fbpx
Nasional

IKA UNDIP DKI dan IKA Plano Undip Siap Sukseskan Kawasan Industri Terpadu Batang

SEMARANG (energibangsa.id) — IKA Undip DPD Jakarta dan IKA Planologi Undip baru-baru ini menggelar webinar bertema “Prospek Ekonomi Pembangunan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang”. Menggandeng BKPM, acara tersebut diselenggarakan melalui aplikasi Zoom pada Kamis (1/10/20) sore lalu.

Lebih dari 90 peserta hadir dalam webinar yang diberi nama “Beranda Diponegoro E-Talks Series” itu. Webinar tersebut menarik, terlebih Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang diproyeksi memiliki prospek menarik ditilik dari berbagai aspek kesiapan dibarengi dengan waktu dan kondisi yang mendukung bagi para investor baik asing maupun lokal.

KIT bakal jadi sentra industri

Ketua Ikatan Alumni Universitas Diponegoro (IKAUNDIP) DPD DKI Jakarta Noor Rachmad meyakini bahwa dengan sejumlah keunggulan yang dimilikinya, KIT Batang akan bisa menjelma menjadi sentra industri baru di tengah Pulau Jawa.

Saat ini KIT Batang memiliki sejumlah keunggulan, diantaranya soal lokasinya yang strategis, terintegrasi akses Tol Trans Jawa dan doble track kereta api, terintegrasi akses pelabuhan, tersedia cukup tenaga kerja terampil dan kompetitif.

Infrastruktur publik yang terintegrasi juga akan dibangun di dalamnya. Hal itu antara lain air, listrik, gas, telekomunikasi. Kawasan ini juga digadang berkonsep Smart & Sustainable Industrial Estate yang mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat serta daerah.

Jika dibandingkan dengan sejumlah daerah lainnya, Rachmad menilai Batang memiliki kesiapan yang cukup lebih baik. Dari rencana luas lahan pembangunan mencapai 4326,8 Hektare (Ha) lahan yang sudah clean and clear bisa siap pakai mencapai seluas 450 Ha.

“Ini berbeda dengan pembangunan kawasan industri di sejumlah daerah lain. Proses pembebasan lahan seharusnya baru dapat dilaksanakan setelah tahap penyusunan dokumen perencanan dan perizinan diselesaikan. Pada kasus Batang seluruh atau sebagian lahan ternyata telah terlebih dahulu dimiliki dari awal,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rachmad mengungkapkan bahwa waktu pembangunan untuk tahap I bisa menjadi lebih singkat. Selain itu, dalam penilaian keunggulan KIT Batang, ia juga melihat dari sisi timing pembangunannya.

Rachmad juga menyebut momentum pembangunan KIT Batang bisa dikatakan cukup tepat. Setelah selama beberapa tahun kebelakang Provinsi Jawa Tengah telah menjadi pilihan investor dan menjadi primadona investasi, pembangunan kawasan industri terpadu di tahun ini akan dapat menjadi alternatif pilihan yang utama bagi para calon investor.

“Pada tahun ini juga terjadi sejumlah peristiwa yang kemudian bisa berpotensi terjadinya economic distancing dari China. Terutama karena adanya trade war, juga karena pada masa pandemi ternyata membuka sebuah luka yang dalam bagi negara-negara diseluruh dunia akan potensi bahaya dari adanya ketergantungan supply produk hanya pada satu negara,” paparnya.

Pengembangan industri strategis

Sementara itu, Ketua IKA Planologi UNDIP Mohammad Saleh, ST dalam pemaparannya menyebut daya saing industri Indonesia di 2020 masih menempati peringkat 39 dari 152 negara di dunia.

Sedangkan di level ASEAN, daya saing Indonesia masih di bawah Singapura (9), Malaysia (23), Thailand (24), dan Vietnam (38).

“Peringkat Indonesia ini disebabkan oleh masih rendahnya nilai tambah industri per kapita, ekspor industri, proporsi penerapan aktivitas berteknologi tinggi pada ekspor industri, dan indeks kualitas ekspor industri”, ujar Mohammad Saleh, yang juga menjabat Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah dalam webinar.

Saleh menambahkan, industri Jawa Tengah harus di arahkan untuk bagaimana meningkatkan nilai tambah dan ekspor industri, intensitas industrialisasi, kualitas ekspor, dan kontribusinya dalam nilai tambah dan ekspor manufaktur dunia.

“Kita perlu adanya strategi pengembangan daya saing dalam sektor industri Jawa Tengah. Strateginya meliputi UMK Jawa Tengah yang kompetitif, pengembangan industri strategis, pengembangan industri hulu berbasis SDA (pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan)”, jelasnya.

“Pengendalian ekspor bahan mentah dan sumber energi, integrasi (forward & backward linkage) industri besar-menengah-kecil, kerjasama internasional”, imbuhnya.

“Kita harus benar-benar memberikan dukungan pengembangan kawasan industri di Jawa Tengah. Itu terkait kepastian lokasi sesuai RT/RW, kemudahan ijin lingkungan, AMDAL dan pengecualian ANDALALIN juga”, sebutnya.

“Fasilitas perpajakan, insentif daerah dan penetapan sebagai obyek vital nasional. Juga konektivitas infrastruktur baik jalan nasional, tol pelabuhan serta penyediaan infastruktur energi dan pengolahan limbah lainnya”, pungkasnya.(*)

Related Articles

Back to top button