Religius

Hormati Masjid, Tokoh Masyarakat Batasi Karaoke Liar di Sekitar MAJT

ENERGIBANGSA.ID – Maraknya tempat hiburan karaoke liar diseputar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) menuai protes dari masyarakat. Selasa (9/7/2019), para tokoh masyarakat, pengurus takmir masjid-musalla mendatangi pengurus Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Mereka dengan tegas menolak maraknya karaoke liar di sekitar MAJT. Karenanya mereka meminta agar MAJT dan Masjid Agung Semarang (MAS) yang memiliki banda masjid di kawasan tersebut untuk segera mengambil sikap.

Calon Anggota DPRD Kota Semarang 2019-2024 terpilih, Rahmulyo Adiwibowo menilai maraknya karaoke atau tempat hiburan liar yang berada di sekitaran MAJT dinilai sangat bertentangan dengan tujuan keberadaan MAJT.

Dia menegaskan, marwah MAJT perlu dijaga sebagai pusat peradaban dan pembangunan karakter bangsa. Pemkot Semarang dan Pemprov Jateng diminta tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tapi juga menguatkan pendidikan karakter bagi warga Kota Semarang.

Sebagaimana diketahui, desakan tersebut muncul bukannya tanpa alasan. Mereka berpendapat bahwa Masjid Agung Jawa Tengah saat ini memiliki reputasi sebagai ikon wisata religi berkelas internasional, kini eksistensinya mulai dinodai oleh kehadiran belasan karaoke liar alias tidak berizin yang bermunculan di sekitar masjid.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPP MAJT Prof Dr KH Noor Achmad MA berjanji secepatnya menyampaikan aspirasi tersebut kepada Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan pihak-pihak terkait.

Dia sependapat, bila keberadaan karaoke liar maupun berizin di kawasan MAJT dibiarkan, dikhawatirkan akan menimbulkan bentrok antara warga dengan pengelola usaha tersebut.

“Bila karaoke menjamur di sekitar MAJT dikhawatirkan berimbas menjadi pemicu maraknya kejahatan dan penyakit masyarakat lainnya,” tegas Prof Noor Achmad.

Selain itu, tambahnya, keberadaan usaha karaoke bertentangan dengan Perda Kota Semarang No 5 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Kota Semarang yang menjadikan kawasan sekitar MAJT sebagai kawasan wisata budaya Islami. Selain itu, dirinya juga khawatir bahwa hal tersebut terkait dengan rencana pembubaran dua lokalisasi di Kota Semarang.

“Kami berharap penertiban segera dilakukan sebelum terlambat. Apalagi muncul isu, penghuni kawasan Lokasisasi Sunan Kuning yang mulai ditutup akan berpindah ke kawasan MAJT pula,” cemasnya.

Sementara, Sekretaris DPP MAJT Drs KH Muhyiddin MAg menegaskan, visi MAJT bersama pengelola, nadzir wakaf banda Masjid Agung Semarang, berupaya menjadikan kawasan kauman baru atau “Little Mecca”.

Visinya tidak hanya membangun kawasan untuk tempat ibadah saja tetapi juga membangun fasilitas pendukung lainnya seperti rumad sakit Islam, hotel syariah serta pusat ekonomi syariah.

Selain itu kawasan pendidikan Islam juga akan dibangun yang saat sedang dalam proses pembebasan tanah seluas 1,1 hektar untuk pembangunan Ma’had Tahfid Al Quran, yang akan satu kompleks dengan MAJT. (arh)

Related Articles

Back to top button