fbpx
Essai

Jurnalisme Konstruktif, dan Mengapa Kita Butuh Itu?

Energibangsa.id – Pernahkah Anda menyadari bahwa berita-berita yang muncul di timeline media sosial Anda hanya membicarakan masalah?

 Bagaimana jika (berita) itu menjelaskan kemungkinan solusinya juga? Nah, di situlah “jurnalisme konstruktif” berada.

Jika Anda belum menyadarinya, mari kita mulai dengan tes kecil.

Pertanyaan Pertama: “Menurut Anda, apa tiga masalah terbesar yang sedang dihadapi Indonesia saat ini?”

Pertanyaan Kedua: “Dapatkah Anda memikirkan tiga kemungkinan solusi untuk masalah tersebut?”

Pertanyaan Ketiga: “Mana yang lebih mudah untuk dipikirkan? Masalah atau solusinya? dan mengapa?”

Berita Buruk dan Bias Negatif Otak Kita

Coba saya tebak, Anda lebih mudah memikirkan masalah daripada memikirkan solusinya, bukan? Nah, mengapa demikian?

Apakah otak kita diprogram untuk fokus pada hal negatif? Ya, di satu sisi, ya. Namun di banyak sisi, jelas tidak!

Studi dari bidang ilmu saraf menunjukkan bahwa otak manusia telah berevolusi – sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup primitif – menjadi lebih sensitif terhadap berita negatif dan bereaksi lebih kuat terhadapnya.

Isu (berita negatif) lebih mudah memancing reaksi otak kita. Pemberitaan buruk itu dengan mudahnya masuk dan meracuni sensor ‘kepercayaan’ dan apresiasi kita terhadap bangsa ini, sehingga ketika ketika diberi berita positif, kita ragu dan bahkan mungkin tidak percaya.

Persepsi kita tentang isu kritis juga sangat dipengaruhi oleh media (oleh topik yang dipilih oleh outlet berita dan redaksi penulisnya) tentang perspektif yang mereka putuskan, bahkan kata-kata yang mereka pilih untuk mempengaruhi kita.

Ketika kita melihat lanskap media saat ini, sepertinya mayoritas masih percaya bahwa berita negatif lebih laku di pasaran.

Berita Negatif Mendapatkan Klik Lebih Tinggi

Timeline medsos kita masih mengikuti pepatah lama: “Bad News is Good News” (Berita buruk adalah kabar yang bagus untuk disebarkan) atau “If it bleeds, it leads.” (Jika berdarah, maka itu mengarah).

Tanpa disadari, pepatah tersebut adalah cikal-bakal media bodrex, wartawan bodrex. Jurnalisme yang mengusung tema negative campaign, atau bahkan black campaign.

Di era jurnalisme digital ini, para blogger dan media online mungkin tergoda untuk mendapatkan klik sebanyak mungkin di blog dan media online kita, dengan berfokus pada konten dengan isu negatif yang bombastis, kontroversial, dan mengejutkan. 

Bahkan jika kita melihat statistiknya, faktanya memang sangat memprihatinkan. 

Sebuah studi tahun 2012 dari perusahaan periklanan Outbrain menunjukkan bahwa rasio klik-tayang rata-rata pada tajuk berita dengan isu superlatif negatif secara mengejutkan mendapatkan 63 persen lebih tinggi daripada rasio klik-tayang pada tajuk berita positif.

Apa Pengaruh Berita Negatif?

Pengaruh apa yang dimiliki Berita Negatif terhadap kita? hasil riset dari sebuah penelitian (di bawah ini) menunjukkan bahwa paparan berita yang didominasi berita negatif menciptakan generasi yang skeptis, apatis, dan mispersepsi.

Mispersepsi

Sebuah studi dari lembaga riset di Inggris Ipsos-Mori, “The Perils of Perception”, menunjukkan fakta bahwa persepsi kita tentang dunia sering kali bertentangan dengan kenyataan – dan biasanya jauh lebih negatif. 

Peneliti mengajukan pertanyaan yang sama kepada orang-orang di 38 sejumlah negara dan menemukan polanya. 

