Opini / Gagasan

Kebiasaan Merokok pada Anak Dimulai Sejak Pandemi, Simak Selengkapnya

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Wabah virus Corona membuat sebagian sektor di negara Indonesia menjadi kacau, khususnya sektor pendidikan. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai diterapkan sejak munculnya pandemi ini. Tak dipungkiri hal tersebut juga membawa dampak negatif pada kenakalan anak, salah satunya adalah merokok. Karena mereka belajar dari rumah, mereka bisa bebas kemana saja pada waktu sekolah berlangsung.

Memang kendala koneksi membuat program PJJ ini tidak berjalan lancar. Akibatnya, anak akan mencari tempat yang menyediakan koneksi WiFi secara gratis, ambil contoh saja warkop. Warkop memang diketahui banyak yang menyediakan WiFi gratis.

Dilansir dari kumparan.com, “Di warkop kan akses internetnya murah dan mudah. Dengan uang lima ribu saja sudah bisa beli minum juga sudah bisa internetan. Nah, dari sini semakin terbuka pula kebiasaan anak-anak merokok,” jelas Direktur Eksekutif Alit Indonesia, Yuliani Umrah, kepada Basra, Selasa (29/9).

Terlihat jelas bahwa kumpulan di warkop punya kebiasaan yang cenderung negatif. Tentu saja itu bisa berimbas pada kebiasaan sang anak yang akan menirunya. 

Dari survei yang dilakukan pada bulan Juni-Juli 2020 tersebut menunjukkan bahwa tempat yang paling banyak digunakan untuk merokok adalah warung kopi.

“Pada saat kondisi pandemi, anak-anak tidak ada kegiatan sekolah tatap muka, sehingga banyak menggunakan WiFi dan belajar online di warung kopi tetapi di sana mereka juga merokok,” ujar Yuli.

Ada beberapa faktor yang membuat anak menjadi perokok. Yang pertama adalah harga rokok yang relatif murah, apalagi sekarang bisa dijual secara eceran. 

“Untuk perokok anak, kebanyakan mereka membeli secara eceran. Harga yang tidak mahal ini memudahkan mereka untuk mendapatkan rokok,” tukas Yuli.

Faktor berikutnya adalah akses yang mudah. Sudah bukan rahasia lagi jika rokok dijual secara bebas hingga ke tingkatan toko kelontong yang lokasinya dekat dengan rumah si anak perokok tersebut.

Kurangnya peran orang dewasa dalam memberikan edukasi kepada anak juga menjadi penyebab selanjutnya. Pemerintah maupun orang tua juga dianggap masih tanggung dalam memberikan penyuluhan bahaya merokok. Mereka dianggap hanya melarang anak merokok tanpa memberi tahu detail alasan kenapa tidak boleh merokok. 

Tentunya hal ini masih menjadi persoalan kita bersama. Bagi Sobat Energi yang masih anak-anak, jangan ditiru yaa. (buddy/EB).

Related Articles

Back to top button