Teknologi

Ketika Pedagang Pasar ‘Melek’ Digital

Dimas A. Rizal | Analis Pasar Digital

Para pedagang harus melakukan lompatan besar, untuk tetap survive

ENERGIBANGSA.ID – Pasar tradisional memang salah satu tempat terjadinya transaksi paling besar saat ini. Bagaimana tidak, pada 2019 saja jumlah pasar di Indonesia mencapai 14.182 unit (BPS, 2019). Sayangnya keberlangsungan transaksi ekonomi menjadi terseok-seok di tengah ‘iklim’ pandemi Covid-19 saat ini.

Ilustrasi pedagang memperlihatkan scan barcode produk digital. Sumber: istimewa

Masyarakat dan sebagian pedagang disebut banyak pihak, masih kurang menaati protokol kesehatan, sehingga ketika ada pedagang yang terindikasi virus pasar tersebut ditutup. Imbasnya, para pedagang kehilangan sumber pemasukan utamanya. Pasar sepi transaksi.

Fakta itu juga disebabkan para pedagang yang kebanyakan mengandalkan transaksi penjualan secara offline, yaitu dengan bertemu langsung dengan pembeli. Di sisi lain, masyarakat sedang menjauhi keramaian pasar dimana di situlah pusat bertemunya pedagang dan pembeli secara nyata. Bertatap muka, dan bertransaksi.

Pedagang Melek Digital ?

Fakta tersebut menjadi berbeda, apabila pedagang pasar tradisional beserta ekosistemnya sudah mulai melek digital. Transaksi mereka sudah menggunakam dompet digital. Pedagang dan pembeli juga tak perlu lagi harus bersentuhan, berhimpitan ketika sedang melakukan transaksi di pasar tradisional. Apalagi, uang kertas disebut sebagai salah satu media penyebaran Covid-19.

Apabila para pedagang sudah beralih menggunakan dompet digital, maka proses transaksi cukup dilakukan hanya menggunakan scan barcode. Hasilnya pun menjadi lebih efektif serta efisien. Uang yang digunakan sebagai sarana transaksi pun otomatis terkirim ke pemilik akun.

Bertransaksi secara digital secara tidak lamgsung juga memberi arti bahwa kita telah turut serta dalam mengurangi penyebaran uang di Indonesia; sehingga mengurangi dampak inflasi. Penyebaran virus juga menjadi terkendali, sehingga transaksi tetap terjaga dan aman.

Formula “Pay Later”

Dewasa ini, fintech juga sudah sangat berkembang cukup pesat. Dalam bertransaksi, seseorang bahkan bisa “meminjam uang” terlebih dahulu untuk membeli barang dengan memanfaatkan firur ‘pay later’ (bayar nanti).

Saat ini juga telah banyak fintech yang menawarkan segala kemudahannya dalam melakukan pinjaman. Apabila hal ini menjadi kenyataan, maka para pedagang tak lagi repot menunggu balik modal dan baru kembali ‘kulakan” dagangan.

Di tengah arus digital yang tak terhindarkan, para pedagang dan pembeli pun tak perlu khawatir jika pasar ditutup. Hal ini disebabkan banyaknya tersedia platform marketplace yang telah menjamur serta berlomba-lomba menjadi yang terbaik.

Tidak ada alasan bagi para pedagang kehilangan penghasilan apabila pasar yang biasanya digunakan untuk membuka lapak tiba-tiba ditutup. Hanya dengan smartphone (telepon pintar) saja para pedagang bisa berjualan dimana saja, target pembeli siapa saja dan dari mana saja.

Pedagang pasar tradisional patut sadar dan harus terus belajar, mengejar ketinggalan teknologi. Sebab, kecanggihan teknologi sudah banyak dirasakan sangat membantu kehidupan, terutama di bidang jual-beli yang dilakukan secara online.

Indonesia yang memiliki pangsa pasar sangat besar sangat berpotensi untuk dilakukan program digitalisasi pasar secara besar-besaran. Para pedagang harus melakukan sebuah lompatan besar; “berjuang” beberapa bulan saja untuk memahami digital. Namun memiliki visi untuk tetap survive di dunia pasar milenial.

Kita patut mengusung motivasi diri; bahwa sesungguhnya tidak ada orang yang gaptek, yang ada hanyalah orang yang malas belajar teknologi. Jadi, mari kita sukseskan “Indonesia go Digital” (*)

Related Articles

Back to top button