fbpx
EssaiKolom

Jangan Mau Jadi Miskin: Berat, Kamu Gak Akan Kuat!

Energibangsa.id – Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan teman saya. Kami bicara soal nasib si miskin dan si kaya.

Hidup memang terkadang tidak adil, tapi memang itulah realita kehidupan.

Dari obrolan itu kesimpulannya kurang lebihnya seperti ini.

Miskin Membayar Lebih Mahal

Ketika melakukan pinjaman, si miskin kena bunga yang lebih besar karena tidak memiliki collateral (jaminan). tidak jarang, si miskin yang tidak bankable harus meminjam ke instansi non bank seperti pinjaman online dan rentenir. yang mana, bunganya lebih gak masuk akal lagi.

Lanjutan dari pinjaman. si miskin akan meminjam dalam jangka waktu yang lebih panjang. artinya, lebih banyak bunga yang harus dibayar.

Si miskin membayar lebih mahal, mereka gak tau ada yang namanya e-commerce, akhirnya beli di toko pinggir jalan, yang markUp harganya bisa sampai 100% dari harga jual di toko online.

Si miskin membayar lebih, ketika dikaitkan dengan resiko. saat si miskin memiliki penyakit berbahaya, si miskin membayar lebih. karena tidak memiliki asuransi.

Bahkan di dunia kerja pun, si miskin membayar resikonya lebih tinggi.

Jangan Mau Jadi Miskin: Berat, Kamu Gak Akan Kuat!
ilustrasi pekerjaan resiko tinggi dengan upah rendah (doc quora.id)

Ketimpangan dalam Tukar Nasib

Pernah nonton reality show “Tukar Nasib” ? Ada orang kaya pura-pura miskin? dipuja-puja: “Wahh low profile, kereeen, panutan, tabah, gak gengsi.”

Jangan Mau Jadi Miskin: Berat, Kamu Gak Akan Kuat!

Sedangkan orang miskin yang pura-pura kaya? dihina-hina. “dih, ga tau malu lu… ngaca! miskin ga usah banyak gaya”

Padahal keduanya sama-sama nyembunyiin statusnya. tapi treatment yang didapat juga beda.

Si Miskin Sering Dianggap Kurang Usaha

Banyak sekali orang miskin sering dibilang miskin karena kurang usaha. Sedangkan orang kaya sering diagungkan karena usaha dan kerja kerasnya

Orang miskin selalu diidentikan dengan malas, ga rajin belajar maka jadi miskin. gak rajin kerja maka miskin.

Tapi pernahkah kalian berfikir?

Mereka gak rajin belajar, karena makan aja susah. tujuan utamanya bukan belajar, tapi gimana caranya ga mati kelaperan besok.

Boro-boro mikirin nutrisi dan gizi. bisa makan nasi aja syukur. pas mau belajar, eh… satu rumah isinya ada 10 orang. rumahnya luas 20 m2. gimana lah caranya mau belajar dengan konsen?

Mereka miskin karena ga rajin kerja, padahal sudah macul dari jam 8 pagi sampe jam 6 sore.

Kamu yang kerjanya ngetak-ngetik aja capek punggungnya, apalagi macul? gila kali ya kalo kamu ngomong usaha kamu lebih keras dari mereka, cuman gara-gara gaji kamu sehari ternyata setara penghasilan mereka sebulan. Ini tidak adil, gaes!

Rasio Sukses Anak Miskin Tipis

Hasil riset di Amerika yang dilakukan oleh mitsloan.mit.edu menyebutkan bahwa anak yang lahir dari top 1% (minoritas terkaya) mempunyai kesempatan 10 x lipat lebih banyak untuk menjadi penemu besar daripada yang lahir di bawah 50% (mayoritas kelas menengah)

Dikutip dari sumber yang sama, menyebutkan bahwa inovasi di US akan naik 4 kali lipat, apabila wanita, minoritas dan anak dari berpenghasilan minim menjadi penemu dengan tigkat (secara persentase) yang sama seperti pria dari keluarga berpenghasilan minim.

Coba liat, dari mana akarnya? orang tua kaya. Padahal kan kita ga bisa lahir milih dari orang tua yang kayak apa.

Saya gak bilang orang yang kaya raya itu ga kerja keras, saya bilang… yang miskin pun kerja keras.

Tapi buat si miskin? mendapatkan pekerjaan yang bagus itu susah.

