Nasional

Hindun Anisah : RUU PPRT Bisa Lindungi Jiwa yang Rentan Eksploitasi dan Kekerasan

SEMARANG, energibangsa.id – Isu krusial yang saat ini menjadi perhatian kita bersama salah satunya tentang RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) yang belum juga disahkan.

Pekerjaan di sektor informal ini masih didominasi perempuan.

Keretanan akan berbagai penyimpangan yang terjadi membuat Panitia KUPI II bersama Kementerian Ketenagakerjaan RI mengadakan acara diskusi panel dengan tajuk “Merumuskan Strategi Bersama untuk Percepatan Pengesahan RUU PPRT”.

Acara berlangsung di PP. Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara pada Kamis (24/11) dengan dihadiri beberapa narasumber dan materi yang dibawakan seperti :

Luluk Nur Hamidah, M.Si (Peluang dan Tantangan dalam Percepatan Pengesahan RUU PPRT di DPR) ; Kementerian Ketenagakerjaan RI (Optimalisasi Peran Kementerian Ketenagakerjaan dalam Mendukung Percepatan RUU PPRT); K.H Abdullah Aniq Nawawi (Peran Strategis KUPI dalam Mendukung Advokasi RUU PPRT ; Ari Ujianto (Peluang dan Tantangan Jaringan Masyarakat Sipil dalam Advokasi RUU PPRT).

Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI Hj. Hindun Anisah, MA dalam sambutannya mengatakan, pengalaman yang dialami oleh perempuan sudah cukup untuk memberikan rasa sakit pada perempuan secara berkala.

Hindun juga menyinggung bahwa sektor pekerjaan ini sangat rentan menyimpang, dalam artian menyimpang eksploitasi menyimpang kekerasan, dan sebagainya.

Mayoritas pekerja rumah tangga adalah perempuan. Indonesia telah membentuk UU perlindungan PRT luar negeri, namun belum dengan PRT secara umum.

“Kita butuh menyuarakan hasil diskusi dan masukan dari pihak-pihak terkait bapak ibu hadirin tentang percepatan RUU PPRT. Tidak lain karena kita ingin melindungi jiwa yang rentan terhadap eksploitasi maupun kekerasan (seksual, psikis),” ujar Hindun.

Related Articles

Back to top button