miskin
Essai

Ini Penjelasan Ilmiah Kenapa yang Miskin Tetap Miskin dan yang Kaya Makin Kaya

0

oleh : Adrian Muhammad *

ENERGIBANGSA.ID – Saya liat kebanyakan orang hanya menganggap indikator penyebab kaya dan miskin hanya dari sisi pola pikir dan mental saja.

Menurut saya itu terlalu menyepelekan tantangan yang dihadapi orang miskin, sebab memiliki mindset dan mental kaya saja tidaklah cukup.

Saya ilustrasikan dengan 2 contoh: Sii A dan sii B.

Sii A adalah anak pengusaha yang digaji 100 juta per bulan dari bisnis bapaknya.

Sementara B adalah anak orang miskin yang bekerja keras dan berhasil mendapatkan kerja di perusahaan swasta kecil. Namun karena tidak memiliki duit untuk melanjutkan sekolah, B “mentok” bergaji 5 juta per bulan. Buat dia tapi sudah cukup.

B tidak berpola pikir “stereotipikal miskin” (ngutang sana sini untuk beli barang tidak berguna), ia sangat bertanggung jawab dengan keuangannya.

Meskipun sangat sempit, B selalu menabung lebih dari setengah gajinya, 3 juta setiap bulan untuk diinvestasi ke deposito yang paling aman berbunga 6% per tahun, karena tidak berani toleransi resiko.

Sementara sii A memiliki “sifat orang miskin”, menghabiskan gajinya setiap bulan, bahkan terkadang sampai berhutang. Pengeluarannya kebanyakan untuk berpesta dan buka meja di club serta berjalan-jalan minimal ke Bali setiap minggu. Kerjanya cukup ringan sekedar menelpon pembeli potensial dan jika deal, dapet bonus.

Mari kita mulai dari keduanya berumur 30 di tahun 2018.

2025

Setelah berpesta dan konsumsi alkohol yang berlebihan semenjak remaja, sii A disarankan dokter untuk berhenti atau konsekuensinya bisa fatal.

Sii A berhenti, dan tiba-tiba nyadar betapa banyak duit yang tersisa saat dia tidak berpesta setiap hari dan keluar kota setiap minggu. Kali ini dia memutuskan, tidak mau buka meja lagi dan ke Balinya jadi 2 minggu sekali saja.

Tapi selain itu tidak ada perubahan signifikan dalam hidupnya, makan mahal dan ngemall tiap hari masih wajib. A sadar mau seboros apapun dia sekarang, masih ada sisa setidaknya 50 juta per bulan yang dia bingung juga mau dibeli apa. Dari rekomendasi teman-temannya, A dikenalkan ke manajer investasi boutique yang bisa menjamin bunga 13% dengan resiko rendah, hanya untuk investor besar.

2030

A dan B sudah berumur 42 tahun.

Buat sii B, tidak ada bedanya, ia sudah dewasa semenjak dulu dan sudah memaksimalkan kerja dan tabungannya.

Untuk sii A, umurnya sudah mulai mengejar gaya hidupnya. Kehidupan jetset hedonisme sudah tidak menarik lagi, jadi sii A mulai berganti hobi ke hal-hal lain seperti mengoleksi karya seni, dimana harganya bisa mengapresiasi secara signifikan. A juga bisa dekat dengan komunitas kolektor lain yang bisa jadi rekan bisnis dan clientnya. Sekarang dengan pola pikir baru dan perubahan lifestylenya, sii A bisa investasi sekitar 70 hingga 80 juta per bulan.

2045

Sudah menjelang waktu memikirkan pensiun. Mari kita lihat keuangan sii B yang rutin menabung 3 juta per bulan secara kontinyu.

lumayan, tapi ini belum menghitung inflasi. Jika kita anggap rata rata inflasi 3% (optimis), pada tahun 2045, biaya hidup akan kurang lebih 2.21 kali lipat harga sekarang.

