fbpx
Dunia

Kematian Pejabat di Tahanan Bisa Jadi Bukti Bahwa Junta Militer Myanmar Memang Kejam!

SEMARANG, energibangsa.id—Seorang pejabat Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), Khin Maung Latt dinyatakan meninggal saat menjadi tahanan junta militer Myanmar.

Pernyataan itu seperti disampaikan CNN Indonesia pada Minggu (7/3/2021) kemarin.

Dikabarkan, Khin merupakan petinggi partai penasihat negara, Aung San Suu Kyi.

Rekan dan seorang pemimpin Partai NLD mencurigai Khin meninggal setelah disiksa selama dalam penahanan junta militer.

Ada luka dan memar

Wakil ketua Partai NLD di Yangon, Khin San Myin mengatakan sebuah foto dari rumah sakit militer tempat Khin meninggal menunjukkan terdapat luka di bagian belakang kepala dan memar di punggunggnya.

Namun dikutip dari Reuters, dokter di Myanmar mengatakan bahwa luka-luka di tubuh Khin bukan penyebab kematian.

Kata dokter, Khin mati akibat kondisi jantung. Padahal, seorang pekerja amal yang menolak disebutkan namanya juga melihat jenazah Khin mengatakan ada luka.

Khin, Ketua DPD Partau NLD

Khin merupakan ketua Partai NLD lokal di Yangon, kota terbesar Myanmar.

Seorang teman mengatakan bahwa ia ditangkap pada Sabtu sekitar pukul 9 malam.

Seorang petugas di kantor polisi distrik Pabedan, Yangon, daerah saat Khin ditangkap pada Sabtu (6/3/2021) menolak mengomentari kabar kematiannya.

Seorang juru bicara tentara (Tatmadaw) Myanmar menolak menjawab panggilan telepon untuk mengomentari kabar tersebut.

Ba Myo Thein, anggota NLD dari majelis tinggi parlemen, yang dibubarkan setelah kudeta, mengatakan temuan laporan luka di kepala dan tubuh Khin menimbulkan kecurigaan bahwa dia telah dianiaya selama dalam penahanan.

“Sepertinya dia ditangkap pada malam hari dan disiksa dengan kejam. Ini sama sekali tidak bisa diterima,” katanya kepada Reuters.

Kekajaman junta militer lainnya

Kelompok advokasi, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengatakan lebih dari 50 pengunjuk rasa telah dibunuh oleh pasukan keamanan.

Lebih dari 17000 orang sejak kudeta 1 Februari hingga saat ini juga telah ditahan oleh militer Myanmar.

Sementara, tentara Myanmar selama ini menolak tuduhan menggunakan kekerasan secara berlebihan terhadap pengunjuk rasa.

Militer Myanmar berdalih mengambil kekuasaan setelah komisi pemilihan umum menolak tuduhan adanya kecurangan dalam pemilu November lalu yang dimenangkan oleh NLD.

Catatan PBB

Sebulan sejak kudeta militer, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 50 orang telah tewas.

Sekitar 38 orang tewas dalam unjuk rasa pada 3 Maret lalu, jumlah korban terbanyak dalam sehari selama kudeta berlangsung.

Utusan Khusus PBB untuk Myanmar, Christine Burgener mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil tindakan dan memulihkan demokrasi di Myanmar. (*)

Related Articles

Back to top button