Ketika melihat subjek yang beragam seperti pembunuhan, terorisme, kehamilan remaja, kesehatan dan penggunaan ponsel, persepsi orang-orang ternyata jauh lebih negatif daripada realita sebenarnya. 

Sebagai contoh :

  • Meskipun faktanya tingkat pembunuhan telah turun rata-rata 29% sejak tahun 2000, di sebagian besar negara yang ditanyai, hanya 7% orang yang percaya bahwa tingkat tersebut telah turun.
  • Ketika diminta untuk menebak proporsi narapidana di negara mereka yang merupakan imigran, perkiraan mereta rata-rata adalah 28 persen, padahal realitanya hanya 15 persen.

Jika Anda tinggal di salah satu negara yang disurvei, Anda bahkan dapat melakukan survey dari kuis itu sendiri di sini .

Apatis, Generasi Abai, Ignorant

Penelitian telah mengungkapkan bahwa paparan berita dengan framing negatif membuat orang cenderung tidak mengambil tindakan positif daripada berita yang mengambil pendekatan yang lebih positif. 

Dr Denise Baden, seorang profesor di University of Southampton Business School telah mensurvei 2.000 orang untuk membaca berita negatif dan menemukan fakta bahwa berita negatif menyebabkan perasaan cemas, ketidakpercayaan diri, pesimis dengan masa depan, suasana hati buruk, dan trauma.

Semakin negatif perasaan orang setelah membaca sebuah berita buruk, semakin kecil kemungkinan mereka untuk menyuarakan pendapat mereka (untuk mencari solusi) atau semakin kecil kemungkinan mereka untuk ikut mengambil tindakan agar lingkungannya menjadi lebih baik.

Efeknya yang paling jelas adalah jika menyangkut masalah yang kompleks dan isu yang sangat menantang, seperti permasalahan politik, pendidikan, dan Kesehatan: korupsi, Undang-Undang Cipta Kerja, isu rendahnya minat baca, dan virus Covid-19, misalnya.

Meskipun membahas informasi dan topik-topik dengan problematika di atas tentu saja diperlukan, namun pendekatan negatif yang berlebihan telah mengarah pada bingkai (frame) berita negatif akan menggiring opini masyarakat yang buruk.

Jelas sekali. Dari sini bisa disimpulkan, hanya berita dengan framing positif dan pendekatan konstruktif yang akan menginspirasi dan menggerakkan audiens, dan kami jelas sangat tidak mungkin untuk mencoba membuat perubahan positif jika harus bergerak sendirian.

Jadi Apa Solusinya?

Tuhan menciptakan dunia dengan dua sisi; hitam dan putihnya kehidupan. Karena sudah banyak pemberitaan hitam tentang dunia, maka kita perlu mendengar separuh cerita dunia lainnya; yang mengandung positive vibe.

Bukan hanya membahas berita buruknya saja, tapi juga membahas penanganan dan tindakan preventifnya. 

Semua orang bodoh pun tahu masalah bangsa ini, tapi kita harus mau fokus pada solusinya.

Butuh lebih banyak kisah tentang orang-orang sukses dan inspiratif, tulisan tentang kebijakan Pemerintah yang berhasil. Tulisan tentang rencana positif bangsa ini ke depannya, dan bagaimana cara meraihnya.

Tulisan tentang sosok visioner dan revolusioner. Tentang kemungkinan menjalin kolaborasi dan pembuat perubahan bersama-sama.

Nah, inilah yang disebut jurnalisme konstruktif.

Mari kembali pada pertanyaan: Apa tiga masalah yang Anda pikirkan di awal artikel ini?

Mungkin solusinya tidak terlalu jauh… bergabunglah bersama kami di energibangsa.id Karena untuk maju, bangsa ini membutuhkanmu!

Apa Itu Jurnalisme Konstruktif?

Secara akademis, istilah “jurnalisme konstruktif” muncul pada tahun 2015.

Jurnalisme konstruktif adalah metode penulisan tentang segala bentuk pembahasan masalah atau topik yang mencoba dikulik untuk dicarikan solusinya, tidak hanya berhenti berkutat mengulas akar masalahnya, mencari kambing hitam, dan menyalah-nyalahkan saja.