Skenario terbaik: B bisa pensiun dengan membeli rumah di kampung dan hidup pas-pasan saja jika tidak mau kerja lagi. Setelah hidupnya bekerja keras dan menabung lebih dari setengah penghasilannya yang kecil.

Tapi kenyataanya mayoritas orang, miskin atau kaya pun, tidak sedisiplin (tidak banyak yang bisa hidup dengan 2 juta sebulan) atau “seberuntung” B.

Bagaimana yang keluarganya kena penyakit yang biayanya ratusan juta hingga milyaran?

Bagaimana yang kena kecelakaan sehingga harus berhenti kerja?

Memang banyak dari mental dan pola pikir orang miskin memperburuk keadaan yang mereka sendiri hadapi seperti:

  • Tidak menabung
  • Tidak merencanakan keluarga dan beranak sesukanya
  • Ngutang

Tapi kita juga harus ingat bahwa Kenyataannya untuk orang seperti B, prospek kemiskinan selalu menunggu dekatnya saja.

Untuk merubah nasibnya, tidak sesederhana “merubah pola pikir”. Seorang miskin bisa memiliki pola pikir yang sempurna tapi tetap saja miskin.

Saya tahu hal ini karena ada beberapa mitra saya orang yang sangat jujur dan pekerja keras, namun tidak memiliki naluri bisnis. Jadi harus membangun secara perlahan seperti pola si B.

Mereka tidak bisa kehilangan fokus selama puluhan tahun kedepan, dan berdoa terus agar tidak kena musibah. Jika Tuhan memberkati, mereka pensiun dengan duit pas-pasan di umur 60-an.

Lalu bagaimana dengan sii A ?

Sii A semakin kaya, bahkan tanpa mengeluarkan keringat.

maka pelajaran yang bisa diambil adalah :

Investasi dengan pola Compound Interest (Bunga berbunga) adalah hal yang sangat luar biasa. Tapi jelas jauh lebih menguntungkan yang “berada” daripada yang “pas-pasan”.

Inilah yang membuat orang kaya menjadi lebih kaya. Mereka mempunyai lebih banyak duit nganggur dari awal. Oleh karena itu, mulailah menabung dan invest secepatnya di sini.

Jauh lebih mudah untuk orang kaya menjadi lebih kaya. Jauh lebih mudah untuk orang miskin menjadi lebih miskin. Dari pengalaman saya hanya sifat-sifat ekstrim (Narkoba, Alkohol, Judi, Main Wanita, Investasi bodong/resiko tinggi) yang bisa membuat orang yang beneran kaya jatuh miskin.

Sebaliknya sifat sifat ekstrim juga (kerja sangat keras, naluri bisnis yang luar biasa) yang membawa orang miskin jadi kaya (dengan cara yang jujur).

Semakin kaya, semakin banyak pintu yang terbuka. Bukan hanya akses ke institusi keuangan yang lebih canggih. Tapi juga betapa banyak bonus, poin-poin dan gratisan yang didapatkan seorang berada.

Teman saya, seorang investor, selalu mendapatkan iPhone yang terbaru gratis dari Banknya, serta hadiah berharga lain. Berbagai Mall memberikan poin-poin yang bisa diubah ke voucher makan dan belanja untuk pelanggan setianya.

Belum poin kartu kredit, frequent flyers, diskon pembelanjaan besar, cashback dan lain lain. Sangat ironis namun memang kenyataan bahwa hidup orang kaya penuh dengan gratisan, bonus dan diskon sementara orang miskin harus membayar penuh terus.

*Adrian Muhammad, Pengusaha kecil, penulis, pecinta alam dan budaya, belajar di Universitas Indonesia.

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Hasil Riset di Indonesia: Anak Miskin akan Tetap Miskin Saat Dewasa Nanti, Kecuali Melakukan Hal Ini

Previous article

Investasi Pertahanan Negara, Prabowo akan Rekrut Pelajar hingga Mahasiswa Jadi Tentara Sukarela

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Essai