Ragam Bangsa

Kenapa Soeharto Tidak Diculik PKI? (2)

ENERGIBANGSA.ID – Sebagian dari kita tentu tahu kalau semua perwira TNI AD yang menjadi korban dalam G30S adalah mereka yang menolak proposal yang diajukan PKI mengenai Angkatan ke-V.

Sebagai informasi, memang benar bila tempat tinggal mereka saling berdekatan yaitu didaerah Menteng.

Tapi harus diingat bahwa mereka yang menjadi korban adalah para petinggi di Markas Besar AD.

Korban-Korban G30S

Jenderal AH Nasution merupakan Menko Pangab namun jabatannya hanya jabatan struktural.

Jenderal Ahmad Yani merupakan Menpangad/KASAD yang merupakan pucuk pimpinan tertinggi di TNI AD.

Sutoyo, S Parman, Suprapto, DI Panjaitan, MT Haryono merupakan deputi ataupun Asisten Menpangad yang berkedudukan di Markas Besar TNI AD.

Ke 7 perwira TNI AD yang menjadi target penindakan Letkol Untung adalah petinggi TNI AD yang membuat keputusan dan kebijakan di tubuh TNI AD.

Jabatan Soeharto Kala Itu

Soeharto yang ketika itu menjabat sebagai Pangkostrad (Panglima Komando Strategi Angkatan Darat) bukanlah bagian dari Mabes AD yang dapat memberi keputusan.

Atau dengan kata lain, Soeharto hanyalah bagian dari mereka yang menjalankan keputusan yang diambil Mabes AD.

Posisi Soeharto sama seperti posisi Pangdam Jaya atau DanRPKAD yang merupakan perwira pasukan yang siap menjalankan kebijakan para petinggi di Mabes TNI AD.

Tunduk Perintah Atasan

Sebagai Pangkostrad, Soeharto selalu siap menjalankan setiap perintah yang dikeluarkan Mabes AD. Itulah yang menjadi alasan kalau Soeharto bukanlah orang penting yang pantas dijadikan target operasi. 

Sikap Soeharto yang selalu loyal dan patuh kepada atasan membuat Suharto tidak termasuk dalam target operasi penculikan.

Soeharto tidak pernah mengeluarkan statement yang berseberangan dengan Panglima Tertinggi ABRI.

Soeharto tidak pernah membangkang atau menolak setiap kebijakan yang diambil Panglima Tertinggi ABRI.

Mereka menganggap Soeharto akan loyal dan patuh kepada pimpinan tertinggi Panglima Tertinggi ABRI.

Fitnah Pada Soeharto

Mereka yang memfitnah Soeharto juga mengarang cerita tentang pasukan dari Kodam Diponegoro dan Kodam Brawijaya yang dikirim ke Jakarta dengan dalih untuk memperingati hari ABRI pada tanggal 5 Oktober 1965.

Mereka justru memanfaatkan jabatan Soeharto yang pernah menjabat sebagai Pangdam Diponegoro ditahun 1959 lalu.

Oke, mari kita bahas posisi Soeharto sebagai Pangkostrad kala itu dengan kehadiran pasukan dari Kodam Diponegoro dan Kodam Brawijaya.

Dengan jabatan sebagai Pangkostrad kala itu, apakah mungkin Suharto mampu memerintahkan pengiriman pasukan dari Komando Teritory yang notabene bukanlah bagian dari pasukan Kostrad?

Para simpatisan PKI memanfaatkan posisi Soeharto yang pernah menjadi Pangdam Diponegoro lalu mengarang cerita seolah-olah Soeharto masih memiliki wewenang untuk menggerakan pasukan dari Kodam Diponegoro dan pasukan dari Kodam Brawijaya.

Seperti diketahui, Mayjen Pranoto juga pernah menjabat sebagai Pangdam Diponegoro dan beliau terbukti terlibat langsung dalam operasi penculikan ke 7 perwira TNI AD sesuai dengan pengakuan Letkol Untung dipersidangan.

Kedua pasukan ini menjadi bagian dari operasi penculikan dan pembantaian ke 7 perwira TNI AD dan kedua pasukan ini ditumpas habis dalam operasi militer yang dilakukan oleh pasukan RPKAD pimpinan Kolonel Sarwo Edhie.

Harus diingat, apakah bila tempat tinggal mereka saling berdekatan lalu salah satu dari mereka yang luput dari target harus dituduh sebagai pelakunya?

Atau, apakah bila Soeharto pernah menjabat Pangdam Diponegoro lalu secara otomatis beliau terlibat atau dituduh sebagai pelaku bila pasukan dari bekas pimpinnnya bersalah?

Bila memang itu yang dijadikan acuan maka bisa saja seluruh Pati yang tinggal disekitar Menteng dituduh sebagai dalang peristiwa G30S/PKI, atau sekalian seluruh mantan Pangdam Diponegoro dituduh sebagai dalangnya juga.

Namun, apakah Anda percaya dengan narasi di atas? terlepas dengan narasi di atas, fakta dari berbagai sumber buku sejarah yang diulas Kompas.com terbukti bahwa kesaksian Soeharto selalu berubah-ubah.

Sampai saat ini G30S masih menjadi misteri, dan film G30SPKI yang di jaman orde baru selalu dinarasikan sebagai pengkultusan Soeharto sebagai pahlawan bisa jadi adalah sebuah pembelokan sejarah bangsa, tapi siapa tahu yang sebenarnya? Wallahu A’lam (yab/EB)

Related Articles

Back to top button