fbpx
Inspirasi Bangsa

Keren, Dewi Sulap Limbah Jadi Disinfektan

ENERGIBANGSA.ID (Padang) – Sampah dapur yang selama ini sering dibuang begitu saja, ditangan Pegiat Bank Sampah Pancadaya, Kecamatan Kuranji, Padang, menjadi sebuah disinfektan alami dengan cara mengolah sampah dapur organik yang masih segar.

Cairan disinfektan ini dapat digunakan sebagai cairan pembersih, dan diakui mampu membunuh bakteri dan jamur.

Mina Dewi , Direktur Bank Sampah Pancadayana, menuturkan selain pengolahan sampah plastik, pihaknya  juga berusaha mempelajari inovasi baru dan membuat olahan sampah organik berupa eco enzyme.

Eco enzyme merupakan hasil fermentasi dari limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran yang dicampurkan dengan gula merah, kemudian didiamkan dalam air kurang lebih selama tiga bulan.

 Ia mengatakan bahwa saat ini masih banyak masyarakat yang membuang begitu saja limbah organik. Padahal menurutnya sampah organik juga memiliki banyak manfaat jika mampu mengolahnya dengan baik.

“Salah satunya berupa eco enzyme ini. Pembuatannya yang praktis dan memiliki banyak manfaat untuk kita,” kata dia dikutip dari republika.com

Proses pembuatan eco enzyme sendiri terbilang sangat mudah. Bahan-bahan yang dibutuhkan pun dapat  di jumpai di sekitar lingkungan seperti 10 liter air, 1 kilogram gula merah, dan 3 kilogram sampah sayuran.

Namun sampah sayuran yang digunakan harus sampah segar bukan sampah yang sudah dimasak sebelumnya.

“Pengolahannya menggunakan wadah yang tertutup. Namun harus diberikan sedikit rongga untuk melepaskan gas yang dikeluarkan dari hasil fermentasi tersebut,” terang Dewi.

Hasil fermentasi itu akan mengeluarkan bau yang wangi. Kemudian bau yang muncul berdasarkan daun yang lebih dominan.

Kemudian getah putih yang dikeluarkan pada saat fermentasi juga bermanfaat untuk membersihkan flek hitam pada wajah. Namun menunggu tiga bulan agar bisa dipakai menggunakan kapas.

Dewi menyebutkan untuk membuat eco enzyme selain sampah organik bisa juga menggunakan daun bunga, daun pohon, dan yang lainnya.

ia mengaku untuk pembuatan eco enzyme sendiri hanya belajar autodidaktik. Selain itu ia juga belajar melalui grup sosial media eko enzyme Indonesia di Facebook.

“Di sana kami ikut berbagi ilmu. Di dalam group tersebut juga terdapat para pakar eco enzyme,” ujar dia.

Sebagai penggiat bank sampah Dewi terus belajar lebih banyak lagi terhadap pengelolaan sampah agar bisa dikembangkan ke masyarakat nantinya. Apalagi sampai saat ini solusi mengenai persoalan sampah masih belum ditemukan.

“Kami akan berusaha untuk melakukan inovasi yang sesuai selera masyarakat. Pengolahan eco enzyme ini ke depannya akan terus dikembangkan,” kata dia.

Sebelumnya ia telah melakukan banyak hal untuk menyadarkan masyarakat agar peduli dengan sampah. Di antaranya mengolah sampah plastik menjadi suvenir yang bernilai jual dan mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.

Tidak hanya itu, berdasarkan informasi yang didapat tim energibangsa.id, Dewi juga membuat program menabung sampah menjadi emas yang merupakan hasil kerja sama dengan pegadaian.

Semenjak itu kepedulian masyarakat setempat terhadap sampah mulai meningkat. Hal itu terlihat pada jumlah nasabah yang terus meningkat hingga mencapai 600 ribu orang dan diperkirakan akan bertambah menjadi 1000 orang. [tata/EB]

Related Articles

Back to top button