fbpx
Ekonomi & Bisnis

Jual Batu Bata Via Online, Why Not?

DEMAK, energibangsa.id—Batu bata, tentu tak sedikit orang mengerti barang satu ini. Sudah pasti, benda satu ini bakal laris manis jika bapakmu, om, pebisnis properti dan kalian semua sedang membuat rumah.

Meski belakangan ini ada materi serupa untuk membuat rumah, namun batu bata tetap mendapatkan pangsa pasar tersendiri. Tak sedikit orang mencari batu bata berkualitas untuk pengerjaan dinding tembok rumah-rumah mereka. Atau, paling tidak untuk membuat bangunan tertentu.

Nah, jika pandemi yang berisiko terjadinya resesi seperti saat ini tentu penjualan batu bata menurun kan? Apalagi strategi penjualannya hanya dari mulut ke mulut atau ‘gethok tular’ (cara konvensional).

Memanfaatkan gawai

Mau tak mau, penjualan batu bata ini menurun. Taruh saja sentra industri batu bata di Kabupaten Demak yang berlokasi di Desa Kembangarum Kecamatan Mranggen. Tak sedikit pebisnis materi rumah tersebut kelimpungan akibat resesi ekonomi.

Imbas pandemi, jelas, resesi menunjukkan daya beli menurun. Meski demikian pemerintah dan semua elemen mendukung adanya transaksi pembelian. Harapannya, perputaran uang di arus bawah masih tetap berputar.

Sejujurnya, sepinya pembelian batu bata tak hanya dirasakan pengusahan produsen bata merah. Hampir semua bidang ekonomi pun lumpuh. Namun, banyak hal yang bisa dilakukan agar ‘dapur masih bisa tetap ngebul’.

Peran mahasiswa?

Mahasiswa sebagai pelopor agen perubahan harus memberikan teladan, bagaimana cara berbisnis dengan baik dan benar. Sehingga memicu terjadinya transaksi keuangan secara baik pula. Dan itupun dibuktikan sosok mahasiswa yang sedang KKN di Demak.

Di tengah merosotnya penjualan bisnis batu bata, mahasiswa KKN, Muhammad Iqbal Qois, membantu pemasaran batu bata secara online. Dalam aksinya, Iqbal Qois menggunakan gawai sebagai perangkat pendukung pemasaran produk batu bata.

Ia melakukan pendampingan strategis dengan harapan pengusaha batu bata mitranya dapat menjual produknya. Terlebih, pengusaha batu bata biasanya menjual produk batu bata sejumlah 40.000 sampai 50.000 biji. Sementara menunggu pemasukan yang datang menghampiri dompetnya.

Pemilik usaha batu-bata, Sukari (57), menyebut lebih dari 2 bulan masyarakat hanya menganggur. Mereka tak melakukan aktivitas produksi. Pasalnya, produk dagangan yang siap jual telah lama terhenti dan belum laku.

“Usaha ini telah cukup lama kami tekuni dan menjadi satu-satunya sumber mata pencaharian. Jika mati suri seperti saat ini, bisa-bisa kita kurangi jumlah pekerja”, ungkapnya, Minggu (8/11) lalu.

“Toh, harga batu bata per biji dari biasanya Rp500; kini turun ganya Rp350; per buah. Ini tragis, prlu solusi dari kawan-kawan semua”, harapnya.

Menyaksikan keluhan itu, Muhammad Iqbal Qois,, akhirnya terketuk untuk membantu sekaligus memberikan edukasi pemasaran secara online. Ia memanfaatkan WhatsApp (WA), Facebook, hingga platform market place lainnya. (*)

Related Articles

Back to top button