Kabar IndonesiaKesehatanRagam Bangsa

Kembangkan Urban Farming di Tengah Pandemi

0
Jenis tanaman yang dikembangkan melalui konsep urban farming di Grobogan. (Sumber: Dinas Pertanian Grobogan)

ENERGIBANGSA.ID (Grobogan) – Siapa yang tak suka pekarangan rumah yang asri dengan aneka tanaman seperti tanaman buah, tanaman obat, sayuran dan tanaman hias. Setelah penat dengan berbagai aktivitas / kesibukan, kita dapat menikmati suasana pekarangan rumah yang hijau.

Urban farming yang berarti bercocok tanam di lingkungan rumah perkotaan dianggap beriringan dengan keinginan masyarakat kota untuk menjalani gaya hidup sehat. Hasil panen dari urban farming lebih menyehatkan lantaran sepenuhnya menerapkan sistem penanaman organik, yang tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintesis.

Tren urban farming kian diminati oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Awalnya, konsep berkebun di lahan terbatas ini hanyalah sebatas inisiasi dari segelintir komunitas pecinta lingkungan yang bergerak secara mandiri.

Urban farming pun berkembang secara masif menjelma menjadi tren gaya hidup urban. Seperti yang dilakukan oleh Christina Setyaningsih menerapkan konsep urban farming, memanfaatkan lahan terbatas di pekarangan rumah dan teras di lantai 2 rumahnya di bilangan Purwodadi untuk bertanam aneka sayuran (22/06/2020).

“sejak lama saya suka berkebun dengan aneka tanaman sayuran, tanaman hias, buah dan tanaman obat keluarga, selain bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral untuk keluarga saya, pengembangan urban farming cukup mudah asalkan ada kemauan,” tuturnya.

Ia menambahkan, urban farming lebih banyak melakukan budidaya tanaman yang bersifat produk volatile yaitu produk pertanian yang mempunyai nilai harga jual fluktuatif, yang artinya harga tertinggi dan terendah dari produk itu sangat tidak stabil, seperti produk sayuran daun, sayuran buat tomat dan cabe serta bawang merah.

Kondisi harga produk yang tidak stabil mempengaruhi kemampuan beli masyarakat berarti mempengaruhi ketersediaan dan kecukupan bahan pangan tersebut untuk masyarakat.

Sementara itu, menurut Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Imam Sudigdo sepakat dengan langkah Christina dalam mengembangan urban farming. Berbagai sistem penanaman urban farming seperti polybag, vertikultur, hidroponik, dan akuaponik dapat dengan mudah diterapkan di area terbatas.

“Para penggiat urban farming menyulap atap rumah mereka menjadi kebun atap, pagar rumah menjadi taman vertikal, dan sebongkah pipa menjadi kebun tanaman hidroponik yang subur,” jelas Imam.

Jika terus dikembangkan tambah Imam, urban farming dapat diproyeksikan untuk mencukupi ketersediaan bahan makanan dan memperkuat ketahanan pangan kota itu sendiri. Pemerintah kota mempunyai andil yang penting dalam menyediakan regulasi khusus untuk mendukung penerapan urban farming, termasuk soal kebijakan hal guna lahan. Selain mendekatkan diri sendiri dengan alam, urban farming juga dapat merekatkan hubungan sosial antara para penggiatnya.

Warga Semarang, apa mau coba jalankan konsep urban farming ? Keren lho, selain mempercantik ruang-ruang halaman rumah kita juga bermanfaat ekonomis. Malah, urban farming juga bagian dari cinta lingkungan. (dd/eb).

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Jateng Gelar Tes PCR dan Rapid untuk Percepatan Penanganan Covid

Previous article

Percepat Penanganan Covid, Jateng Gelar 51.000 Tes PCR dan 80.000 Rapid

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.