fbpx
Seni Sastra & Budaya

Ini Lho Sejarah dan Asal Muasal Wayang Kulit!

ENERGIBANGSA.ID – Sobat Energi pasti tahu kan kesenian khas jawa, Wayang Kulit? Sudah lebih dari satu dekade lho kesenian wayang kulit dinobatkan sebagai masterpiece bagi kebudayaan dunia. Bahkan, UNESCO pun telah mengakui seni pertunjukan wayang Indonesia. Tapi, sobat energi sudah tahu belum sejarah dan asal muasalnya? Simak penjelasannya berikut ini!

Asal Muasal

Awalnya wayang kulit merupakan salah satu seni pertunjukan kebudayaan dari Jawa. Terdapat perbedaan dua pendapat terkait penjelasan makna kata wayang tersebut. Pertama berpendapat bahwa kata wayang itu asalnya dari kata “Ma Hyang” artinya dewa, roh spiritual atau juga berarti Tuhan yang Maha Esa. Pendapat yang kedua yaitu berasal dari bahasa Jawa yang artinya bayangan. Itu disebabkan di dalam pertunjukan wayang kulit sendiri hanya bisa melihat bayangan dari bentuk wayang kulit yang dipertunjukkan.

Wayang kulit ini merupakan kesenian yang populer dari daerah sekitar provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Selain itu, wayang kulit juga sudah sangat dikenal di luar Indonesia yakni dunia mancanegara. Wayang kulit mulai terkenal di berbagai negara berkat Ki Purbo Asmoro. beberapa negara yang menjadi tujuan Ki Purbo Asmoro seperti Prancis, Yunani, Inggris, Thailand, Austria, Jepang, Singapura, Bolivia, Amerika dan lain sebagainya.

Sejarah Wayang Kulit dan Kebudayaan Hindu Budha

Wayang Kulit memang tidak lepas dari sejarah wayang pada umumnya. Apabila melihat kembali catatan sejarah, maka sebelum abad pertama masih belum ada bukti konkret terkait seni wayang. Hal tersebut juga bertepatan di Asia Tenggara telah masuk budaya hindu-budha ke Asia Tenggara.

Hipotesis tersebut semakin kuat dengan adanya pernyataan bahwa seni wayang kulit memang mayoritas mengangkat tentang cerita Mahabharata dan Ramayana. Meskipun hal tersebut bukan menjadi standar yang mengikat dalang wayang kulit. Sebab pada setiap pertunjukan wayang kulit, seorang dalang boleh-boleh saja membuat pertunjukan dari gubahan atau lakon carangan.

Seorang budayawan terkemuka bernama Jivan Pani memiliki pendapat bahwasannya yang telah berkembang dari 2 jenis seni dan berasal dari Odisha, India Timur yakni Ravana Chhaya. Itu adalah sebuah seni teater boneka serta tarian Chhau. Dari situlah kemudian berkembang suatu hipotesis baru yang menyatakan bahwasanya telah ada satu kesatuan antara akulturasi kebudayaan Tiongkok atau India sehingga tercipta kesenian wayang kulit di Indonesia. Hal tersebut juga dikarenakan India dan Tiongkok punya tradisi terkait penggunaan bayangan pada boneka maupun pertunjukan teater keseluruhan yang sudah turun-temurun.

Wayang Kulit di Zaman Kerajaan

Catatan merupakan bukti konkret dari wayang kulit di zaman kerajaan. Catatan tersebut mengacu terhadap sebuah prasasti dari tahun 930. Prasasti tersebut telah menyebutkan terkait seorang dengan sebutan galigi mawayang. Galigi yang dimaksudkan tersebut yaitu salah seorang dalang pada pertunjukan wayang kulit. Sesuai dengan kitab “Kakawin Arjunawiwaha” yang dibuat oleh Empu Kanwa di tahun 1035 yang mendeskripsikan sosok galigi merupakan seseorang yang cepat, hanya memiliki jarak 1 wayang dari jagatkarana. Galigi juga merupakan dalang terbesar yang hanya memiliki jarak 1 layar dari kita.

