajar di Pondok Pesantren Ngedang (pesantren sang kakek) sekaligus tempat ia dilahirkan. Tak berselang lama, Hasyim mulai merintis pesantren di Dusun Tebuireng Jombang.

Mendirikan Pesantren Tebuireng dan NU

Bersama rekan-rekan seperjuangannya, antara lain: Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda Kereb, Kiai Syamsuri Wanan Tara serta lainnya, Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada 1899. Di pesantren yang dibuatnya itu, Hasyim Asy’ari memulai sebuah tradisi menghatamkan Kitab Shakhihaini “Al-Bukhori dan Muslim” saban bulan suci Ramadhan.

Pada awalnya, santri di Pondok Pesantren Tebuireng hanya berjumlah 28 orang, lalu terus bertambah hingga ratusan orang. Selain mengajar, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan. Walhasil, Mbah Hasyim mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.

Bersama KH Bisri Syamsuri, KH Wahab Hasbullah serta ulama-ulama besar lainnya, KH Hasyim Asy’ari merealisasikan azas  dan tujuan dibentuknya NU yakni “memegang teguh salah satu dari empat madzhab yakni Imam Syafii, Imam Maliki, Imam Hanafi dan Imam Hambali, serta mengerjakan apa saja yang menjadi kemaslahatan Islam”.

KH Hasyim Asy’ari terpilih sebagai  Rois Akbar NU, yakni sebuah gelar yang tak dimiliki oleh siapapun hingga saat ini. Mbah Hasyim juga menyusun qanun asasi (peraturan dasar) NU sekaligus mengembangkannya sebagai paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

Di era penjajahan Belanda, pada 1937, KH Hasyim Asy’ari pernah mendapat bintang kehormatan dari pemerintah kolonial, namun ditolaknya. Pun pada era pendudukan Jepang, ia bahkan sempat mendapatkan perlakuan kekerasan dan menjadi tahanan. Namun di era itu pula, Mbah Hasyim menyerukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 di Surabaya—yang saat ini dikenang sebagai “Hari Pahlawan”.

Karya KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari wafat pada 1947. Namun karya-karyanya tak akan pernah mati. Beberapa kitab yang berhasil didokumentasikan yakni: (1) Al-Nurul Mubin Fi Mahabati Sayyidi Mursalin, (2) Al-Tanbihat al-Wajibat Liman Yashna’u al-Maulida Bi al-Munkarat, (3) Al-Durasul Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘asyaraoh, (4) Al-Tibyan Fi Nahyi’an Muqatha’ah al-Arham Wa al-Aqrab Wa al-Akhwal.

Ketiga kitab lainnya seperti: (5) Adabul ‘Alim Wa Muata’alim, (6) Dlau’ al-Misbah Fi Bayani Ahkami Nikah serta (7) Ziyadah Ta’liqot. (*)

Related Articles

Back to top button