Jika jurnalisme positif hanya memberitakan yang serba positif saja, maka jurnalisme konstruktif adalah memberitakan sebuah masalah sekalipun tapi tetap dengan framing pemberitaan yang mengarah pada solusi.

Dalam kajian akademis, jurnalisme konstruktif adalah bidang yang berkembang dalam dunia jurnalistik, yang menantang paradigma bias negatif dan mengacu pada konsep dari psikologi positif untuk mengenali potensi berbagi dan mendiskusikan solusi konstruktif dalam kehidupan sosial-masyarakat. 

Di negara-negara maju, lembaga dan perusahaan jurnalisme konstruktif secara bertahap telah hadir dan memberikan pencerahan kepada masyarakat dunia.

Lembaga seperti ConstructiveInstitute.org yang berbasis di Denmark, sekarang bergabung dengan SolutionsJournalism.org di AS dan ConstructiveJournalism.org di Inggris. 

Secara koorporasi, situs berita internasional juga semakin memperbanyak konten berita yang positif dan membangun dalam pemberitaannya.

Kita dapat menemukan contoh di rubrik Impact di media Huffington Post , ada kolom “Fixes” yang tampil secara mingguan di Media New York Times, dan di program podcast BBC berjudul People Fixing The World

Dan yang jauh lebih lama dari itu, sejak 2007 RESET.org dan situs saudaranya yang berbahasa Inggris, RESET International.

Sementara di Indonesia? muncul GNFI, atau goodnewsfromIndonesia.id ada juga indonesiabaik.id dari Kementrian Kominfo.

Apa Ciri Utama Jurnalisme Konstruktif ?

  • Jurnalisme konstruktif menyajikan masalah dengan melihat tanggapan terhadap masalah , dengan memfokuskan kekuatan, ketahanan dan solusi dalam menghadapi kesulitan.
  • Dengan melihat dari berbagai sisi suatu isu, Jurnalisme Konstruktif menghadirkan penggambaran realitas yang kompleks dan akurat
  • Jurnalisme Konstruktif berfokus pada efektivitas, bukan hanya niat baik, dan menuntut bukti hasil yang tersedia.
  • Jurnalisme Konstruktif diteliti dengan cermat, melengkapi pembaca dengan informasi yang diperlukan dan memberdayakan mereka untuk bereaksi secara konstruktif
  • Jurnalisme Konstruktif tetap kritis dan faktual dan memperhitungkan keterbatasan pendekatan
  • Jurnalisme Konstruktif bertujuan untuk memberikan wawasan yang dapat digunakan dan dikembangkan oleh orang lain.

Apa Bedanya dengan Jurnalisme pada Umumnya?

Kesimpulan sederhananya begini, “jika jurnalisme tradisional hanya mengajukan pertanyaan 5W+1H; Siapa? Apa? Dimana? Kapan? Mengapa? dan Bagaimana?

Maka bedanya, jurnalisme konstruktif juga menanyakan: Sekarang apa? Apa yang berhasil? Bagaimana kita bisa mendapatkan lebih banyak? Dan apa yang dapat saya lakukan untuk membantu?

Pada saat yang sama, ini tidak sama dengan cerita yang murni “jurnalisme positif” adalah pemberitaan yang menyenangkan, cerita yang “halus” tentang individu atau insiden yang hanya terjadi satu kali dengan sedikit relevansi sosial. 

Sebaliknya, jurnalisme konstruktif berbicara tentang topik yang relevan secara sosial, mempertahankan ketelitian dan integritas jurnalistik yang sama dengan outlet berita tradisional.

Mengapa Dunia Membutuhkan Jurnalisme Konstruktif?

1. Karena itulah Cara Awal untuk Mencapai Perubahan.

Seperti yang kami jelaskan di atas, bidang psikologi positif telah lama menunjukkan bahwa laporan dunia yang konstruktif dan berorientasi pada solusi jauh lebih mungkin mendorong pembaca untuk terlibat dengan komunitas mereka dan dengan masyarakat pada umumnya daripada laporan berita yang semata-mata negatif. 

Penelitian Cathrine Gyldensted dan Dr Denise Baden di Southampton University menjadi bias negatif dalam pemberitaan mengungkapkan bahwa pemberitaan dengan pendekatan positif:

“meningkatkan motivasi yang secara signifikan lebih tinggi untuk mengambil tindakan positif (menyumbang untuk amal, ramah lingkungan, menyampaikan pendapat, dll.) daripada berita negatif.”

