fbpx
Inspirasi BangsaKita Indonesia

Kartika Catur Pelita, Pejuang Sastra di Jepara

ENERGIBANGSA.ID – Meski dalam sebuah survey Indonesia termasuk kategori negara dengan minat baca yang sangat rendah, yakni dari 10.000 orang hanya ada 1 yang hobi membaca, namun itu tak menghalangi niat kartika Catur Pelita untuk terus menulis sastra.

“semua berawal dari hobi saya baca cerpen sejak SMP,” ujarnya membuka cerita. Dari hobi membaca cerpen itu akhirnya membuat dia merasa tertantang untuk membuat karya sastra.

“kalau membuat (cerita) kayak gini, bisalah,” ucapnya menirukan keyakinannya di masa SMP kelas 3 dulu. Pria berambut gondrong ini pun masih ingat, judul cerpen pertamanya adalah ‘Ombak di Laut Biru Masih Bernyanyi’.

Dia mengakui tidak banyak orang-orang di Jepara yang menggeluti dunia kepenulisan seperti dirinya, apalagi di masa dulu, sebelum era digital seperti sekarang. Komunikasi antar penulis dan mengirim naskah pun rata-rata masih manual. Kartika Catur Pelita baru mulai aktif mengirim naskah ke media sejak tahun 2000.

“Wahhh.. itu masa-masa perjuangan, bro… butuh modal, nulisnya pake mesin ketik, ngirim pake amplop,” kenangnya sembari tertawa.

“dan gak ada yang lolos, hehehe…” lanjutnya santai.

Menurutnya dalam menekuni dunia tulis menulis ini butuh ketekunan, kerja keras, dan doa. “terutama doa ibu, bro…” pesannya menasehati.

“doa ibu yang membentuk saya begini, ibu saya percaya jika cita-cita saya sebagai penulis akan terwujud,” lanjutnya sambil menurunkan nada suaranya.

Sejak 2000 itu dia tidak pernah putus asa dalam membuat dan mengirim naskah cerita pendek, dan pada 2011 barulah naskah cerpennya yang berjudul “Bukan Robot” dimuat media online Annida online dan di tahun yang sama juga cerpennya lolos tayang di koran Nasional, Suara Pembaruan.

“Sebenarnya kalau 2008 itu saya sudah nulis cerita anak, puisi, tips, dan artikel-artikel remaja di Suara Merdeka,” kisahnya, namun cerpennya baru benar-benar lolos di tahun 2011-an.

“Nah, sejak saat itu saya jadi semakin semangat dan suka nulis. Saat cerpen saya dimuat, dipublikasikan, itu rasanya seperti mimpi yang terwujud,” kenangnya bahagia.

Semangatnya tidak berhenti sampai di situ, di tahun yang sama, 2011 itu dia juga naskah novel pertamanya: “Perjaka” juga lolos penerbit.

Saat ditanya mengapa lebih suka menulis karya sastra cerpen dibanding yang lain, pria yang lazim disapa KCP itu menjawab diplomatis bahwa menurutnya cerpen itu unik dan seksi.

“Berbeda dengan puisi yang ramping, dan novel yang gemuk, kalau cerpen itu seksi. Jadi pas lah” candanya pada tim energibangsa.id

Lebih lanjut, menurut pria yang telah menulis sekitar 700 judul cerpen ini lebih mencintai cerpen karena ia suka berbagi kisah pengalaman hidupnya.

“karena kisah pendek itu membuat saya merasa lebih luwes, lebih cepat, dan lebih enjoy dalam menuliskan cerita fiksi seperti cerpen ini,” bebernya.

Pria yang mengidolakan Motinggo Busyie dan Seno Gumira Ajidarma ini mengaku ‘cepat panas’ jika melihat kesewang-wenangan dan ketidakadilan di lingkungannya.

“bahasa kasarnya, saat melihat kebusukan di depan mata, saya ini ingin berontak dan mengabarkan pada dunia melalui karya sastra,” ujarnya bersemangat.

“sebuah kritik kalau dibentuk jadi cerita kan saya juga bisa lebih lembut dan dari sana juga saya bisa menyampaikan pesan moral dalam cerita,” lanjutnya.

Pria yang telah menulis beberapa judul buku itu juga menjelaskan bahwa beberapa kisah cerpen yang ia buat merupakan sebuah protes. Seperti cerpennya yang berjudul ‘Tikus Raskin” , “Raport Terlilit Tali Pramuka”.

“Ada banyaklah, cerpen saya yang bentuknya protes terselubung,” kisahnya pada tim energibangsa.id

Saat ditanya bagaimana proses kreatif yang menginspirasinya dalam membuat cerita, Kartika Catur Pelita menjelaskan bahwa setiap orang memiliki proses kreatif yang berbeda-beda, dan setiap penulis juga memiliki segmen pembacanya sendiri.

“Orang sekarang diuntungkan dengan teknologi, jadi lebih mudah dalam mencari informasi, dan riset sebelum membangun cerita,” terangnya.

“apalagi saya tinggal di Jepara, saat itu belum ada komunitas menulis, dan saya juga tak punya teman yang memiliki hobi sama,” lanjutnya sedih.

