fbpx
Essai

Hal Positif yang Bisa Dipetik dari Kasus Adhisty Zara

oleh : Diah Ayu Novitasari (*)

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Beberapa hari yang lalu, warganet dikejutkan beredarnya video tidak senonoh yang memperlibatkan Adhisty Zara dengan kekasihnya, Zaki Pohan.

Video tersebut dengan cepat menyebar di platform media sosial dan mengundang amarah netizen. Banyak netizen yang langsung menyerang akun pribadi Adhysti Zara.

Namun dibalik peristiwa viralnya video tersebut terdapat pelajaran yang dapat diambil dipetik.

video zara

Pertama, orang tua dapat lebih menjaga dan mengontrol pergaulan anak.

Tentu saja orang tua memiliki perannya masing-masing. Seringkali mereka membiarkan pergaulan anaknya tanpa mencari tahu lebih lanjut seperti apa pergaulan sang anak.

Dengan adanya peristiwa ini, orang tua diharapkan dapat lebih mengontrol pergaulan anak dan tak segan memberi nasihat pada anak.

Kedua, seyogiyanya hal-hal yang bersifat sensitif tidak dipublikasikan ke ranah publik.

Dengan beberapa kasus yang hampir serupa, maka ada baiknya bagi seseorang, terutama apabila ia seorang public figure untuk lebih memilah hal-hal apa saja yang akan ia bagikan melalui media sosial.

Ini untuk menghindari kejadian-kejadian tak mengenakkan yang akan ia alami. Juga dalam rangka menjaga citra yang baik di depan publik.

Ketiga, seseorang tak bisa hanya memandang satu kesalahan orang lain melainkan juga mengacu pada prestasi dan kebaikan-kebaikan yang telah ia capai.

Sebelum video tidak senonoh Zara beredar, ia merupakan public figure; yakni anggota grup JKT48. Selain itu, ia juga membintangi beberapa film layar lebar, antara lain: Dilan, Keluarga Cemara, Dua Garis Biru, dan lain-lain.

Beberapa penghargaan juga berhasil ia raih yang membuktikan bahwa aktris berkelahiran di Bandung tersebut diakui kemampuan beraktingnya.

Hal itu menjadi tidak adil bagi Zara, karena semua prestasi dan hal-hal yang dapat dibanggakan dari dirinya seolah lenyap begitu saja oleh video tersebut.

Keempat, alih-alih menghakimi secara sepihak, netizen sepatutnya memberikan ‘teguran’ dengan komentar yang lebih halus.

Banyaknya komentar negatif yang dilontaran netizen; tidak menutupi kemungkinan akan memberikan pengaruh terhadap kondisi mental Zara.

Apalagi narasi yang dipakai relatif kasar dan tidak enak untuk dibaca. Netizen lebih bijak memberikan teguran dengan bahasa yang lebih positif agar tak terkesan menghakimi.

Hematnya, bahwa dengan tidak langsung sekonyong-konyong mencerca kesalahan orang, merupakan pilihan bijaksana bagi seorang netizen.

* Diah Ayu Novitasari, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro. Penikmat novel dan film misteri.

Related Articles

Back to top button