Dan survei terbaru oleh peneliti psikologi positif; Jodie Jackson , di University of East London, mengungkapkan hal itu.

“Mengkonsumsi berita positif dapat meningkatkan penerimaan orang lain, perasaan komunitas dan motivasi untuk berkontribusi pada perubahan sosial.”

Satu-satunya cara kita bisa membuat perubahan adalah dengan percaya bahwa kita bisa.

2. Jurnalisme Konstruktif adalah Sebuah Harapan

Sementara berita dengan tajuk berita negatif mungkin mendapatkan lebih banyak klik, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa di luar negeri, berita “konstruktif” yang paling sering dibagikan. Semoga ini bisa diadopsi di Indonesia.

Coba tebak, apa Tweet yang Paling Disukai di tahun 2017? itu bukan dari Trump, itu adalah komentar positif Obama yang merayakan keberagaman dan memusuhi kebencian.

Bayangkan, jika Amerika saja bisa? kenapa Indonesia tidak?! Bangsa ini harus diajari lagi bagaimana cara mencintai Indonesia.

3. Karena Berita Tidak Cukup Hanya Dibuat Saja

Studi menunjukkan bahwa ada permintaan yang besar untuk jenis berita yang konstruktif seperti ini, terutama di kalangan anak muda. 

Sekitar dua pertiga, 64 persen, di bawah 35 tahun dalam survei BBC World Service mengatakan mereka “ingin berita memberikan solusi untuk masalah, bukan hanya berita yang memberitahu mereka tentang masalah tertentu.” 

Peluncuran kembali majalah jurnalisme konstruktif dalam bentuk online; Positive News baru-baru ini mendapatkan dana crowdfunding hingga seperempat juta GBP hanya dalam 30 hari.

Dan survei terbaru oleh The Guardian, yang menanyakan kelompok fokus apa yang ingin mereka dengar lebih banyak dalam kampanye perubahan iklim berikutnya, menyatakan bahwa jawaban yang tepat adalah “cerita solusi” atau “cerita iklim positif” .

Masa Depan Jurnalisme Konstruktif

Jurnalis memiliki potensi untuk mengubah cara masyarakat Indonesia memandang dunia, dan juga membentuk keyakinan kita akan kemampuan kita untuk mengubahnya. 

Didukung oleh pemahaman ini, dan diinspirasi oleh keinginan untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan, kami optimis gerakan jurnalisme yang konstruktif akan terus berkembang.

Selain memberi tahu orang-orang tentang masalah apa yang terjadi, dan memberitahukan bahwa mungkin ada yang salah, dan mungkin begini solusinya.

Di Indonesia, Energibangsa.id (Jawa Tengah), GoodnewsfromIndonesia.id, IniBaru.id, IndonesiaBaik.id dan majalah online serta platform jurnalisme konstruktif lainnya juga percaya bahwa memfasilitasi dan menginformasikan perdebatan tentang hari esok yang lebih baik adalah tugas kita bersama.

Kami ingin menawarkan platform untuk solusi dan ide visioner yang dapat mewujudkan dunia yang lebih baik. 

Kami ingin memupuk imajinasi dengan informasi dan alternatif, teguh dengan keyakinan bahwa kami tidak dapat menyelesaikan masalah hari ini dan esok dengan pola pikir kemarin yang sama yang menciptakannya.

Dunia yang berkeadilan sosial dan lingkungan hanya dapat diciptakan jika kita menggabungkan pemahaman tentang masalah dengan pandangan visioner, ketika kita memiliki harapan untuk masa depan dan percaya bahwa setiap individu dalam komunitas global memiliki agen untuk bertindak.

Dan wal akhir, kembali pada pertanyaan: Apa tiga masalah yang Anda pikirkan di awal artikel ini?

Mungkin solusinya tidak terlalu jauh… bergabunglah bersama kami di energibangsa.id Karena untuk maju, bangsa ini membutuhkanmu!

*Yanuar Aris Budiarto, S.IP, Founder EnergiBangsa.id

Related Articles

Back to top button