fbpx
Kabar IndonesiaNasional

Jangan Merokok Sembarangan di Jogja, Sanksinya Berat!

YOGYAKARTA, energibangsa.id—Pemerintah Kota Yogyakarta memberlakukan sanksi sosial bagi masyarakat yang melakukan pelanggaran di kawasan tanpa rokok (KTR).

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (24/3/2021), Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menerangkan, sanksi dikenakan bagi siapa saja yang nekat merokok di area KTR.

Skemanya berjenjang, mulai dari teguran hingga yang sifatnya sosial, yakni publikasi foto tampang perokok sembarangan.

“Sanksi sosial tegur lisan, tertulis, dan (atau) publikasikan massal. Foto merokok bisa dipublikasikan, itu bisa jadi sanksi sosial,” kata Heroe di Hotel Abadi, Kota Yogyakarta, Rabu (24/3/2021).

Aturan mengenai KTR ini tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2017.

Lokasi yang tak diijinkan merokok

Ada beberapa titik yang dijadikan area bebas asap rokok, meliputi Taman Parkir Abu Bakar Ali, utara Malioboro Mall, utara Ramayana dan lantai III Pasar Beringharjo.

Kebijakan KTR ini berlaku efektif per Kamis 12 November 2020 lalu.

Setelah sempat mundur dari rencananya awal yaitu 24 Maret 2020 menyusul pemberlakuan status tanggap darurat virus corona (Covid-19) oleh Pemda DIY 20 Maret 2020.

Dikatakan Heroe, pelanggaran di lokasi-lokasi KTR masih seringkali dijumpai Satpol PP maupun petugas Jogoboro.

Meski, sejauh ini pihaknya masih mengedepankan upaya persuasif. Yakni, dengan meminta para perokok untuk mematikan rokoknya di area KTR.

“Kita masih bermain imbauan minta untuk matikan rokoknya,” sebut Heroe.

Denda Rp7,5 juta?

Perda Nomor 2 Tahun 2017 turut mengatur sanksi denda maksimal Rp7,5 juta untuk pelanggaran di area KTR.

Namun Heroe mengatakan sanksi denda belum jadi prioritas dengan alasan saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19.

“Kalau denda itu kan sebenarnya kita karena kondisi sosial saja sekarang ini kita belum terapkan. Seperti juga kita belum terapkan sanksi bagi Covid-19 (pelanggaran protokol kesehatan) itu juga belum diterapkan, “ terangnya.

“Karena memang kondisi sosial yang secara ekonomi belum begitu memungkinkan untuk denda,” paparnya.

Tingkatkan kesadaran bahaya rokok

Adapun tujuan dari penerapan KTR ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya merokok dan menekan tingkat penyakit yang disebabkan asap rokok.

“Yang sering dipelesetkan dari perda ini, yang dilarang bukan merokoknya, tetapi merokok pada kawasan tertentu. Perda kawasan tanpa rokok ini mengatur di mana orang boleh merokok dan orang tidak boleh merokok,” tegas Heroe.

Apalagi, lanjut Heroe saat ada ancaman bahaya paparan virus Corona.

Ia menyebut, virus bisa saja menempel pada puntung rokok yang dibuang sembarangan.

“Makanya itu kita dorong untuk seluruh kawasan wisata bisa menerapkan 5M, plus 1TM atau tidak merokok ini dijalankan untuk bagian dari upaya mengantisipasi sebaran Covid-19, dan bagian dari perluasan KTR di kawasan wisata,” pungkasnya. (dd)

Related Articles

Back to top button