fbpx
Nasional

“Keren!!” Remaja 16 Tahun Sudah Bisa Meretas Data Kejaksaan Agung

ENERGIBANGSA.ID—Remaja berinisial MFW berusia 16 tahun berhasil meretas data milik Kejaksaan Agung (Kejagung). Kabarnya, data itu diperjualbelikan di situs daring.

MFW ditangkap di Lahat, Sumatera Selatan. Namun, saat ini ia tidak ditahan Kejagung lantaran masih di bawah umur.

Kegiatan peretasan data baik milik orang  atau lembaga tertentu memang tak bisa dibenarkan. Namun artikel ini mengungkap sisi lain dari kegiatan pelanggaran hukum (UU ITE).

Mengapa demikian? Dalam hal ini, yang melakukan peretasan data Kejagung adalah seorang remaja di bawah umur. Usianya baru 16 tahun, dan ia telah mampu melakukan peretasan.

Hacker cilik!

MFW dapat diketagorikan sebagai ‘hacker cilik’ yang potensinya dapat diberdayakan untuk kepentingan negara.

Memang orang tua menjadi kunci utama pengawasan pada sang anak. Tujuannya, agar kemampuan ‘hacker’-nya tak digunakan untuk kegiatan negatif lainnya.

Namun pemerintah bisa pula memberikan pembinaan khusus terhadap MFW, serta lainnya. Yang tentunya mereka memiliki kemampuan khusus seperti peretasan data.

Tak ditahan, Ini Alasannya!

Kini, MFW tak ditahan atau diproses hukum karena tergolong anak-anak di bawah umur. Hal itu diungkapkan oleh Kapuspenkum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak dalam jumpa pers di gedung Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (19/2/2021), seperti dikutip dari detikcom.

“Bapak Jaksa Agung RI memberikan kebijakan kepada MFW untuk saat ini tidak dilakukan proses hukum dengan mempertimbangkan. Yang pertama, MFW saat ini masih muda dan berusia 16 tahun dan masih sekolah di daerah Palembang,” kata Leonard.

Ia juga menerangkan MFW telah berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Bahkan, orang tua MFW juga telah membuat surat pernyataan akan lebih mengontrol anaknya sehingga kasus peretasan itu tidak terjadi lagi.

“MFW telah berjanji dengan membuat surat pernyataan tidak mengulangi lagi perbuatannya”, ucapnya.

“Dan orang tua yang bersangkutan ada di sebelah kiri kami, juga telah membuat surat pernyataan yang secara langsung akan mendidik, mengontrol anak yang bersangkutan untuk tidak melakukan perbuatan peretasan sebagaimana yang terjadi,” terangnya.

Pengakuan Orang tua

Sementara itu, orang tua MFW, Edi, mengakui kurang melakukan pengawasan terhadap anaknya. Edi pun menyampaikan permohonan maaf kepada Kejagung.

“Oleh karena itulah kami dengan anak saya ini datang dengan tanpa ada paksaan juga kebetulan juga layanan di Kejagung ini bukan main, memang saya akui anak saya itu salah. Anak saya itu masih di bawah umur dan saya juga mengakui kurang pengawasan,” jelas orang tua MFW, Edi. (*)

Related Articles

Back to top button