Kabar IndonesiaKita IndonesiaNasional

Keren! Selain Obat Kanker, Ini Penelitian Anak Muda Indonesia yang Bermanfaat Bagi Sekitar

ENERGIBANGSA.ID – Siapa yang tak tahu tentang kabar ditemukannya obat munjarab untuk penyembuhan penyakit kanker payudara oleh tiga siswa asal SMA N 2 Palangkaraya Kalimantan Tengah?.

Tentunya sobat energi sudah pada mengetahuinya bukan. Kabar ini seketika menarik perhatian masyarakat dan menjadi buah bibir seantero negeri.

Namun tahukan sobat energi ternyata tidak hanya tiga siswa itu saja yang berhasil menemukan atau membuat suatu penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat Bumi Nusantara.

Dari kabar atau peristiwa tersebut telah membukakan cakrawala kita tentang penelitian-penelitian yang ditemukan dan diciptakan oleh anak-anak muda Indonesia.

Dan ternyata sebelum mereka ada beberapa anak muda di Indonesia juga mencatatkan prestasi sama. Mereka menghasilkan penelitian yang  bermanfaat untuk masyarakat.

Dan berikut adalah 7 hasil penelitian yang lahir dari tangan anak-anak muda di Tanah Air sebagaimana tim energibangsa.id mengutipnya dari berbagai sumber :

1. Ubah Kebisingan menjadi Tenaga Listrik

Tiga mahasiswa Universitas Diponegoro ( Undip) Semarang menciptakan alat yang dapat mengubah kebisingan menjadi sesuatu bermanfaat.

Ketiga mahasiswa itu ialah Rifki Rokhanudin, Ragil Adi Nugroho, dan Yudha Cindy Pratama. Mereka membuat penemuan alat mengonversi kebisingan di bandara menjadi energi listrik dan diberi nama Sound Energy Harvesting (Sinting). Ketiga mahasiswa tersebut membutuhkan waktu lebih kurang tiga bulan merancang Sinting.

Seperti dipublikasikan laman resmi Undip, Kamis (17/7/2019), alat tersebut dirancang menggunakan prinsip kerja induksi elektromagnetik, seperti yang diterapkan dalam mikrofon.

Namun, mikrofon hanya mampu menghasilkan arus sangat kecil. Sementara Sinting dirancang dengan mengikutsertakan teknologi tambahan sehingga arus listrik dihasilkan bisa lebih kuat.

2. Mi instan atasi PMS dan Pendorong ASI

Lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menemukan cara untuk mengatasi rasa sakit saat sedang menstruasi dan mengatasi masalah ibu menyusui yang kurangnya produksi air susu ibu (ASI). Mereka menciptakan terobosan berupa mi instan yang terbuat dari torbangun (Coleus amboinicus L).

Kelima mahasiswa itu terdiri dari Ipik Julpikar, Rahmatun Nisful Maghfiroh, Alifian Gigih Pangestu, Hendriani Wijayanti, dan Iffah Nabilah.

“Kandungan lactagogum pada tanaman torbangun dapat meringankan nyeri haid dan meningkatkan produksi susu pada wanita. Namun, torbangun itu rasanya pahit jika dimakan langsung atau setelah direbus. Jadi, kami memproses torbangun menjadi mi instan karena akan lebih mudah dibuat,” ucap Rahma, seperti dipublikasikan di laman resmi IPB, Rabu (7/8/2019).

Ada beberapa variasi rasa yang tersedia, yakni rasa soto, ayam bawang putih, dan kari. Produk itu dijual dengan harga Rp 7.000 untuk satu kemasan, dan bisa dibeli melalui akun Instagram @torbos_noodle.

3. Sunny Side Box, Kotak Bekal Bertenaga Surya

Tujuh mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) angkatan 2014 menciptakan terobosan baru berupa kotak bekal yang mampu menghangatkan makanan dengan memanfaatkan tenaga surya.

Inovasi kotak yang diberi nama Sunny Side Box ini muncul karena banyak orang mengeluh makanan yang dijadikan bekal untuk bepergian mengalami perubahan rasa, aroma, dan kualitas.

Pemanfaatan tenaga surya itu dapat dilakukan karena terdapat peltier pemanas yang menggunakan sumber energi alternatif berupa panel surya.

Sunny side box menggunakan baterai yang mempunyai dua cara dalam memanen energi listrik, yaitu menggunakan pengisi baterai berkabel dan panel surya yang mampu menghangatkan makanan sampai enam jam selama dinyalakan.

Inovasi tersebut berhasil membuat tim UI mendapatkan penghargaan medali perak kategori Lingkungan Hidup dalam ajang International Science and Invention Fair 2019 pada 21-25 Juni 2019 di Denpasar, Bali.

4. Kembangkan ‘Nanobubble’ Untuk Reactor Nuklir

Tiga mahasiswa Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran ( Unpad) mengembangkan sistem pendingin pasif pada reaktor nuklir.

Intan Farwati, Try Hutomo, dan Rosaldi Pratama melakukan penelitian tersebut bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional ( Batan) melalui pengembangan sistem pendingin dengan memanfaatkan material gelembung berisi gas dengan berukuran nano. Material ini disebut sebagai nanobubble.

