fbpx
Essai

Ini yang Shopee Lakukan untuk Menguasai Indonesia

Energibangsa.id – Dulu sebelum ada Shopee, marketplace-marketplace besar sepertinya masih kebingungan gimana caranya memindahkan transaksi yang banyak terjadi melalui sosial media ke marketplace mereka.

Shopee sedikit demi sedikit mengadakan pendekatan dengan seller-seller di instagram dan merayu mereka buat pindah ke Shopee.

Shopee sepertinya sangat fokus mengkonversi pasar ‘perempuan’ di Indonesia.

Mereka benar-benar mencari tau kebiasaan apa yang ada di sosial media dan mencoba sedikit demi sedikit mensimulasikannya ke marketplace.

Hasilnya? Komposisi pengguna perempuan lebih banyak dari kaum pria dan ini adalah kontribusi yang besar terhadap kesuksesan Shopee

Shopee bisa Mengakomodasi Penjualan Lintas Negara

Di awali dengan memfasilitasi pedagang-pedagang online dari Cina dan Korea untuk berjualan langsung di Shopee Indonesia. Jadi semua urusan jalur pengiriman, translate produk, konversi pembayaran dll semua diatur oleh Shopee.

Sebagai pedagang di Shopee juga saya sebenarnya nggak gitu suka langkah ini karena membuat pedagang lokal berhadapan langsung dengan pedagang dari Cina dengan ongkir yang sama seperti membeli di pedagang lokal. Waktu pengirimannya pun hanya 1-2 minggu aja. Cepet banget!

Tapi sebagai konsumen ya jujur aja saya juga lebih suka belanja di Shopee ketimbang belanja di situs luar negeri seperti Aliexpress. Semuanya jauh lebih mudah, harga juga sudah termasuk pajak jadi nggak perlu bayar pajak lagi ke tukang pos.

Tapi Shopee juga sedang melakukan hal yang sama untuk penjual-penjual di Indonesia, beberapa penjual terpilih, produknya sudah dipasarkan ke Shopee Singapura/Shopee Filipina

Shopee Punya Toko Sendiri

Jujur buat saya ini salah satu langkah Shopee yang ‘mengerikan’. Coba bayangin deh, sebagai yang punya ‘marketplace’, Shopee memegang semua statistik penjualan, harga dan data-data konsumen.

Shopee bisa dengan mudah menggunakan data tersebut untuk berjualan dan menikmati profit sendiri. Kalo Shopee mau pun dia bisa mengatur kapan produknya bisa ada di halaman depan.

Saya tidak tahu apakah ini etis atau tidak, tapi sepertinya Shopee memang mengambil langkah ini mungkin untuk menambal biaya promosi yang gila-gilaan.

Oh iya punya ‘toko sendiri’ di sini sepertinya agak berbeda ya dengan fasilitas gudang/fulfillment, walau mungkin memang sistem pengadaan barangnya sama (barang titipan) tapi di sini Shopee memang membuat toko khusus sendiri seperti E-Mart (menjual aksesoris gadget) dan S-Mart (menjual kebutuhan groceries).

Shopee punya Kurir Sendiri – Shopee Express

Shopee pun sudah punya ekspedisi pengirimannya sendiri loh dan Shopee bisa dengan mudah membuat ‘kurir’nya ini diprioritaskan dengan menjadikan kurirnya sebagai ‘default’ jadi kalo penjual mengaktifkan beberapa ekspedisi pengiriman, ketika pembeli checkout secara default, kalo si pembeli tidak mengubah kurir pengiriman maka ekspedisi yang digunakan adalah ekspedisi “default”nya yaitu Shopee Express.

Shopee punya Sistem Pembayaran Sendiri

Ini yang paling luar biasa, entah bagaimana nampaknya Shopee bisa dengan mudah menciptakan sistem pembayarannya sendiri – ShopeePay.

Padahal, dulu kompetitor-kompetitornya seperti Tokopedia dan Bukalapak pernah mencoba hal yang sama tapi ujung-ujungnya harus menggandeng sistem pembayaran pihak ke-3 (OVO, Dana) karena sistem pembayaran mereka sendiri tidak disetujui.

Shopeepay juga sudah merambah fungsinya ke outlet-outlet penjualan offline. Jadi, penggunaannya bukan terbatas hanya di aplikasi Shopee aja, sedikit demi sedikit Shopee juga mau bersaing dengan e-wallet besar lainnya.

Sampai sini mulai kebayang nggak betapa ‘mengerikannya’ Shopee ke depan? Sudah mengerti kenapa Shopee mampu menggeser Bukalapak dan Tokopedia? Shopee punya target yang nggak tanggung-tanggung dan ini semua dilakukan secara sistematis.

Tokopedia dan Bukalapak hanya fokus mengkonversi pengguna, tapi Shopee bukan hanya soal konversi tapi juga fokus menciptakan infrastruktur.

Semua infrastruktur marketplace sedikit demi sedikit dibangun oleh Shopee dan nampaknya langkah-langkah mereka sudah membuahkan hasil karena tahun 2020 ini mereka berhasil menggulingkan Tokopedia dari peringkat pertama marketplace yang paling banyak digunakan di Indonesia dan di Asia Tenggara.

Sebagai konsumen saya sih lebih suka kalo persaingan marketplace terus berlangsung, soalnya kalo hanya ada 1 yang terbesar nanti nggak ada lagi promo-promo ‘bakar duit’ yang menguntungkan konsumen. Makanya semoga aja Tokopedia atau marketplace lain bisa menciptakan langkah inovatif lainnya yang bisa meredam laju Shopee di Indonesia. (*)

* Yanuar Aris Budiarto, Digital Consultant

Related Articles

Back to top button