Wayang Purwa merupakan wayang pertama yang dimiliki oleh raja Kediri yaitu Sri Jayabaya pada tahun 939 Masehi. Kemudian wayang Purwa tersebut dikembangkan lagi oleh Raden Panji pada tahun 1223 Masehi di Jenggala. Selanjutnya Raden Jaka susuruh telah menciptakan wayang dari kertas pada tahun 1283 Masehi. Wayang tersebut dikenal dengan sebutan wayang beber. Pada tahun 1301 Masehi, karakter wayang beber telah berkembang karakter sesuai dengan adegannya.

Wayang Kulit pada Zaman Kerajaan Islam

Sejarah dan asal muasal wayang kulit pada zaman kerajaan Islam tentunya tidak lepas dari salah satu seorang wali yang sangat terkenal yaitu sunan Kalijaga. Nama asli beliau adalah Joko Said yang telah lahir pada tahun 1450 Masehi. Sedangkan wayang kulit yang ada saat ini merupakan karya inovasi dari Joko Said atau sunan Kalijaga. Wayang beber kuno yang mana menggambarkan wujud dari manusia dengan sektor mungkin telah dibuat menjadi samar-samar.

Beberapa karakter seperti Petruk, Bagong serta Gareng merupakan karakter atau lakon yang telah diciptakan oleh sunan Kalijaga. Beberapa lakon tersebut telah dibuat dengan sedemikian rupa supaya bisa membawa nafas-nafas islami ketika pertunjukan wayang kulit. Apalagi pada saat itu masyarakat masih didominasi oleh kebudayaan Hindu Budha.

Sedangkan sekarang telah tercipta beberapa istilah terkait pewayangan. Semuanya serapan dari bahasa Arab seperti:

· Dalang yang asalnya “Dalla” artinya menunjukkan. Sunan Kalijaga telah memilih kata itu lantaran beliau ingin para dalang mampu memberikan jalan kebenaran pada penonton.

· Tokoh Semar yang diambil dari kata “Simar” yang artinya paku. Beliau memilih kata tersebut dengan tujuan agar tokoh Semar bisa menginspirasi banyak orang supaya punya karakter iman yang kokoh layaknya paku.

· Tokoh Petruk yang diambil dari kata “Fat-ruuk” yang artinya teman. Beliau memilih kata tersebut dengan tujuan supaya tokoh Petruk bisa menunjukkan kepada para penonton bahwa seseorang harus bisa meninggalkan semuanya selain Allah semata.

· Tokoh Gareng diambil dari “Qarin” artinya teman. Sunan Kalijaga telah memilih kata tersebut dengan tujuan seorang muslim harus pandai-pandai untuk mencari teman yang akan di ajaknya menuju Jalan kebaikan.

· Tokoh Bagong diambil dari “Baghaa” artinya berontak. Sunan Kalijaga telah memilih kata tersebut dengan tujuan seorang muslim harus bisa memberontak saat ia melihat kezaliman yang ada di depannya.

Wayang di Dunia Internasional

Di dunia internasional sendiri, wayang kulit telah dinobatkan sebagai karya kebudayaan yang sangat mengagumkan pada bidang warisan serta cerita narasi. Penobatan tersebut diberikan pada 7 November 2003. Wayang kulit juga telah masuk daftar UNESCO sebagai budaya tak benda warisan manusia. Kemudian pada tanggal 21 April 2004 telah dilakukan upacara penyerahan penghargaan pada wayang kulit di Perancis.

Nah, itulah tadi ulasan terkait sejarah dan asal muasal wayang kulit. Dengan sejarah yang panjang tersebut sehingga sampai pada saat ini wayang kulit telah menjadi warisan budaya dan telah mendunia, tentunya kita sebagai masyarakat Indonesia layak untuk berbangga. (dhanti/EB/medium).

Related Articles

Back to top button