Tokoh Kita

KH. Ahmad Dahlan, Sang Pembaharu Islam

energibangsa.id — KH. Ahmad Dahlan merupakan salah satu Pahlawan Nasional, lahir di Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1868. Nama kecilnya yakni Muhammad Darwis, dan merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara.

Ia dilahirkan dari kedua orang tua yang dikenal sangat alim, yaitu KH. Abu Bakar (Imam Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri H. Ibrahim, Hoofd Penghulu Yogyakarta).

Menurut Kutojo dan Safwan (2010), Ahmad Dahlan yang tak lain pendiri organisasi massa (ormas) Islam Muhammadiyah juga dikenal sebagai keturunan ke-12 dari Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik).

Silsilahnya yakni Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana ‘Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah, (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig, Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH Abu Bakar dan Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan).

Sejak kecil, Muhammad Darwis sudah dididik dalam lingkungan pesantren. Keluarganya bahkan menempatkan pesantren sekaligus sebagai tempatnya untuk menimba pengetahuan agama dan bahasa-bahasa Arab.

Haji dan Berguru ke Tanah Suci

Pada usia 15 tahun, Ahmad Dahlan pergi Mekah dan menetap di sana selama lima tahun. Di usianya yang masih muda ini, Darwis berguru pada pemikir-pemikir besar Islam seperti Ibnu Taimiyah, Al Afghani, Rasyid Ridha, dan Muhammad Abduh.

Lima tahun di jazirah Arab, Darwis akhirnya kembali ke kampung halamannya pada tahun 1888. Darwis, kemudian berganti nama menjadi Ahmad Dahlan, atau KH Ahmad Dahlan.

Jiwa dan pemikirannya Kiai Dahlan penuh disemangati oleh aliran-aliran pembaharuan. Hal itu pula kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Pendirian ormas itu bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman). Terlebih di sebagian besar dunia Islam saat itu masih banyak yang bersifat ortodoks (kolot).

Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam; kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadis.

Pada tahun 1903 ia bertolak kembali ke Mekah dan berguru kepada Syekh Ahmad Khatib bersama pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari. Sepulangnya dari Mekah KH Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan juga pendiri Aisyiyah.

Disamping itu KH Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, Nyai Rum (Krapyak), Nyai Aisyah dan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.

Mendirikan Muhammadiyah

Pada tahun 1912 KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah atas saran anggota organisasi Boedi Oetomo saat ia mengajar di sana pada tahun 1909. Organisasi itu bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi itu pula, Dahlan berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat.

KH Ahmad Dahlan mengajarkan kitab suci Al-Qur’an dengan terjemah dan tafsir agar masyarakat tidak hanya pandai membaca atau melagukan Al-Qur’an semata, namun juga dapat memahami makna dan isinya. Di samping itu, Dahlan juga memurnikan agama Islam dari percampuran ajaran agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen.

Muhammadiyah juga terkenal luas sebagai organisasi beraliran Tajdid atau “Pembaharuan”. Beragam Predikat yang sepadan dengan gerakan pembaharuan ini banyak disamakan para ahli dengan gerakan kebangkitan Islam yaitu The Revival of Islam al- Shawa al- Islamy, al- ba’ats al- Islamy.

Sementara Abu Bakar Atjeh menyebutnya sebagai gerakan kembali pada ajaran Salaf (Muhyi Atsari al- Salaf). Begitupun dengan pakar sosial Eropa sekelas C. Geerzt, George Kahin, dan Robert van Neil. Mereka mengelompokkan Muhammadiyah ke dalam gerakan sosio kultural. Pada hakikatnya gerakan Muhammadiyah berangkat dari semangat Tajdid atau Pembaharuan.

KH Ahmad Dahlan wafat pada tanggal 23 Februari 1923 di usianya yang ke 54 tahun. Beliau wafat di Yogyakarta dan dimakamkan di kampung Karang Kajen, Brontokusuman, di wilayah bernama Mergangsan, Yogyakarta.

Atas jasa-jasanya terhadap bangsa Indonesia, KH Ahmad Dahlan dianugerahi gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional yang tertuang dalam SK Presiden RI No.657 tahun 1961, Tanggal 27 Desember 1961. (*)

Related Articles

Back to top button