Try Hutomo mengatakan penelitian ini berawal saat dia magang di Batan selama satu bulan. Setelah mengenal alat pendingin itu, dia berpikir untuk menggabungkan riset bersama dosennya dan peneliti dari Batan.

“Akhirnya saya bersama dosen saya Prof Made dan Dr Cukup berdiskusi bersama peneliti Batan Dr Mulya Juarsa untuk meneliti lebih lanjut karena melihat kemampuan nanobubble dapat menahan panas dan membuat massa jenis ringan,” kata Try saat dihubungi Kompas.com, Senin (15/7/2019).

Dia menuturkan, tujuan dari penelitian ini untuk melihat karakteristik panas dari nanobubble di dalam alat sistem pendingin pasif. Karakteristik itu mulai dari kapasitas menahan panas, massa jenis, dan kecepatan alirannya.

5. Robot Pendeteksi Gempa

Tiga mahasiswa Program Studi Tekhnik Mesin Unika Atma Jaya, Yosua Kurniawan, Ferdinand Edlim, dan Febrian Andika mengembangkan robot pendeteksi gempa sejak awal tahun 2018.

Robot pendeteksi gempa tersebut dilengkapi teknologi hybrid sehingga mampu bergerak dengan roda dan berjalan dengan kaki.

Hal ini juga membuat robot pendeteksi gempa dapat digunakan dalam lingkungan industri maupun lingkungan alam seperti goa, tanah, dan jalan berbatu.

“Produk ini merupakan prototype yang masih akan kami kembangkan. Masih banyak hal yang harus dicoba seperti pengaplikasian feedback control, image recognition, GPS, serta proses pembuatan produk yang lebih dapat diandalkan,” jelas Christiand pembimbing Prodi Teknik Mesin Unika Atma Jaya.

Penelitian ini telah menghabiskan biaya Rp 15 juta belum termasuk penggunaan listrik, air, dan bensin. Harapannya, robot ini akan berguna untuk memberikan peringatan dini gempa bumi di Indonesia

6. Ubah Limbah Jelantah Menjadi Krayon Warna

Empat mahasiswa Universitas Diponegoro ( Undip) Semarang berhasil melakukan inovasi mengubah limbah jelantah menjadi pensil krayon dengan nilai jual tinggi.

Keempatnya adalah Inas Zahra (21) dan Khoirunnisa Nur Aini Putri (21) yang merupakan mahasiswa Akutnansi Undip. Kemudian Lutfia Cahyaningrum (20) mahasiswi jurusan Kimia murni dan Azizah Fatma (21) mahasiswi Ekonomi Syariah.

“Saya dan Fatma satu organisasi PKM, kita sering ngasih seminar tentang PKM tapi kita belum nyoba, akhirnya kita nyoba ikut PKM sendiri dan kebetulan proposal kita lolos,” ucap Inas, Kamis (27/6/2019).

Untuk ide crayon jelantah sendiri merupakan ide dari Inas. Awalnya, dia bingung saat diminta ibunya membuang minyak sisa jelantah. Inas bersama ketiga temannya kemudian mencoba memproduksi krayon dari jelantah yang diberi nama Oicora di rumahnya. Bahan minyak jelantah didapat dari teman-teman kuliahnya, yang mereka tukar dengan permen atau coklat.

7. Beras Analog Melawan Malnutrisi

Inovasi berjudul Greenola (Green Rice Analog), karya mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) sukses meraih medali emas dalam event Korean International Woman Infention and Exposition (KIWIE) 2019.

Event tersebut berlangsung selama empat hari Kamis-Minggu, 20-23 Juni 2019 di Hall 9B, Exhibition Center 2, Korea International Exhibition Center (KINTEX), Seoul, Korea Selatan.

Mahasiswa yang terlibat langsung dalam inovasi tersebut yakni Zelviana Putri, Faudina Nurin Nisa, Nanda Triachdiani, Maharani Dewi Utami, dan Nur Aisya Indiani dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB.

Aisya mengatakan, inovasi tersebut berawal dari tingginya konsumsi beras di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.

Beras analog itu terdiri dari tepung tapioka, sorghum serta ekstrak daun kelor. Tapioka mengandung 94,74 persen karbohidrat, 1,63 persen lemak, 1,71 persen protein dan 17,338 persen air.

Sedangkan tepung sorghum mengandung 79,08 persen karbohidrat, 5,27 persen lemak, 13,51 persen protein serta 9,94 persen air. Sementara ekstrak daun kelor mengandung 27,1 gram protein, 1324 miligram potassium, 2003 miligram kalsium dan 28,2 gram zat besi serta ampuh melawan malnutrisi.

Kombinasi tapioka, sorghum, dan ekstrak daun kelor yang kaya zat gizi tersebut mampu menghasilkan beras dengan kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibanding beras konvensional sehingga ampuh melawan malnutrisi.

Nah demikianlah sobat energi beberapa daftar anak muda Indonesia yang mampu membuat atau menciptakan suatu penelitian yang berguna untuk masyarakat. Keren ya, semoga bisa menjadi inspirasi bagi sobat energi dan anak-anak muda diluar sana untuk menciptakan atau menemukan hal baru yang berguna bagi masyarakat Indonesia.

Related Articles

Back to top button