fbpx
EssaiPojok Bangsa

Kepedulian Pemerintah China dalam Pelayanan Haji Umat Muslim Tiongkok

Oleh : Imron Rosyadi Hamid

Sebelum membahas Islam dan Tiongkok lebih dalam, saya meyakini bahwa akan lebih fair jika kita yang pernah haji atau umroh antara Tahun 2016-2018 mau sedikit berbagi cerita, tentang pengalaman bertemu jamaah haji asal China atau Tiongkok di Tanah Suci Mekkah dan Madinah kepada saudara-saudara Muslim di tanah air agar mereka paham bahwa ada banyak Muslim di China.

Tahun 2016 saja ada 14.500 jamaah Tiongkok yang menunaikan Ibadah haji. Musim haji Tahun 2018 kemarin kebetulan saya sering bertemu dengan jamaah haji asal Tiongkok yang cukup banyak dan rapi, mereka berseragam rompi berwarna biru lengkap dengan emblem bendera China.

Pemandangan seperti itu belum pernah saya lihat di edisi haji bangsa China sebelum-sebelumnya. Hal ini sangat mungkin berkaitan dengan implementasi Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pemerintah Tiongkok 2016-2020 tentang Perbaikan pelayanan Ibadah Haji oleh China.

Berikut saya kutip petikan “National Action Plan Human Rights 2016-2020 Tiongkok” yang secara eksplisit berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan dalam pelayanan haji.

National Human Rights Action Plan of China (2016-2020)

Freedom of religious belief

Rule of law shall be enhanced in addressing religious affairs, and the stipulation in the Constitution concerning freedom of religious belief shall be implemented.

Amending the Regulations on Religious Affairs, regularizing in accordance with the law the conduct of the government in managing religious affairs, and protecting the lawful rights and interests of religious believers.

Supporting the efforts of the religious circles for self-improvement to enhance their capabilities for self-regulation, self-discipline and self-management. Necessary support and assistance shall be provided for religious groups to hold activities.

Encouraging religious circles to organize charity activities in accordance with the law.

Making efforts to run the religious institutes well, improving the training of religious professionals, and improving the qualities of faculty and staff of the religious institutes.

Halting investments in and commercial use of venues for religious activities, and prohibiting the “contracting” of Buddhist monasteries and Taoist temples.

Improving organization and services for the Islamic Hajj.

Actively engaging in religious exchanges with the outside world.

Dari nukilan di atas sudah bisa dipahami bahwa muslim di China tidak ditekan oleh Pemerintah, bahkan Pemerintah China justru memberikan kepedulian dengan membuat ‘action plan‘ untuk perbaikan layanan haji dari tahun ke tahun. Jadi masih berfikir muslim di China ditindas? Ayo, bangsa Indonesia jangan mudah termakan hoax. Wallahu a’lam.

*Rois Syuriyah PCINU Tiongkok, Kandidat PhD Hubungan Internasional Jilin University Tiongkok

Related Articles

Back to top button