fbpx
Kabar DaerahPendidikan

Kata Bupati Wihaji, Batang Siap Sekolah Tatap Muka Senin Besok!

BATANG, energibangsa.id—Jawa Pos Radar Semarang edisi Jumat (5/3/2021) merilis berita sebanyak 446 sekolah di Kabupaten Batang dinyatakan siap menerapkan pembelajaran tatap muka.

Disebutkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang menetapkan pembelajaran tatap muka bakal dimulai Senin (8/3/2021) mendatang.

Hal tersebut berdasarkan instruksi yang dikeluarkan Bupati Batang Wihaji.

Ke-446 sekolah tersebut terdiri atas 384 SD dan 62 SMP negeri maupun swasta.

Kecuali Kecamatan Batang

Sekolah-sekolah yang siap melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka tersebut tersebar di 14 kecamatan, kecuali Kecamatan Batang.

“Kecamatan Batang masih kami tunda untuk pembelajaran tatap muka. Ada 60 SD, dan 9 SMP,” ujar Kepala Disdikbud Kabupaten Batang Achmad Taufiq saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Kamis (4/3/2021).

Acuan pemberlakuan pembelajaran tatap muka itu berdasarkan status Covid-19 di tingkat desa.

Hanya desa dengan zona hijau atau nol kasus Covid-19 yang diperbolehkan.

Pada tingkat SMP, selain sekolah berada di zona hijau, siswa dari zona di atasnya tidak diperkenankan hadir.

Mereka harus menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ). Siswa SD dan SMP bisa berangkat mulai 8 Maret 2021.

Jika dirasa sukses dalam satu minggu, lanjut Taufiq, jenjang TK dan PAUD juga diperbolehkan berangkat mulai 15 Maret 2021.

Ini alasannya!

“Yang melatarbelakangi aturan ini adalah pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah berlangsung satu tahun. Dampak yang dirasakan, orang tuanya jadi tambah susah, dan anak-anak jadi tidak optimal belajar,” katanya.

Menurutnya, PJJ tidak bisa menjangkau semua kalangan. Ada berbagai keterbatasan yang menghambatnya.

Baik persoalan ekonomi maupun ketersediaan jaringan internet. Pengawasan dari penyelenggara pendidikan pun tidak bisa maksimal.

“Persoalan pendidikan karakter siswa ini menjadi keprihatinan mendasar. Sudah banyak kemerosotan. Terutama anak-anak SMP, performance-nya itu sudah tidak seperti anak sekolah,” tegasnya.

Sekretaris Disdikbud Kabupaten Batang Sabar Mulyono menambahkan, pihak sekolah harus menyediakan perlengkapan protokol kesehatan.

Sifatnya wajib. Mulai dari ketersediaan keran cuci tangan lengkap dengan sabunnya atau hand sanitizer, thermo gun, hingga penyediaan masker.

“Protokol kesehatan harus benar-benar diperhatikan. Sekolah harus menyediakan masker untuk murid-muridnya. Minimal dua buah per siswa,” katanya.

Sekolah juga diminta untuk mengantisipasi waktu kedatangan dan kepulangan siswa.

Hal itu bisa menimbulkan kerumunan. Sementara waktu untuk istirahat keluar kelas ditiadakan.

Siswa bawa bekal, ‘no’ istirahat!

Siswa harus membawa bekal sendiri untuk dikonsumsi saat jam istirahat di dalam kelas.

Lama waktu pembelajaran tatap muka sendiri dibatasi hanya sampai pukul 11.30.

Sekolah dengan kelas gemuk juga diharuskan membagi siswanya.

Maksimal 50 persen. Kecuali dalam satu kelas hanya terdapat 14 siswa untuk SD, dan 16 siswa untuk SMP.

”Kelemahan PJJ itu ada learning loss, generasi muda tidak bisa mengembangkan potensi dan kompetensinya. Karena ada pembatasan dalam pembelajaran,” tandasnya. (dd/ sumber: radar semarang)

Related Articles

Back to top button