fbpx
Ekonomi & Bisnis

Ini Daftar Startup Indonesia yang Berpotensi Diincar Investor

Oleh : Devita Sari Alumnus Universitas Andalas

ENERGIBANGSA.ID—Perkembangan startup lokal tidak dapat dianggap sebelah mata. Berdasarkan data Global Start Up Ecosystem Report 2020, Indonesia menempati peringkat kedua dalam Top 100 Emerging Ecosystem. Hal tersebut menunjukkan perkembangan startup Tanah Air telah menjadi salah satu industri perusahaan rintisan berbasis teknologi, sehingga dilirik oleh banyak investor.

Startup tidak hadir begitu saja di tengah masyarakat. Awal mula startup terjadi pada akhir tahun 90-an hingga awal tahun 2000-an. Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat potensial untuk perkembangan startup.

Pengguna internet di Indonesia semakin bertambah setiap harinya. Peningkatan kualitas jaringan internet di seluruh wilayah Indonesia serta semakin terjangkaunya harga smartphone turut menyumbang pertambahan angka pengguna internet di Indonesia. Hal ini menjadi faktor pendukung kesuksesan startup.

Fenomena startup tanah air

Indonesia sendiri sudah mencetak beberapa startup yang sukses dan telah dikenal oleh dunia. Rintisan startup baru Indonesia kini telah menjamur serta berlomba-lomba memberikan layanan dan inovasi terbarukan dalam membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat. Tak hanya itu, dengan adanya komunitas ini juga turut membantu perekonomian nasional.

Membangun sebuah startup tentunya tidak hanya dibuat berdasarkan ide dan modal saja melainkan juga memiliki kolaborasi dari tim eksekusi yang baik. Mengulik sisi startup yang dulunya dibangun dari 0 kemudian bisa mencapai unicorn.

Unicorn yang dimaksud di sini adalah startup yang sudah mengantongi value sebesar 1 miliar dolar AS. Jika dilihat dari perjalanan beberapa unicorn Indonesia seperti gojek, Traveloka, Bukalapak, Tokopedia, ada dua hal yang menjadi rahasia dalam membuat startup dari nol. Pertama teknologi, kedua dengan memanfaatkan peluang.

1.Go-Jek

Didirikan oleh Nadiem Makarim, Kevin Aluwi, dan Michaelangelo Moran pada tahun 2010. Gojek sebelum tahun 2015 hanyalah perusahaan dengan satu call center dan 20 pengemudi. Titik balik GO-JEK bermula tahun 2015. Tren smartphone yang sedang booming membuat Go-Jek mengambil peluang untuk memaksimalkan fitur aplikasi mobile dalam menjangkau banyak orang.

Go-Jek mulai menambahkan armada ojek online-nya sebesar 800 pengemudi. Sejak saat itu pengguna layanan Go-Jek selalu naik hingga sekarang. Tidak sampai di situ, Go-Jek selalu melihat potensi pasar hingga mencoba menghadirkan produk layanan lain seperti Go-Car sebagai layanan transportasi yang lebih nyaman dibanding ojek.

Pun dengan Go-Pay untuk mengakomodasi orang yang malas punya uang tunai hingga variasi layanan Go Send, Go Message dan lainnya. Go-Jek selalu mengikuti perkembangan audiens agar produknya tetap relevan.

Go-Jek pertama kali dinobatkan sebagai unicorn setelah mendapatkan pendanaan sebesar US$550 juta. Yaitu, sekitar Rp7,5 triliun pada Agustus 2016 dari konsorsium delapan investor yang dipimpin oleh Sequoia Capital dan Warburg Pincus LLC, dua perusahaan investasi papan atas asal AS.

Kucuran dana dari sejumlah konsorsium investasi global itu membuat Go-Jek berhasil meraup US$1 miliar pertamanya. Value terakhir Go-Jek juga diperkirakan telah menembus US$423 miliar setara Rp331 triliun. Sayangnya pandemi Covid-19 membuat Go-Jek tak luput dari imbasnya. Baru-baru ini mereka menghentikan lini bisnis yang tidak bisa berjalan akibat pandemi.

2.Traveloka

Keresahan Ferry Unardi dalam memesan tiket pesawat dari Boston ke Padang membuat ia mencetuskan sebuah ide layanan Traveloka bersama dua temannya Albert Zhang dan Derianto Kusuma pada tahun 2012. Tapi tidak semudah itu ia membangun Traveloka. Ada banyak rintangan yang harus mereka lewati. Dalam waktu lima tahun, kegigihan mereka terbayarkan.

Traveloka langsung menjadi salah satu unicorn di Indonesia. Tentunya, setelah mendapatkan pendanaan dari perusahaan travel asal Amerika Serikat (AS) Expedia pada pertengahan tahun 2017 senilai US$350 juta atau sekitar Rp4,6 triliun. Traveloka yang dulu hanya sebagai referensi pembanding harga tiket pesawat kini bertranformasi menjadi layanan pariwisata.

Tahun lalu (baca: 2019), beberapa sumber laporan mengestimasi value Traveloka menyentuh angka US$4,5 miliar atau senilai hampir Rp.65 triliun. Namun semua bisnis di lanskap OTA ini harus mengalami gangguan besar akibat pandemi.

