EssaiReligius

Ingat, Istrimu Bukanlah Pembantu!

oleh :Ustadz Dr. Ahmad Sarwat, Lc, MA

ENERGIBANGSA.ID – menurut saya rada aneh atau lucu, tetapi juga menarik untuk diperhatikan, ternyata para wanita di negeri kita sejak lahir hingga dewasa sudah ditanamkan ‘nilai tambah’ oleh orang tua dan lingkungannya, bahkan oleh para guru dan ustadznya.

Sehingga ketika akad nikah terjadi, seorang wanita pada umumnya resmi menjadi ‘pembantu rumah tangga’ buat suaminya. Tugasnya disuruh-suruh: melayani, melayani, dan melayani.

Segala urusan tetek bengek yang aslinya merupakan tugas PRT, tiba-tiba dan seoah-olah menjadi kewajiban istri. Namun karena otak para wanita negeri kita sudah diformat menjadi pembantu sejak kecil, maka berubah profesi jadi pembantu rumah tangga pun tidak mengapa.

Tidak ada yang protes atas semua hal ini. Malahan yang terjadi sebalikya. Ketika saya menyampaikan materi yang berjudul: ‘Istri Bukan Pembantu’ di berbagai tempat, di mana pesertanya kebanyakan ibu-ibu dan para wanita, kebanyakan mereka tetap tidak percaya.

Mereka sama sekali tidak menduga kalau ternyata tugas istri itu bukan sebagai pembantu. Bahkan, tidak sedikit dari para wanita yang justru membantah keras apa yang saya utarakan.

Padahal saya tidak mengarang dan juga tidak sedang melamun. Saya sedang membaca isi kitab-kitab fiqih karya para ulama, yang tentunya semua bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tetapi para wanita itu justru menolak kitab fiqih dan minta ayat Quran yang menyebutkan bahwa wanita bukan pembantu. Sebenarnya, syariat Islam sangat unik dalam mengatur tugas dan kewajiban para istri.

Tidak seperti yang umumnya kita saksikan di negeri kita, ternyata baik mengasuh anak atau pun mencari rizki untuk kehidupan rumah tangga, pada dasarnya dalam akad nikah tidak termasuk bagian dari tugas dan kewajiban istri.

Pendapat Jumhur Ulama

Jumhur ulama seluruhya sepakat bahwa akad nikah yang dilakukan oleh wali dan menantunya adalah akad yang selain terkait dengan kehalalan persetubuhan, juga merukapan akad yang mewajibkan si menantu atau suami untuk menanggung beban kehidupan istri dan anak-anaknya nanti.

Akad nikah bukan akad kerjasama antara suami dan istri untuk menanggung bersama rumah tangga itu. Akad nikah hanya membebani suami saja, dan tidak ada beban apa pun di pihak istri. Dari situlah datangnya kepemimpinan suami atas istri, sebagaimana sudah ditetapkan Allah Ta’ala di dalam Alquran.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa’ : 34)

Akad nikah itu mewajibkan suami memberi mahar (mas kawin), dan memberikan hak kepada istri untuk menerimanya. Istri sama sekali tidak pernah diwajibkan memberi mahar kepada suami.

Akad nikah itu mewajibkan suami memberi nafkah kepada istri, dan memberikan hak istri untuk menerimanya. Istri sama sekali tidak pernah dianjurkan, apalagi diwajibkan, untuk memberi nafkah kepada suami. Tidak ada kamusnya dalam Islam bahwa seorang istri harus ‘bantu-bantu’ suami dalam urusan menghidupi keluarga. Seratus persen kewajiban itu adanya di pundak suami.

Bahkan kalau suami tidak mampu memberi nafkah dan membiayai kehidupan rumah tangga, istri berhak mengundurkan diri dari ikatan pernikahan, dengan jalan fasakh. Hak itu 100% dijamin oleh syariat Islam.

*Ahmad Sarwat, Lc., MA, Ketua umum di Yayasan Daarul-Uluum Al-Islamiyah, Direktur di Rumah Fiqih Indonesia


Related Articles

Back to top button