fbpx
Religius

Hakikat Merayakan Maulid Nabi, Simak di Sini

energibangsa.id— Sebagai umat Nabi, seharusnya kita berbahagia dalam menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW ke muka bumi atau Maulid Nabi.

Jika ditanyakan mengapa kita merayakan Maulid Nabi maka jawabannya adalah karena beliau SAW tidak pernah mati. Kami yakin bahwa Rasulullah senantiasa hidup.

Keyakinan ini bagi umat Muslim adalah anugrah ilahi yang tidak semua orang bisa mengimaninya, walaupun seorang Muslim pun.

Dalam hal ini, ada tiga macam keyakinan: Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin. Untuk Ilmul Yaqin, kita mengetahui Rasulullah hidup dari keterangan hadis-hadis Nabi dan riwayat para ulama makrifat yang berkisah bertemu beliau SAW yaqdotan (dalam keadaan terjaga), bukan sekedar mimpi.

Tahap selanjutnya adalah Ainul Yaqin, yakni anugerah bisa berjumpa dengan beliau, baik dalam mimpi, lebih-lebih yaqdotan. Amin ya Rabbal Al-Amin.

Tahapan tertinggi dalam keyakinan ini adalah Haqqul Yaqin; dikala jiwa ini sudah menyatu dengan hakekat Rasulullah SAW.

Untuk bisa sampai pada tahapan Ainul, serta  Haqqul Yaqin, pondasinya tentu harus melewati tahap pertama, yakni Ilmul Yaqin.

Sebagai anugrah Ilahi, tentu tidak semua orang bisa sampai, bahkan di tahapan pertama sekalipun. Alasannya macam-macam. Bisa karena memang tidak mau belajar untuk menyelami ilmu seputar hakekat Rasulullah. Dan bisa juga karena memang pada dasarnya menolak asumsi bahwa Rasulullah senantiasa hidup.

Kelompok kedua ini berasumsi bahwa siapa yang sudah mati, mustahil hidup kembali. Mereka mengedepankan akal untuk mencerna apa yang sejatinya cukup diimani saja.

Kelompok ini mungkin lupa bahwa banyak hal yang tidak bisa diterima akal manusia pada umumnya. Namun wajib diimani. Pertanyaan dalam kubur, hari kiamat, surga, dan  neraka adalah contoh untuk hal-hal yang cukup diimani saja. Dalam istilah agama, itu semua disebut sam’iyat.

Untuk kelompok ini, ada baiknya jika mendasari pemahamannya dengan keyakinan bahwa nabi Isa pun sampai saat ini hidup, tidak mati. Keyakinan itu tentu karena keterangan dalam Al-Qur’an yang membantah pemahaman umat nabi Isa sendiri yg mengira beliau sudah wafat disalib.

Sebagai kitab yang datang setelah Injil, Al-Qur’an menjelaskan hekekat Nabi Isa yang sampai kini masih hidup. Dengan penjelasan ini, semua umat Islam meyakini kalau Isa tidak mati, meski secara dohir tampak disalib.

Dus, penolakan umat Islam bahwa Rasulullah senantiasa hidup itu serupa dengan penolakan umat Nasrani jika dikatakan bahwa Nabi Isa masih hidup. Keterangan dalam Al-Qur’an tidak serta-merta bisa mereka terima.

Ini juga sama dengan umat Islam yang menolak anggapan Rasulullah senantiasa hidup; penjelasan hadis-hadis Nabi seputar hal tersebut tidak bisa meyakini mereka.

Waba’du, jika saja Allah menurunkan kitab setelah Al-Qur’an yang di dalamnya menjelaskan bahwa Nabi Muhammad senantiasa hidup, mungkin umat Islam yang semula menolak anggapan tersebut bisa percaya dan meyakini bahwa Nabi memang selalu hidup. Hal itu seperti halnya mereka yakin kalau Nabi Isa as juga masih hidup hingga saat ini.

Tapi sayang, Al-Qur’an adalah kitab Allah yang terakhir. Jadi, jika mereka tidak meyakini hadis Nabi seputar hal tersebut, maka penolakan umat Islam bahwa Nabi selalu hidup adalah  kenestapaan yang teramat sangat.

Semoga Allah segera memberikan hidayah-Nya bagi orang-orang ini. Mari sambut Maulid Nabi dengan gembira dan bahagia. Amin. (Dhanti/EB/timesindonesia)

Related Articles

Back to top button