fbpx
Energi Muda

Ini Alasan UMKM Sebaiknya Tidak Jualan di Bukalapak, Tokopedia, dan Sejenisnya

ENERGIBANGSA.ID – Sebagaimana kita ketahui marketplace digital (pasar online) seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, semakin hari semakin banyak. Mulai dari yang berbasis di ibu kota hingga yang kantornya di kota kecil. Dari yang bikinan swasta hingga bikinan Pemerintah Kota, maupun Pemerintah Provinsi.

Apakah pasar online membuka peluang untuk berjualan? tentu saja iya, karena pasar online seperti Bukalapak, Shopee, Tokopedia memberikan kemudahan transaksi, dan akses promosi. Belum lagi ada promo-promo menarik seperti cashback dan gratis ongkir bagi pembeli, tentu sangat menggiurkan pembeli.

Hampir semua marketplace online mengeklaim kalimat sakti “saatnya UMKM naik kelas!” namun Yanuar Aris Budiarto, founder soluxee memiliki pandangan lain mengenai marketplace dan UMKM.

“marketplace itu pasar online, beda dengan toko online,” ucapnya mengawali penjelasan dalam sebuah diskusi industri ecommerce enabler di UNWAHAS Semarang (20/7). “Ibarat pasar, itu yang jualan hanya punya kios, bukan punya pasarnya,” lanjutnya.

Pertarungan Brutal

Menurutnya marketplace online seperti Tokopedia, Bukalapak, Blibli, Lazada, Shopee bagi pelaku UMKM adalah arena pertarungan pasar yang brutal.

Di marketplace online konsumen datang untuk mencari sebuah komoditas atau barang dengan harga yang bersaing, bukan mencari sebuah brand (merk) di lapak langganannya.

“Kalaupun ada, itu jarang, kalaupun ada pembeli masuk di lapak toko langganannya, ia punya keleluasaan yang sangat tinggi untuk langsung membandingkan harga barang sejenis di toko lainnya,” terangnya pada audience.

Menurut penyedia jasa layanan pendukung ecommerce yang sudah meneliti karakteristik ecommerce selama lebih dari dua tahun ini, ada beberapa marketplace yang dengan kejamnya menawarkan produk lain yang sejenis dengan harga lebih murah ketika seorang konsumen sedang masuk di kios produk sebuah merchant di pasar online.

Memanjakan Pembeli

Menurut pria yang biasa disapa YAB ini, marketplace cenderung mengutamakan banyak traffict di websitenya, jadi mereka lebih memanjakan konsumen daripada pedagang di lapaknya.

“di marketplace yang dimanjakan pertama adalah pembeli. Informasi harga begitu simetris, jelas dan terang-terangan. Untuk mencari harga termurah konsumen hanya perlu mengurutkan dengan sekali klik, done!” terangnya blak-blakan.

Aris menggarisbawahi, yang paling brutal adalah ketika di marketplace internasional, penjual (seller) dari negara lain yang punya keunggulan dalam efisiensi produksi, rantai pasokan (supply chain) dan logistik, ikut perang dagang di area yang sama.

Efisiensi ini membuat mereka memiliki cost leadership sehingga bisa menawarkan harga yang lebih rendah dibanding lainnya.

“siapa yang untung ? tentu saja konsumen. Tapi bagi penjual, hal ini berbahaya, karena berdampak pada aspek psikologis banting harga. Contohnya mebel-mebel di Jepara, banyak pelapak yang bermain di ladang yang sama, akhirnya perang harga,” jelasnya.

“Keimanan orang Indonesia di dunia ecommerce masih lemah, nanti kalah saing, langsung banting harga,” ujarnya disambut tawa audience.

Marketplace vs Webstore

Alumnus Hubungan Internasional yang mengambil konsentrasi studi Perdagangan Trans-nasional itu menjelaskan bahwa marketplace hanya tempat distribusi.

“Produk yang dilisting hanyalah barang yang menawarkan alternatif opsi. Modal hanya pemantik di awal. Peluang hanyalah momen yang akan datang dan pergi. Sedangkan harga hanyalah angka, yang membuatnya menjadi mahal dan murah adalah aspek psikologis pembeli,” lanjutnya.

Menurutnya, salah satu kunci di bisnis online adalah membuat webstore sendiri dan kuatkan dari sisi brand, namun itu butuh waktu dan biaya,” pungkasnya.

Nah, bagi sobat yang ingin tahu bagaimana tips manajemen e-commerce, social media commerce, dan digtial branding, ada baiknya konsultasi dulu di sini, agar usaha kita benar-benar menjadi energi untuk kebangkitan bangsa Indonesia. (dd)

Related Articles

Back to top button