Gaya HidupKabar IndonesiaRagam Bangsa

Jangan Ikuti Tren, Perhatikan Dampak Buruk Sharenting

ENERGIBANGSA.ID— Dalam sebuah ruangan yang tak begitu besar terdapat seorang balita berusia kurang lebih 1 tahun sedang asyik bermain soerang diri.

Dari arah belakang muncul seorang perempuan yang masih muda dengan wajah yang menenangkan memanggil balita tersebut.

Balita itupun menoleh sambil nyengir kearah suara itu berasal. Ia pun lalu merangkak mengikuti suara perempuan muda itu.

“Ayo adek.. kesini bunda disini. Lihat bunda disini ayo adek” panggil perempuan muda itu dengan suara gembira.

Balita itu merangkak dengan lincah dan gesit terus mengikuti suara ibunya. Sementara ibunya tak henti memanggil sembari berjalan mundur menjauh agar tidak dapat direngkuh anaknya tersebut.

“ih adek pinter sekarang sudah bisa merangkak, cepat lagi, ayo tangkap bunda adek,” ucapnya.

Balita itu berhenti sebentar menuntaskan cengesan tawanya lalu lanjut merangkak dan kali ini lebih cepat dari yang sebelumnya

Hanya sekejap saja, balita lucu itu akhirnya mampu merengkuh ibunya. Lalu diangkatnya balita itu oleh ibunya.

“pintarnya anak bunda, sekarang udah jago merangkak,” ucapnya diikuti tawa riang anaknya seakan sudah mengerti apa yang diucapkan ibunya.

Moment penting yang dilakukan anaknya ini, sedari tadi direkam oleh perempuan muda itu. Dirinya tak mau ketinggalan moment-moment penting anaknya.

Setiap ada perkembangan dari anaknya, ibu muda itu berusaha mengabadikannya entah melalui foto atau pun video.

Biasanya setelah merekam apa yang dilakukan anaknya yang menggemaskan, perempuan muda itu lalu mengunggahnya ke media sosial miliknya.

Ia memang sudah bertekad untuk menyimpan segala aktivitas anaknya itu di dalam instagram. Tujuannya sebagai kenang-kenangan bila nanti anaknya sudah besar hal tersebut bisa ditunjukkan kepadanya.

Video yang barusan ia rekam itu pun juga sama. Ibu muda ini  bersiap mengirimkan video rekamnya ke akun instagram miliknya. Ia yang sedang menggendong anaknya mengajak balita itu untuk duduk di sofa yang tak jauh dari mereka berdiri.

“Nah adek duduk sini dulu ya, bunda mau mengirimkan video adek ke instagram duliu nanti kita main lagi ya, bentar kok,” katanya.

Setelah mendudukan sang buah hati tercinta, Ibu muda ini lalu langsung mengirimkan video anaknya tadi ke instagram miliknya.

Dalam unggahannya itu, dirinya menuliskan caption atau keterangan foto yang cukup panjang dimana mendeskripsikan apa yang barusan terjadi dan tentang perkembangan anaknya.

Bunda, tak disangka siang ini menjadi siang yang amat istimewa. Cleo yang tadi malem baru diajari merangkak oleh neneknya, siang ini mampu merangkak dengan luwes. Sungguh luar biasa bukan bunda.

Padahal saya hanya mencoba membedho-nya dengan memanggil namanya saat ia sedang asyik bermain sendirian di ruang keluarga. Tetapi ia mencoba menghampiri saya  dengan merangkak mengikuti suara saya.

Tak perlu waktu cukup lama, postingan video itu dilihat oleh banyak orang yang notabene followernya,  dan mendapat banyak reaksi.

Salah satunya datang dari seorang perempuan yang  usianya kurang lebih sama dengannya mengomentari video itu dengan komentar “ihh pinternya dede cleo, Selma juga gak mau kalah nih”.

Tidak hanya itu, video yang berdurasi satu menit ini juga mendapat boom like dari para pengikutnya yang setia.

Melihat hal itu, perempuan muda itupun tanpa sadar seketika menyunggingkan senyuman manis dibibirnya sambil memengang smartphone miliknya. Dirinya mencoba memperlihatkan apa yang ia lihat kepada anaknya.

“Liat cleo video kamu disukai banyak orang lho,” ucapnya sambil memberikan smartphone kepada anaknya.

