fbpx
Nasional

Jokowi Tiba-tiba Serukan Benci Produk Asing, Begini Penjelasanya!

SEMARANG, energibangsa.id—Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar publik tidak mempermasalahkan pernyataannya yang menggaungkan benci produk asing.

Melansir Merdeka.com, Jumat (5/3/2021), Presiden menilai, semua pihak berhak memilih suka dan tidak suka terhadap produk tersebut.

“Boleh saja kita ngomong tidak suka pada produk asing, tidak suka,” kata Jokowi saat memberikan arahan dalam Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional XVII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Tahun 2021 di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/3/2021).

“Masa kita enggak boleh bilang tidak suka, kan boleh saja, tidak suka pada produk asing. Gitu saja ramai. Saya ngomong benci produk asing gitu saja ramai. Boleh kan kita tidak suka dengan produk asing?” ujarnya.

Dia menjelaskan, untuk menuju loyalitas produk dalam negeri perlu memiliki syaratnya. Yaitu harga yang kompetitif hingga kualitasnya yang baik.

“Kalau kualitasnya baik tentu saja, ini dari sisi produsen harus terus memperbaiki desainnya, agar bisa mengikuti tren,” ungkapnya.

Menteri Lutfi buka suara

Terkait ucapan presiden yang kemudian heboh, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi buka suara.

Dilansir dari detikcom, Jumat (5/3/2021), Menteri Lutfi membeberkan masalah yang memicu Presiden Joko Widodo  (Jokowi) menyerukan benci produk asing.

Kata Pak Lutfi, awalnya dia yang menceritakan isi artikel dari World Economic Forum (WEF) mengenai produk hijab buatan lokal diadopsi oleh platform perdagangan online (e-commerce) asing.

Hal itu berujung pada penjualan produk yang sama dengan harga yang lebih murah di Indonesia.

Lutfi menjelaskan, cara-cara itu dikenal dengan istilah predatory pricing. Konsep ini juga sangat dilarang oleh dunia perdagangan internasional.

Aksi predatory pricing

“Ini yang sebetulnya dibenci Pak Jokowi. Aksi-aksi ini yang sebenarnya yang tidak boleh ini yang dibenci,” kata Lutfi dalam acara Rapat Kerja Nasional Hipmi 2021, Jumat (5/3/2021).

Pengusaha lokal yang mempekerjakan lebih dari 3.000 orang ini harus mengeluarkan biaya lebih dari US$ 650 ribu per tahunnya untuk biaya gaji.

Sedangkan perusahaan online yang menjual produk hijab serupa hanya membayar bea masuk kepada negara hanya sekitar US$ 44 ribu.

Rendahnya biaya bea masuk yang dibayarkan ini pun karena harga jual produk hijabnya jauh lebih murah dibandingkan produk Indonesia.

“Dilakukan dengan spesial diskon, yang saya katakan kalau dalam istilah perdagangannya namanya predatory pricing, masuk ke Indonesia harganya Rp1.900, dan Rp1.900 lebih mahal dari mentos, bagaimana kita bisa bersaing,” terang Lutfi.

Lutfi menambahkan mekanisme perdagangan internasional harus memenuhi keadilan dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Nah ini yang kita mau tegakkan, jadi asal ceritanya itu,” tuturnya.

Dijelaskan, Presiden Jokowi kembali meminta seluruh pemangku kepentingan untuk mengagungkan cinta produk Indonesia.

Bukan hanya itu dia juga meminta agar didorong kampanye untuk benci produk asing.(*)

Related Articles

Back to top button