Kudus
ilustrasi Bupati Kudus, Muhammad Tamzil, saat di bawa Komisi Pemberantasan Korupsi atas kasus Korupsi Jual Beli Jabatan. (dok BeritaIslam.org)
Essai

Hal Positif dari Kasus Korupsi Bupati Kudus

0

Oleh : Yanuar Aris Budiarto, S.IP*

Dalam beberapa hari terkahir ini timeline facabook saya mendadak ramai soal kasus OTT Bupati Kudus, Ir Tamzil. Banyak sekali yang menghujat, tapi tidak sedikit yang membela.

Bukan membela Pak Tamzil dari korupsinya, tapi membela Pak Tamzil dari sisi kebijakan beliau yang memberi tunjangan guru-guru Madrasah Diniyyah.

Bahkan, sampai ada gelaran istighosah dan doa bersama oleh para guru honorer untuk mendoakan keselamatan Pak Tamzil. Subhanallah… Baru kali ini saya tahu ada tersangka tipikor yang didoakan oleh rakyatnya.

Di area Karisidenan Pati, kasus OTT (Operasi Tangkap Tangan) atas tindak pidana korupsi yang terjadi kemarin bukanlah yang pertama. Sebelumnya Bupati Jepara terkena kasus sama, soal suap hakim.

Salah seorang calon legislatif DPR RI dapil Jepara-Kudus-Demak, Bowo Sidik Pangarso, juga terkena OTT karena kasus sama, menerima uang suap yang hendak digunakan juga untuk ‘menyuap’ rakyat.

Berbeda dengan publik Kudus, yang netizennya banyak membela Bupatinya. Di Jepara, Pak Marzuki mendapatkan kecaman dahsyat di social media. Apalagi Bowo Sidik Pangarso, jelas di-onthe-onthe netizen.

Padahal niat Bowo baik, dia ingin membagi-bagi rejeki untuk masyarakat akar rumput yang sebagian besar memiliki prinsip ‘rak no wek rak obos’ alias ‘gak ada uang, gak bakal dicoblos’. Tapi, apakah ada yang membela? Nyaris tidak ada.

Di Kudus, saya mendapati banyak pihak yang bersedih atas kasus ini. Pasalnya, Pak Tamzil dianggap telah menolong perekonomian guru-guru Madrasah Diniyyah, membangkitkan gelora sholawat bersama Habib Syech yang tak kurang dari sembilan tahun senyap di kota Kretek. Netizen berduka, ingin membela tapi tak kuasa, ingin menolong tapi tak bisa.

Namun pihak-pihak yang selama pilkada Kudus berlangsung menjadi lawan politik Pak Tamzil, ramai-ramai berkomentar dengan nada sumbang, meski tidak sampai mencaci-maki. Mencibir tapi tidak keras, ya sekedar nyinyir tipis-tipis. Hal ini wajar, karena mereka di pihak yang kalah. Jadi ketika ternyata pihak ‘yang menang’ itu terkena OTT ya ‘pihak kalah’ ini seakan-akan ingin bicara pada masyarakat: “ya itulah pilihanmu!”

Beberapa pihak menyangka OTT ini bersifat politis. “Banyak yang gak suka sama Pak Tamzil,” “Pak Tamzil kena fitnah,” “Pak Tamzil ini korban politik,” “Pak Tamzil itu ndak korupsi. Korupsi itu memotong anggaran, lha ini beliau tidak menyunat uang rakyat,” begitulah beberapa komentar netizen yang membela.

Netizen yang terhormat, perlu diketahui, Bupati Jepara yang kyai itu juga sama, Bowo Sidik Pangarso juga sama: mereka tidak menyunat uang rakyat. Bupati Jepara hanya ingin ‘sedekah’ kepada hakim. Bowo malah lebih mulia lagi, karena memikirkan kaum cilik, makanya ia menyiapkan amplop infaq dan sedekah untuk rakyat.

Dalam kacamata positif, boleh dibilang, Bupati Kudus ini juga tidak korupsi, tidak menyuap, hanya ingin ‘melunasi kredit mobil’ saja. Namun apa yang dilakukan oleh beliau-beliau di atas termasuk dari KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme)

Saya tidak berada di ‘pihak kalah’ atau ‘pihak menang’, seandainya saya di posisi Pak Tamzil, juga belum tentu bisa njagani diri dari godaan uang dan penyalahgunaan jabatan. Namun saya meyakini satu hal; setidaknya dari hal terburuk pun, masih ada sisi positifnya.

Lalu apa sisi positif ditangkapnya Bupati Kudus ini? Setidaknya kita semakin menyadari bahwa kinerja KPK di era Jokowi ini benar-benar nyata. Secara umum, adanya tindak pidana korupsi ini menuntut pemerintah untuk memperketat hukum dalam negara, dengan cara seksama memeriksa akses keluar masuk uang negara.

*Yanuar Aris Budiarto, Alumni FISIPOL UNWAHAS, pernah 9 tahun menghirup udara di Kudus.

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Untuk Kotoran, Berikut Bahaya Plastik Hitam Bila Digunakan Sebagai Bungkus Makanan

Previous article

Marak Pencurian Data, Jangan Sembarang Unggah Data Diri di Media Sosial

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.

More in Essai