Apa yang dilakukan ibu muda ini ternyata turut di ikuti sebagian banyak ibu muda lainnya. Bahkan para artis dan selebgram tanah air juga melakukan hal yang serupa dengan apa yang dilakukan ibu-ibu muda tersebut.

Aktivitas ini seringkali dikenal dengan nama Sharepareting. Saat ini, tren pengasuhan sharepareting sedang booming dan menjadi perbincangan publik.

Melansir energibangsa.id dari guyuy.com, berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat 2010 lalu, lebih dari 90% orang tua melakukan shareparenting pada anaknya yang berumur kurang dari 2 tahun.

Mereka berlomba-lomba untuk mengabarkan segala kejadian, aktivitas, atau prestasi yang dicapai anaknya di media sosial.

Berbagai faktor disinyalir menjadi penyebabnya.  Ada yang hanya mengikuti tren. Atau sekedar iseng, Lalu bangga terhadap pencapaian anakanya. Hingga terjadi kompetisi antar orang tua.

Namun tahukah sobat energi, ternyata pola pengasuhan ini justru dirasa membahayakan dari segala aspek lho, khususnya dari anak yang bersangkutan sendiri.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal Public Policy and Marketing menyebut, ketika orang tua terbiasa mengunggah semua hal tentang anak di media sosial itu berpotensi mengancam privasi dan keamanan si kecil. 

Penelitian yang dilakukan oleh Alexa K Fox dan Mariea Grubbs Hoy dari University of Akron dan University of Tennessee ini melibatkan para perempuan yang telah menjadi ibu.

Para koresponden mengaku selalu merasa khawatir ketika mengunggah foto atau video anak di media sosial. Apalagi, jika mereka mengunggah hal-hal yang berhubungan dengan privasi anak.

Jika ditengok lebih dalam memang tak mengherankan, khawatiran ini terjadi dikarenakan membagikan informasi sang anak merupakan hal yang berbahaya. Informasi berupa foto atau hal sejenis akan memudahkan para manusia jahat untuk melakukan aksinya. Sang anak akan mudah menjadi sasaran tindak kejahatan setiap harinya.

Menurut data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), pada 2010-2014 terdapat 472 kasus anak hilang yang terjadi di Indonesia.

Jika ingin berbagi di media sosial lebih baik membagikan tentang pengalaman diri sendiri setelah menjadi ayah atau ibu. Ini lebih baik daripada harus menjadikan anak sebagai objek unggahan.

Atau ada baiknya sebelum melakukan shareparenting, lihat dulu siapa saja yang bisa melihat unggahan tersebut.

Fitur di Instagram berupa “teman dekat” bisa menjadi pilihan. Fitur tersebut memudahkan para orang tua untuk memilih siapa saja kenalannya yang bisa mengakses informasi yang dibagikan.

Selain itu, matikan seluruh informasi lokasi terkait unggahan. Hal tersebut berguna agar tidak ada yang tahu dimana keberadaan sang anak.

Hal lain yang perlu dipikirkan sebelum melakukan shareparenting adalah pikirkan tujuan apa dibalik membagikan foto atau video anak.

Jika hanya mencari banyak likes dan pujian di kolom komentar, akan lebih baik bila unggahan tersebut diurungkan.

Fox dan Hoy pun dalam penelitiannya tersebut mendorong adanya panduan untuk menjaga privasi sang buah hati.

Kemudian, orang tua juga perlu diberikan edukasi tentang apa konsekuensi dari mengunggah foto atau video si kecil ke media sosial.

“Orang tua saat ini, banyak dari mereka yang terbiasa berbagi tentang kehidupan mereka di media sosial. Dan ketika memiliki bayi mereka pun sering mengunggah kegiatan buah hatinya. Mungkin mereka tidak memahami dampak dan konsekuensi dari mem-posting informasi tersebut tentang anak-anak mereka,” ujar Hoy, dikut energibangsa.id dari republika.co.id.

Sejatinya praktik Shareparenting tidaklah dilarang, tetapi perlu dilakukan dengan lebih bijak. Para orang tua harus kembali memikirkan benar atau tidaknya kegiatan yang selama ini dilakukan.

Jangan sampai perkembangan teknologi yang ada justru menyebabkan kemunduran pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

Jika cara-cara parenting konvensional justru memberikan dampak yang lebih sehat, bukan menjadi masalah jika tidak mengikuti tren zaman sekarang hanya agar mendapat cap “orang tua zaman now”.

Related Articles

Back to top button