Gaya HidupRagam BangsaReligius

Jerih Payah Selama Lima Tahun, Tunawisma ini Akhirnya Mampu Berkurban di Idul Adha

ENERGIBANGSA.ID – Tak ada yang pernah menyangka, seorang pemulung mampu berkurban di Hari Raya Idul Adha.

Betapa tidak, sering kali pemulung dikategorikan dan dipandang sebagai pekerjaan yang tak layak untuk seseorang. Apalagi seorang yang bekerja sebegai pemulung seperti yang ada disekitaran kita selalu seorang yang tidak berada dan berdaya.

Di dalam hukum islam sendiri menyebutkan qurban atau berkurban pada saat Idul Adha sesungguhnya diwajibkan bagi seseorang yang mampu. Namun bagi seseorang yang tidak mampu maka kewajiban tersebut digugurkan.

Tidak hanya itu, posisi pemulung selalu berada pada orang-orang yang selalu menerima daging hasil kurban yang diberikan oleh dermawan atau Masjid.

Meskipun begitu, di kota Mataram ada seorang pemulung yang mampu berkurban. Adalah Sahnun, perempuan paruh baya berusia 63 tahun ini akhirnya pada tahun ini dirinya bisa berkurban.

Sahnun, pemulung berusia 63 tahun yang berkurban pada tahun ini saat diwawancarai program berita televisi fokus di Indosiar. (dok Liputan6.com)

Nenek Sahnun bukanlah orang berada. Dia tinggal sebatang kara di Mataram dan kini menumpang tidur di sebuah kios di samping barat Mal Matataram.

Sebelumnya, Sahnun tinggal di kuburan umat Hindu. Karena merasa kasihan, seorang warga kemudian memberikan tumpangan tempat tidur kepadanya di kios tersebut. 

Ketika pagi tiba, Sahnun secepatnya menggulung tikar alas tidur karena pemilik kios sudah mulai beraktivitas berjulan nasi.

Sahnun mampu membeli sapi kurban untuk dikurbankan tak lepas dari jerih payahnya beberapa tahun mengumpulkan barang-barang bekas. Diketahui ia tak pernah meminta-minta bahkan jika dikasihpun dirinya akan menolak.

Setiap hari, Sahnun memikul karung berisi botol plastik dengan tubuh kecilnya. Langkahnya sangat cepat ketika menyusuri jalanan Kota Mataram.

Biasanya ia berangkat memulung mulai dari subuh hingga malam hari dengan jeda waktu istirahat pada siang hari.

“Pagi-pagi subuh sudah berangkat, balik lagi istirahat nanti lagi lanjut sampai malam,” ungkap Sahnun sebagaimana dikutip energibangsa.id dari kompas.com

Dalam sehari biasanya dia mampu mengumpulkan botol plastik hasil seharian memulung sekitar 2 karung. Seorang pemikul akan mendatangi dirinya untuk membeli hasil memulungnya setiap sepekan sekali. Sahnun akan menjual barang bekas tersebut seharga Rp 10.000 hingga Rp 20.000 perkarung.

“Sudah sekitar lima tahun mengumpulkan uang untuk diniatkan membeli hewan korban.” tutur nenek tunawisma ini.

Sahnun enggan memberikan alasan terkait keinginannya untuk berkurban. Ia hanya melemparkan senyuman kecil sembari menganggukkan kepala saat ditanya. Keliatannya dia ingin hanya dirinya saja yang tahu mengapa dirinya berkurban.

Potret sehari-hari Nenek pemulung yang mampu berkurban di Idul Adha tahun ini. (dok kompas.com)

Apa yang dilakukannya sempat membuat jemaah Masjid Nurul Iman, tempat dimana dirinya berkurban, tercengan dan kaget.

Salah seorang pengurus Masjid Nurul Iman, Kaling menuturkan saat pengajian majilis taklim di Masjid yang dilakukan rutin setiap hari kamis, Sahnun spontan memberikan uang 10 juta untuk berkurban.

Hal ini sontak membuat para ibu-ibu serta jemaah yang mengikuti kegiatan tersebut kaget dan tercengan.

“Dia langsung spontan saja menyebutkan Rp 10 juta, makanya kita kaget. Dia hanya pemulung kok bisa, ibu-ibu reaksi pada bengong melihat Sahnun memberikan uang senilai Rp 10 juta,” kata Kaling.

Hingga kini Sahnun telah membeli sapi di lingkungannya Majeluk Mataram dan akan dibawanya nanti pada saat Hari Raya Idul Adha.

Related Articles

Back to top button