fbpx
Kita Indonesia

Hei Milenial! Mari Berkenalan dengan Arswendo Atmowiloto, Sastrawan Berjuta Karya

ENERGIBANGSA.ID – Arswendo Atmowiloto, nama yang cukup unik namun mungkin tidak terlalu akrab di telinga milenial. Jika Sobat Energi belum mengenalnya, melalui artikel ini Tim Energi Bangsa mengajak kalian mengenal sosok kontroversial ini.

Sarwendo, atau yang lebih beken dikenal dengan nama Arswendo Atmowiloto adalah seorang sastrawan dan wartawan di media Kompas. Tercatat, Arswendo juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah remaja Hai.

Pria kelahiran Surakarta, 26 November 1948 ini pernah menempuh pendidikan di IKIP Solo pada tahun 1972, namun tidak tamat. Meski begitu, pria berkacamata ini lantas mengikuti International Writing Program di Lowa University, Amerika Serikat pada tahun 1979.

[Baca juga : Pengen Populer? Coba Ikuti Gaya Arswendo Ganti Nama]

Kepiawaiannya dalam menulis lantas mengantarkannya untuk berkecimpung di dunia jurnalistik. Ia pernah mengelola tabloid Bintang Indonesia selama tiga tahun, kemudian mendirikan perusahaannya sendiri.

Dengan nama PT Atmo Bismo Sangotrah, Arswendo mengelola tiga bidang usaha yakni tabloid anak Bianglala, Ina, dan tabloid Pro-Tv.

Kiprahnya dalam bidang jurnalistik masih terus berlanjut hingga ia menjabat sebagai pemimpin tabloid Monitor tahun 1990. Pada saat itu, ia pernah menuai kontroversi terkait jajak pendapat mengenai tokoh favorit pembaca.

[Baca juga : Mengenang Kisah Arswendo Atmowiloto dan Nabi Muhammad SAW]

Hasil itu menunjukkan Arswendo menempati peringkat tokoh kesepuluh, sementara Nabi Muhammad berada satu posisi di bawahnya dengan peringkat kesebelas. Jajak pendapat ini lantas mengantarkannya ke hotel prodeo karena memancing kemarahan umat Muslim.

Meski begitu, langkah Arswendo untuk berkarya tidak terhenti sampai di situ. Ia masih tetap menelurkan karya-karyanya yang luar biasa.

Beberapa karya Arswendo yang cukup terkenal antara lain serial Keluarga Cemara, Imung, Ali Topan Anak Jalanan, Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku, dan Pengkhianatan G30S/PKI, dilansir dari Wikipedia.

Bak gayung bersambut, karya Arswendo pun memperoleh beragam apresiasi dan penghargaan. Diantaranya seperti Hadiah Zakse atas esainya yang berjudul “Buyung -Hok dalam Kreativitas Kompromi” dan Hadiah Sastra Asean tahun 1987.

Nilai teladan yang bisa kita tiru dari bapak tiga anak ini adalah sebuah ketekunan. Semasa hidupnya, Arswendo telah mencetak puluhan karya fenomenal berkat ketekunannya meski dalam kondisi terbatas sekalipun.

Sobat Energi, kaum milenial, yuk bergerak! Sebarkan energi positif ke seluruh bangsa. Buatlah dirimu menjadi produktif meski sedang akhir pekan seperti ini. Jangan cuma rebahan aja, ya.

Related Articles

Back to top button