fbpx
Lewat ke baris perkakas
Ragam Bangsa

Gedung Lawang Sewu, Saksi Bisu Pertempuran 5 Hari di Semarang

energibangsa.id — Pertempuran 5 hari yang terjadi dimulai pada 15 hingga 19 Oktober 1945 di Semarang acapkali disebut sebagai Pertempuran 5 Hari Semarang. Tak dipungkiri, pertempuran tersebut selalu diperingati setiap tahunnya sebagai moment penting dalam sejarah nasional.

Lawang Sewu yang berada di kawasan Monumen Tugu Muda dan Museum Mandala Bhakti ternyata ikut menjadi saksi bisu dalam pertempuran tersebut. Tidak banyak yang tahu, padahal sesungguhnya terdapat bekas peperangan yang masih tersisa.

Pada lantai 3 gedung A Lawang Sewu misalnya, terdapat 3 rangka baja yang terhantam mortir, ada yang penyok dan ada pula yang putus. Bukti sejarah tersebut sengaja dibiarkan karena masih mampu menopang dengan kuat.

Tak hanya itu, sungai yang berada di samping bangunan Lawang Sewu juga digunakan untuk meletakkan jenazah korban pertempuran. Lawang Sewu menjadi lokasi pertempuran antara Angkatan Muda Kereta Api dengan Kempetai dan Kidobutai (pasukan Jepang).

Mempertahankan Lawang Sewu

Para pemuda AMKA berusaha mempertahankan Lawang Sewu namun kalah persenjataan dan personel. Pemuda AMKA berusaha menyelamatkan diri dan tercatat ada 12 orang kabur ke toilet, ada pula yang kabur ke menara air bahkan ke belakang lemari.

Untuk mengenang para pemuda yang gugur, dibangun sebuah monumen yang berada di belakang lokomotif yang terpajang di Lawang Sewu. Dalam monumen tersebut terdapat tulisan “Djiwamoe bagaikan sajap pendukung tjita-tjita bangsa. Raga bagaikan alas kemerdekaan nusa”.

Awalnya, Lawang Sewu merupakan kantor pusat Nederlands Indische Spoorweg (NIS) dan sempat juga digunakan sebagai kantor Riyuku Sokyuku (Djawatan Transportasi Jepang).

Kini, Lawang Sewu dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai museum dan tempat wisata. Setiap tahunnya pada tanggal 14 Oktober malam, selalu digelar teatrikal untuk memperingati pertempuran 5 hari di Semarang.

Namun, pada tahun ini digelar secara berbeda mengingat kondisi pandemi COVID-19. Sehingga tidak ada pertunjukkan, melainkan hanya pemutaran video teatrikal tahun lalu yang dapat di akses pada akun Youtube Pemkot Semarang.

Tri Waluyo selaku Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Semarang mengungkapkan bahwa peringatan 5 hari di Semarang pada tahun ini, hanya diisi dengan pembukaan, sambutan, dan penyerahan pin kehormatan bagi para pejuang. Sehingga tidak ada penutupan jalan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Acara tersebut hanya diselenggarakan di halaman museum Mandala Bhakti dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan dilakukan secara terbatas. Selain itu, warga pun diimbau untuk mengibarkan bendera merah putih satu tiang penuh. (dhanti/EB).

Related Articles

Back to top button