fbpx
Kabar Indonesia

Inilah 5 Dampak Pandemi COVID-19 pada Industri Perfilman Indonesia

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Pandemi COVID-19 memang memberikan dampak bagi aspek kehidupan, salah satunya sektor ekonomi bagi industri kreatif perfilman Indonesia. British Council mengadakan diskusi bertajuk tema “ The Launch of Indonesia Distanced Stories Programme” berikut rangkuman diskusinya.

1. Festival film digelar online, salah satu bentuk adaptasi industri perfilman

Camelia Harahap selaku Head of Arts & Creative Industries British Council dan moderator dalam acara diskusi ini mengatakan bahwa ada banyak kolaborasi digital antara film maker di tengah pandemik. Hal ini juga dinyatakan oleh Anne Milne, seorang director dari Skotlandia.

Anne mengatakan bahwa pada saat ini ada banyak festival film yang digelar secara online.

“Dulu kita gak bisa datang ke banyak acara festival di waktu yang sama. Selain mahal, waktunya juga gak cukup. Tapi, sekarang kita mampu melakukannya,” tuturnya.

Selain itu, menurut Mandy Marahimin seorang Interim Director dari In-Docs, hal ini menjadi salah satu buah manis dari perkembangan teknologi.

“Kayanya sih model hybrid ini bakal tetap dilakukan seusai pandemik karena convenient. Tapi, kita tetap gak bisa menggantikan interaksi langsung antara film maker di festival offline,” ujarnya.

2. Salah satu hal baik yang terjadi saat ini, ialah jumlah subscription di aneka platform film yang meningkat pesat

Karena setiap orang banyak menghabiskan waktunya di rumah, mereka pun mencari bentuk hiburan yang mudah. Salah satu caranya adalah dengan berlangganan platform film ternama.

“Selain itu, saat ini banyak banget yang buat acara webinar nonton film bareng. Ini jadi ajang sosialisasi yang menarik banget saat ini,” tutur Camelia.

Dari sudut pandang pekerja industri film, ada beberapa halangan yang terjadi. Salah satunya karena disebabkan oleh terbatasnya kontak manusia.

“Ada banyak industri film yang akhirnya terpaksa tutup,” tutur Anne.

Memanfaatkan aplikasi meeting online seperti Zoom, Anne pun merancang kegiatan workshop bersama 44 film maker untuk membuat kumpulan film pendek. Ia menuturkan,

“Karena shooting-nya banyak dilakukan di rumah, jadi nuansanya tuh domestik banget”.

Sedangkan, menurut Mandy selain faktor ekonomi. Hal ini juga berdampak positif pada kondisi lingkungan hidup.

“Kita bisa sekalian mengurangi jejak karbon. Tapi, tetap bisa bersosialisasi dengan cara yang unik,” pungkasnya.

3. Drive-in Cinema, mulai dilirik kembali oleh penikmat film

Drive-in theater atau drive-in cinema menjadi salah satu alternatif hiburan yang kembali dilirik oleh masyarakat Indonesia. Walau menurut Camelia dan Mandy tetap ada experiences yang gak bisa sepenuhnya digantikan ketika kita menonton bioskop seperti dahulu kala.

“Aku belum pernah cobain langsung sih, tapi penasaran juga. Cuma menurut teman-temanku, ada interaksi sosial dan diskusi yang gak bisa dilakukan kaya dulu lagi,” ujar Mandy.

4. Meski banyak tantangan, mereka percaya bahwa pekerja kreatif bisa tetap aktif berkarya di tengah pandemic

British Council telah bekerja sama dengan In-Docs dan Scottish Documentary Institute untuk mengadakan workshop pembuatan film dokumenter. Bertajuk “Indonesia Distanced Stories”, acara ini punya goals untuk bisa memproduksi 6 film pendek selama 3 bulan.

“Kita akan memberikan beberapa kelas dari mulai bahas tentang bahasa visual sampai bagaimana membangun cerita yang baik,” tutur Anne.

“Tentunya ini gak akan mudah, tapi itu bagian serunya. Setiap kali kita menghadapi tantangan, di situlah kita jadi orang yang lebih kreatif lagi karena memikirkan solusinya,” tambahnya.

Mandy Marahimin menuturkan pandangannya selaku film maker dari Indonesia. Ia mengatakan bahwa ada banyak rintangan berat yang dilalui oleh para pekerja film di tanah air.

“Ada yang harus berhenti shooting, tapi ada juga yang ngelanjutin tapi tentunya dengan pakai protokol kesehatan yang berlaku,” ujarnya.

Protokol kesehatan yang harus dipatuhi tersebut membuat mereka harus beradaptasi dan mengubah beberapa skrip dan scene. Ia menambahkan,

“Mereka juga harus shooting dengan jumlah crew yang lebih sedikit dan memanfaatkan tempat yang lebih terbatas”.

Walau begitu, ia pun setuju kalau situasi sulit ini dapat dilalui dengan cara tetap bersikap adaptif dan kreatif di tengah pandemik.

5. Tentang “Indonesia Distanced Stories”

Program “Indonesia Distanced Stories” dikerahkan untuk menjadi lahan belajar bagi para pemula di industri perfilman.

“Aku paling suka dengan tema yang personal, karena pasti ada banyak yang sebenarnya bisa dibahas,” tutur Anne.

“Pandemik ini memang menciptakan banyak batasan, tapi juga ada kesempatan yang bisa kita gali,” ujar Mandy.

Salah satunya adalah banyaknya waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan riset dan belajar lebih banyak hal tentang film.

Ada dua orang mentor asal Indonesia yang juga akan ikut di dalam workshop.

“Acara ini akan digelar online, jadi cukup terbuka buat audiens yang emang tertarik untuk mempelajari film dokumenter,” kata Mandy sambil tersenyum.

Itu dia beberapa hal penting dari diskusi tentang situasi dunia perfilman di Indonesia saat pandemik Covid-19. Untuk informasi lebih lanjut mengenai “Indonesia Distanced Stories”, kamu bisa langsung mengunjungi laman media sosial British Council, ya! (dhanti/EB/idntimes).

Related Articles

Back to top button