Essai

Kenapa Lulusan Sarjana Pendidikan Males Menjadi Guru?

oleh: Ary Senpai*

Terjun di dunia pendidikan engga harus menjadi guru

ENERGIBANGSA.ID – Mengapa para sarjana pendidikan males jadi guru? Mengapa bisa seperti itu? Apakah menjadi guru itu mengerikan?

Sebenarnya sudah lama sekali mau nulis tentang mengapa sarjana pendidikan malas jadi guru, tapi karena jadwal padat, syuting, dan banyak rasan-rasan tiap hari jadinya baru bisa nulis tentang hal tersebut.

Ilustrasi pendidikan di sekolah. Dok: istimewa

Masalah temen-temen mau jadi guru atau enggak ya terserah aja sih menurut gue. Yang saya bahas disini adalah tentang sebab mengapa sarjana pendidikan enggak mau jadi guru, ini berdasarkan saya tanya ke temen, berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya lho ya.

Nah, berdasarkan apa yang saya amati, baik tanya-tanya ke temen-temen guru atau berdasarkan pengalaman, berikut adalah beberapa sebab sarjana pendidikan males jadi guru, alias kerja enggak ngajar.

(1) Gaji yang enggak layak

Nah ini biasanya dirasakan bagi temen-temen guru khususnya honorer (kayak gue kali yah? Huahahahahahaha). Yah memang secara umum sih menurut saya pribadi kurang layak, walau dimotivasi apapun memang kurang layak, walau ada orang sok bijak berkata “Jadi guru harus ikhlas, mengabdi, kalau mau kaya ya jangan jadi guru”, tetep gue berpendapat gaji guru secara umum itu enggak layak.

Dari ngajar, bikin RPP, ada kasus siswa di sekolahan, ada temen guru yang suka ngerecokin, hingga membangun citra sekolah juga enggak mudah. Terus terang saja saya bilang “enggak layak”. Tapi bagi mereka yang masih menjadi guru walau enggak layak merupakan sebuah kemuliaan yang keren bagi saya. Kemuliaan dan kebermanfaatan yang semoga saja mampu membawa berkah.

(2) Jadi guru itu enggak mudah

Banyak anak-anak kemarin sore yang baru balik ngajar di pedalaman 3 hari berkata “ngajar adalah jalan hidupku”. Halah coba saja sebulan ngajar masih betah apa tidak?

Menjadi guru yang baik dan bertanggung jawab sama sekali tidak mudah. Ada banyak hal yang harus dipahami guru selain mata pelajaran yang dia ampu; berbagai metode pembelajaran, psikologi, hingga mendampingi siswa itu pun tidak semudah yang kita lihat di Akademi Ninja Konoha.

(3) Tanggung jawab

Menjadi guru butuh tanggung jawab ekstra. Bagi guru yang “waras” mereka akan melakukan upaya apapun agar siswanya berkualitas secara moral dan keterampilan. Namun bagi guru yang “halah penting bayaran to” mereka akan sesuka hati ngajar, yang penting materi selesai. Tanggung jawab guru itu besar banget, bukan hanya tanggung jawab di dunia namun juga di akhirat nanti.

(4) Guru jaman now banyak yang rese

Anggapan banyak guru jaman now yang rese juga mulai menjadi “momok” para sarjana pendidikan yang mempertimbangkan diri terjun jadi guru (beda lagi kalau guru PNS hueheheehe, ya auto sikat lah kalau PNS guru).

Guru rese ini ya guru yang lalai dari tanggung jawab, enggak memberi keterampilan siswa, suka recokin guru lain yang berusaha mengembangkan bakat siswa hingga malah menjadi penjilat agar dapat proyekan dari sekolah (eh ini kok malah curhat gue hehehe).

(5) Sistem pendidikan yang masih perlu diperbarui

Sistem pendidikan yang masih bersifat “akademik” membuat mereka yang ingin terjun menjadi guru berpikir seratus kali. Hingga pada akhirnya banyak dari mereka lulusan pendidikan yang kerja di bank, jadi seniman, jualan kerupuk, jualan roti hingga membuat sekolah sendiri.

(6) Enggak diapresiasi

Banyak yang malas untuk jadi guru karena memang tidak ada apresiasi yang bagus, hanya mereka yang “dekat” dengan atasan saja yang diapresiasi lebih padahal tidak punya karya sama sekali. Dengan pengalaman seperti ini banyak mereka yang semakin malas untuk terjun jadi guru.

Sekali lagi semua itu pilihan, lagian terjun di dunia pendidikan gak harus jadi guru. Bisa kok jadi orangtua yang baik, ngajarin anak-anaknya , bikin homeschooling, jadi relawan pondok dan masih banyak lagi.

Tentunya semoga mereka yang masih berjuang menjadi guru mendapatkan berkah dunia dan akhirat. Semoga bermanfaat tulisan ini. Tabik! (*)

*Penulis, Pegiat Pendidikan Milenial; Salah Satu Author Buku “Sekolah Membunuhmu

Related Articles

Back to top button