Selain cerpennya yang sudah banyak tayang di media-media lokal maupun nasional, cerita anak karya kartika Catur Pelita juga pernah meraih penghargaan nasional dari Kemendigbud pada 2015 silam.

Dari 1200 karya yang masuk, karyanya lolos 12 besar nasional. Bagi KCP, momen itu membanggakan sekali, itu lomba penulisan rakyat kategori PAUD, dia diundang di puncak penghargaan, diberikan tiket menginap di hotel, bertemu Pak Jusuf Kalla dan istrinya, juga ada Bu Iriana, dan juga menteri pendidikan saat itu Muhadjir Effendi.

Kartika Catur Pelita, Pejuang Sastra di Jepara

“meski uang itu penting, tapi bukan soal nominal uangnya, melainkan kebanggaan personal bisa disebutkan mewakili Jepara di panggung nasional,” terangnya haru.

“dan menulis cerpen anak itu tantangan bagi saya, karena risetnya harus jeli. Perlu edukatif, religi, bermoral, dan penuh budi pekerti, dan mesti memahami karakter dan sisi psikologis anak kecil,” kisahnya gembira.

Selain teguh dan berprestasi, pria yang menargetkan menulis 1000 cerpen itu tergolong tidak pelit ilmu. Hal itu terbukti dengan kepeduliannya dalam mengajak para penulis sastra lain untuk membuat komunitas penulisan sastra di Jepara.

Pada tahun 2015, di grup Forum Penulis Jepara, seorang pemerhati sastra Jepara, Mbak Rosalina mengusulkan kalau saya mengadakan acara semacam pelatihan menulis di Jepara.

“Ya saya setuju, itu ide menarik. Sudah lama saya ingin berbagi ilmu menulis, bikin komunitas, berbagi proses kreatif. Saya ingat dulu merintis jadi penulis gak ada tempat, sulit cari informasi, ilmu nulis,” terangnya.

“Saya ingin berbagi. Ya, udah, saya kontak penulis Jepara yang karyanya udah menasional, dan mau berbagi waktu, ilmu, dsb. Saya bilang, yuk bro kita berbuat sesuatu tuk Jepara. Mereka bilang oke. Mas Syaiful Mustaqim, Adi Zamzam, Mbak Ella Sofa, Mas Sochib, ya udah kita bergerak bersama” lanjutnya.

Kartika Catur Pelita, Pejuang Sastra di Jepara

Rapat dilakukan di rumah Mbak Ella Sofa, sambil memutuskan beri nama komunitas Akademi Menulis Jepara dan membangun konsep pelatihan. Lalu KCP mengusulkan nama AMJ supaya lebih keren dan mudah diingat, Jadwal pelatihan seminggu sekali. Pelatihan menulis Fiksi dan Nonfiksi Berkelanjutan.

10 Januari 2015 Akademi Menulis Jepara diluncurkan. “Alhamdulillah hingga hari ini masih berlangsung. Peserta berhilir, bergantian, beragam motivasi, mentor ada yang bertahan, ada mengundurkan diri. Kita tetap komitmen untuk berliterasi baca tulis, menggiatkan minat baca tulis, khususnya di Jepara,” kisahnya.

KCP menerangkan bahwa asal mulanya pelatihannya diadakan di kantor kecamatan, tapi kemudian atas inisiatifnya dia geser ke Perpustakan Jepara, karena dia memiliki relasi dengan orang perpustakaan.

Gayung bersambut, dan oleh perpusatakaan daerah Jepara malah disediakan fasilitas ruangan khusus.

Kartika Catur Pelita, Pejuang Sastra di Jepara

Saat ditanya, apakah pemkab jepara sudah banyak mendukung gerakan literasi di jepara? Kartika Catur Pelita menggeleng.

“dari level perpus okelah, tapi di level atasannya di kabupaten belum,” terangnya pada kru energibangsa.id

KCP menyebut literasi di Jepara baru sebatas slogan. “Pemerintah Kabupaten memasang foto Bupati dan wakilnya dengan baliho besar: Ayo Baca di Perpusda! namun saat diundang di Perpusda bupati gak pernah datang, diwakilkan,” protesnya sambil kecewa.

“Saat ada Gerakan Literasi Nasional Perpusnas, Bupati pun memilih datang sebentar, kemudian milih acara partai di Semarang,” kisahnya.

Tapi itu menurutnya perhatian Bupati Jepara pada dunia literasi memang minim, ia mengisahkan pada 2018 kemarin saat ada jagong-jagong di acara sastra di sebuah pondok pesantren. Bupati Jepara malah tidak tahu ada komunitas literasi di Jepara.

“Aneh ya. yang jauh saja tahu kok malah yang deket nggak tahu, itu kan kebangeten.” protesnya.

KCP menyebut gerakan literasi, seperti pelatihan, mencetak buku, adalah investasi untuk generasi mendatang, hasilnya tidak bisa simsalabim.

Semoga kiprah KCP dan para penulis sastra di Jepara semakin berkembang dan tidak patah semangat dalam mengkampanyekan minat baca dan menulis bagi generasi bangsa, agar anak-anak muda menjadi enegi bangsa di masa kini dan nanti.

Related Articles

Back to top button