fbpx
Karya Bangsa

Intip Perjalanan Karir dan Biodata Ria Papermoon, Si Pencetus Pertunjukan Seni Boneka Asal Yogyakarta

ENERGIBANGSA.ID – Papermoon Puppet Theatre mungkin sudah gak asing lagi di telinga penduduk Yogyakarta.

Salah satu pertunjukannya “Secangkir Kopi dari Playa” yang diangkat dari kisah nyata tentang kisah cinta yang sempat hilang muncul di salah satu scene film Ada Apa Dengan Cinta 2 menjadikan teater ini makin dikenali masyarakat.

Di balik kesuksesan dan keunikan Papermoon Puppet Theatre, terdapat wanita hebat bernama Maria Tri Sulistiati atau akrab disapa Ria.

Di tangannya, boneka yang dahulu hanya dianggap mainan kini berubah menjadi media edukasi bagi siapapun yang melihat.

Bukan wayang

Intip Perjalanan Karir dan Biodata Ria Papermoon, Si Pencetus Pertunjukan Seni Boneka Asal Yogyakarta
Sumber : grid.id

Sering dikira sama padahal berbeda. Dalam bahasa Inggris, Puppet diartikan sebagai wayang.

Namun, Ria menolak menggunakan istilah wayang boneka untuk menggambarkan Papermoon Puppet Theatre.

“Beberapa orang menggunakan terminologi wayang boneka untuk kami. Tapi kami bilang tidak, kami teater boneka,” ujarnya.

Baginya, karena keduanya sama-sama menggunakan obyek dalam pementasannya, maka wayang masuk bagian dari teater boneka,

Sehingga, muncul beragam bentuk wayang mulai dari wayang kulit, wayang golek, hingga wayang orang.

Awal Kemunculan Karya

Wanita lulusan Fakultas Komunikasi, Universitas Gadjah Mada ini mengawali perjalanan Papermoon dari dua kamar kos yang ia sewa sebagai perpustakaan mini pada 2006.

Perpustakaan ini diberi nama sanggar Papermoon yang artinya ‘buatlah bulanmu sendiri, buatlah mimpimu sebesar mungkin‘. 

Seluruh pengiatnya adalah relawan. Seiring berjalannya waktu satu per satu relawan melepaskan diri hingga tersisa Ria dan Iwan Effendi.

Iwan (38) merupakan lulusan seni rupa ISI Yogyakarta. Ia menikahi Ria pada 2007.

Intip Perjalanan Karir dan Biodata Ria Papermoon, Si Pencetus Pertunjukan Seni Boneka Asal Yogyakarta
Sumber : selipan.com

Pada 2008, Ria dan Iwan memadukan seni pertunjukan dan seni rupa, teater dan boneka. Jadilah Papermoon Puppet Theatre.

Ria berperan sebagai penyusun naskah, sementara Iwan dengan latar belakang seni rupa sebagai penerjemah sisi artistiknya

Baginya, kepeduliaan terhadap sesama menjadi fokus naskah-naskah yang ditulisnya..

Karakter teater boneka Papermoon semakin kuat setelah Ria dan Iwan mendapatkan beasiswa mendalami teater boneka di Amerika.

Selama 6 bulan (2009-2010) tinggal di New York, mereka telah mewawancari 70 seniman teater boneka dan menonton puluhan pementasan.

Saat kembali ke Indonesia, program empowering women artist dari Yayasan Kelola dan HIVOS Foundation memberi angin segar bagi dua sejoli ini.

Mereka membiayai proses berkarya Ria selama dua tahun. Hasilnya, muncul karya berjudul Mwathirika (2010) dan Secangkir Kopi dari Playa (2011).

Mwathirika berkisah tentang keluarga kecil yang tercerai berai akibat prahara politik 1965.

Sedangkan Secangkir Kopi dari Playa bercerita tentang pemuda yang gagal menikahi gadis pujaannya karena kuliah di luar negeri.

Dua karya tersebut sukses melesatkan Papermoon Puppet Theater sebagai satu-saatunya teater boneka di Indonesia.

Papermoon menggelar Festival Boneka. Pesta boneka internasional ini digelar dua tahun sekali di Yogyakarta sejak 2008.

Sesuatu yang Mengganggu

Popularitas karyanya membawa berkah sekaligus kesukaran tersendiri bagi Ria.

Menghimpun dari berbagai sumber, Ria menuturkan akibat kibat Papermoon masuk dalam daftar trip AADC 2, studionya kerap kedatangan pelancong tak diundang.

 “Yang menjengkelkan mereka datang cuma mau foto-foto,” ucapnya.

Suatu hari, sebuah pesan masuk ke alamat surat elektroniknya. Si pengirim pesan menyampaikan maksud kunjungannya ke studio Papermoon.

“Ternyata mau pinjam tempat buat foto prewedding,” kata Ria.

Ria merasa agen wisata mencatat nama Papermoon secara sepihak, sehingga Ria merasa tidak nyaman dengan hal tersebut.

Selain itu juga para pelancong kerap datang di waktu yang tak tepat, sehingga persiapan kegiatan pementasan pun terganggu.

Biodata

Nama : Maria Tri Sulistyani

Nama panggung : Ria Papermoon

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 4 November 1981


Pendidikan: S-1 Fisipol UGM (2005)


Karya:

– Pertunjukan “UD. Sari Rosok” di Pulau Natuna yang didukung oelh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau (Agustus 2017)

– MWATHIRIKA, dibiayai oleh Yayasan Kelola dan HIVOS Foundation (2010)

– Setjangkir Kopi dari Plaja” dibiayai oleh Yayasan Kelola dan HIVOS Foundation (2011)

– Pertunjukan “Laki-Laki Laut”, di ARTJOG 2013

Instagram : @riapapermoon


Penghargaan:


– Sebagai perempuan paling menginspirasi oleh majalah Her World Indonesia (2015)

– Sebagai tokoh berpengaruh di industri kreatif kategori seni pertunjukkan oleh Samsung

Fellowship Artist Residency of Hooyong Performing Arts Centre (South Korea), April- May 2009

Fellowship of Asian Cultural Council 2009-2010 in United States

Achievement Award “Empowering Women Artists” by Kelola, HIVOS, Ford Foundation and BIYAN (2010-2011)

Fellowship of AIR Koganecho in Yokohama, Japan ( 2012)

Related Articles

Back to top button