Dikutip dari katadata.com, Ferry menyampaikan bahwa permintaan konsumen menurun drastis pada Juli diikuti pengembalian dana (refund) yang melonjak signifikan. Ini mengakibatkan bisnis Traveloka jatuh ke titik terendah. Namun tidak menjadi hambatan baginya, sebab Ferry optimis perusahaannya akan bangkit kembali dengan strategi penyesuain bisnis secara cepat.

Kini tidak hanya dikenal sebagai unicorn di vertical online travel, Traveloka saat ini sudah melanglang buana di tujuh negara. Fokus layanannya tidak hanya akomodasi dan transportasi. Bisnis perusahaan ini sudah merambah ke gaya hidup dan finansial.

3.Bukalapak

Buka lapak awalnya hanya bermodalkan 80 ribu rupiah. Bukalapak didirikan oleh Achmad Zaky bersama dua orang temannya, yakni Nugroho Herucayhono dan Fajrin Rasyid pada tahun 2010. Bermodalkan website yang digunakan sampai sekarang, Bukalapak selalu berusaha untuk menampilkan antarmuka yang memudahkan pengguna mulai dari awal masuk website hingga pembelian.

Bukalapak sendiri memiliki tim UI dan UX yang selalu melakukan riset untuk menampilkan antarmuka yang terbaik. Meraup value mencapai 14 triliun rupiah merupakan suatu keberhasilan Bukalapak yang terus memaksimalkan fitur-fitur yang ada bagi audiens. Analisis dan riset pasar juga menjadi point utama Bukalapak untuk bisa meluncurkan produk-produk yang relevan dengan pasar.

Bukalapak masuk dalam daftar startup unicorn Indonesia bidang e-commerce kedua setelah Tokopedia. Kini status Bukalapak bukan lagi startup. Masuk tahun ke-10, perusahaan mencapai milestone dengan lebih dari 70 pengguna dan kunjungan ke aplikasi tembus 420 juta kali per bulan. Ada lima juta pelapak dan tiga juta Mitra Bukalapak telah bergabung.

4.Tokopedia

Tokopedia berawal dari website yang kemudian dikembangkan dengan meluncurkan aplikasi mobile. Pertama kali didirikan oleh dua sekawan, William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pada tahun 2009.

Tokopedia berani berinovasi dengan menggandeng pemerintah untuk membuat MAKERFEST saat industry kreatif lokal belum berkembang pesat. Tokopedia juga sempat meluncurkan Tokopedia Center di beberapa kota.

Berawal dari keinginan audiens yang masih melakukan jual beli secara Online to Offline (O2O), Tokopedia Center menawarkan audiens jual beli secara O2O, bayar tagihan, hingga membuat usaha daring sendiri. Hal ini mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan membuat Tokopedia menghadirkan produk-produk sesuai kebutuhan masyarakat.

Tokopedia berkembang pesat menjadi platform e-commerce raksasa di Indonesia. Startup di bidang e-commerce ini mendapat status unicorn Indonesia di tahun 2017 dengan perolehan dana senilai US$1,1 miliar atau setara Rp14 triliun yang dipimpin Alibaba.

Pada 2020, Tokopedia mengklaim telah menguasai 1,5% perekonomian Indonesia. Tidak kurang dari 7,2 juta UKM telah bergabung dengan jumlah pengguna aktif bulanan mencapai 90 juta pengguna. Value mereka diperkirakan akan mencapai US$8 miliar hingga US$9 miliar.

Laporan Gross Merchandise Value (GMV)

Di kutip dari situs dailysocial.id, pandemi Covid-19 tengah mendorong pengguna internet di regional. Tercatat ada sekitar 40 juta pengguna baru di tahun 2020. Di level Asia Tenggara, total ada sekitar 400 juta pengguna internet setara dengan 70% dari total populasi. Adanya pembatasan sosial seperti kegiatan bekerja/ sekolah dari rumah tentunya membentuk kultur baru yang berdampak pada konsumsi layanan digital yang meningkat drastis.

Gross Merchandise Value (GMV) yang menjadi matriks untuk mengukur unit ekonomi dalam laporan ini, mengisyaratkan pada nilai transaksi/ penjualan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu oleh pengguna. GMV pada ekonomi internet di Asia Tenggara mengakumulasi dari nilai yang didapat dari 7 sektor yang disorot dan diproyeksi akan melebihi US$100 miliar. Sementara Indonesia akan memberikan sumbangsih US$44 miliar atau setara Rp621 triliun.

Di Indonesia, mayoritas GMV masih disokong oleh layanan e-commerce, yaitu sebesar US$32 miliar, disusul platform transport & food senilai US$5 miliar, online media US$4,4 miliar, dan online travel US$3 miliar. Hal ini tentunya akan membuat bisnis startup menjadi potensi validasi baik untuk arah pertumbuhan ekonomi digital.

Meskipun Covid-19 memberikan dampak hebat pada beberapa sektor bisnis. Namun dari sini kita bisa melihat bagaimana penyelenggara digital mampu beradaptasi cepat. Pandemi sendiri sebenarnya tengah mematangkan tingkat adopsi digital masyarakat.

Keuntungannya bagi pemain digital akan terlihat setelah di kemudian hari. Saat pembatasan sosial berlaku,masyarakat dapat mulai membiasakan belajar, belanja, konsultasi Kesehatan, dan lainnya secara online.

Bisa jadi ini merupakan awal kebiasaan baru yang bersifat seterusnya. Apalagi jika platform mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut dengan baik. Tujuannya, memberi kesan yang lebih menyenangkan. (*)

Related Articles

Back to top button