fbpx
Ekonomi & Bisnis

Keren, Inilah 5 Produk RI yang Tetap Jaya di Masa Pandemi

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Isu resesi kian sering terdengar di Indonesia akhir-akhir ini. Mulai dari pandemi Covid-19 hingga perang dagang AS-China memicu sektor bisnis Indonesia mengalami krisis.

Tapi tak disangka, Indonesia memiliki sejumlah bisnis yang mampu bertahan dari semua masalah. Disebutkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Muhammad Lutfi, bahkan, sebagian sektor terus mencatatkan pertumbuhan di tengah banyaknya tantangan yang ada, kata Lutfi kepada CNBC Indonesia, Rabu (23/9).

“Jadi ada lima produk utama Indonesia yang sebenarnya sekarang bisa bersaing terutama karena terjadi perang dagang antara China dan Amerika Serikat,” katanya.

Produk pertama adalah barang TPT atau tekstil dan produk tekstil. Kemudian alas kaki atau industri sepatu, dan ketiga adalah produk elektronika.

Sementara yang keempat adalah bahan berbasiskan karet dan kelima adalah barang-barang furniture yang berbasiskan kayu.

“Ini sekarang mempunyai pertumbuhan yang lumayan baik di dalam dua tahun terakhir. Sustain,” jelasnya.

Untuk menopang sektor-sektor itu serta perdagangan dan investasi secara keseluruhan ke depannya, Lutfi mengatakan Indonesia terus mengupayakan peningkatan perdagangan dengan berbagai negara, utamanya Amerika Serikat.

Salah satu upaya untuk mewujudkan itu adalah dengan mencoba menyelesaikan Generalized System of Preferences (GSP) antar kedua negara.

“Jadi tentunya Generalized System of Preferences daripada perdagangan Indonesia-AS ini, fasilitas ini merupakan yang utama bagi Indonesia untuk tetap diberlangsungkan dan diperpanjang. Sebab, seperti kita ketahui, banyak negara-negara mitra GSP seperti India sudah dicabut. Thailand sebagian sudah dicabut dan kita dalam proses review, dan kita masuk di dalam daripada negara-negara yang dianggap mampu untuk memperbaiki daripada iklim perdagangannya di man kedua belah negara dapat mendapatkan keuntungan dari fasilitas tersebut,” jelasnya.

“Yang kedua, kita juga ingin memulai setidaknya terobosan baru dalam perdagangan dunia, yang dewasa ini agak sedikit sulit karena keputusan-keputusan multilateral berkurang, yaitu dengan cara memulai pembicaraan yang disebut dengan Limited Trade Agreement atau Limited Trade Deal.” (Sasa/EB/cnbc).

Related Articles

Back to top button