Problematika Lingkaran Miskin

Orang miskin lahir dari orang tua miskin. Udah orang tua miskin, ga pinter pula. Jadi dari kecil anak ga diajarin belajar.

Problem lainnya, miskin menyebabkan nutrisi dan gizi rendah. nutrisi rendah IQ juga rendah karena stunting.

Udah IQ rendah. Sekolah di sekolah gurem, sekolah medioker. Cyrcle-nya juga orang-orang miskin.

Muridnya lebih rajin tawuran bareng daripada belajar bareng.

Belajar di sekolah gurem, jadi gebleg. Karena wawasannya juga kurang.

Yang pesimis, gak kuliah, otaknya gak nyandak. Yang optimis, maksa kuliah, nabung. Ngusahain bener gimana cara bisa kuliah.

Nyari duit, dapet pinjeman dari rentenir untuk kuliah. Harapannya kalo lulus S1, bisa meningkatkan derajat orang tua. Eh, ternyata cuman cukup untuk kuliah di kampus gurem pula.

Eee… ternyata kuliah di kampus gurem juga gak berkualitas, Kampusnya cuman nyetak ijazah doang! Dosen-dosennya lebih sibuk ngurus marketing nyari mahasiswa buat semester depan, daripada ngajar ilmu itu sendiri.

Akhirnya, lulus jadi S1 kualitas rendah, karena kampus gurem, SDM-nya gurem outputnya gurem pula.

Lulus kuliah, ngelamar kerja kena tipu, harus bayar administrasi dulu untuk bisa kerja. Udah bayar, eh malah kena tipu.

Lamar kerja lagi, lamar jadi admin malah dapet kerja untuk jual produk investasi gurem

Jangan Mau Jadi Miskin: Berat, Kamu Gak Akan Kuat!
Foto : Akun Facebook Selamat Pagi Indonesia

Lamar kerja lagi, kali ini dapet kerjaan dari temen di kampung. dulu sih miskin, sekarang sudah kaya. tau dari mana kaya? sering upload jalan-jalan naik mobil dan pake jas. Eh ternyata disuruh jual kalung kesehatan ajaib produk MLM.

Lamar kerja lagi, antriannya puanjaaaaaang…… eh, ternyata umur sudah melewati syarat kualifikasi.

Capek gak dapet kerja, akhirnya gabung ormas gak jelas. Duhhh!

Minim Apresiasi

Di sisi lain, ada orang yang lahir sudah tajir, sering dielu-elukan karena kerja keras. padahal, ya kerja keras sih. tapi tajir bukan karena kerja kerasnya. tapi karena kebetulan aja, lahir di orang tua yang mendukung untuk tajir.

Yes. orang miskin menjalani hidup yang sulit, tapi ga pernah dapet credit atas apa yang dia dapat ketika dapet achivement.

tukang bakso langganan saya, itu pertama kali punya gerobak sendiri. bangga nya minta ampun.

Berkali-kali dia cerita how to dia punya gerobak bakso sendiri, sampe pernah, dia nambahin bakso 2 biji lebih banyak ke mangkok saya, karena dia pengen agar saya mau dengerin ceritanya dengan khusyuk.

Dia nabung untuk punya gerobak bakso sendiri. Tapi apakah dia dapat credit atau pujian yang sama besarnya dengan anak orang kaya yang akhirnya punya company sendiri setelah 2 taun kerja sama bapaknya? enggak!

Jadi, jika kamu lahir di keluarga miskin, jangan pernah mau “mengalir seperti air” karena resikonya terbesarnya adalah tetap mengalir di lingkaran kemiskinan itu.

Anak-anak yang lahir di keluarga miskin, harus mau bergerak, bertumbuh, dan melawan tradisi pesimis bangsa ini.

Semua orang dilahirkan beruntung, ada yang beruntung karena diberi rejeki yang serba berkecukupan. Ada juga yang beruntung diberi bahu, lengan dan otak yang lebih kuat menghadapi kehidupan.

Mari mulai rubah cyrcle, rubah jaringan, cari komunitas positif, agar energinya juga baik, vibrasinya juga baik, dan alur pergaulannya juga baik, dan mungkin proses kayamu bisa dimulai dari jualan makanan frozen di sini.

Ingat, usaha memang gak mudah, tapi nyari kerja juga susah lho… kalau sama-sama susah, kenapa gak usaha aja?! Buka usaha agen frozen, cuannya lumayan lho…!

nadita frozen food

*Yanuar Aris Budiarto, Digital Marketing Strategic Planner

Related Articles

Back to top button