Energi MudaKita Indonesia

Gus Labib, Lomba Agustusan, dan Kesadaran Makna Kemerdekaan

ENERGIBANGSA.ID – Kemerdekaan banyak dilakukan dengan aneka ragam perlombaan yang menarik, namun demikian ada golongan membuang energinya untuk nyinyir atau beranggapan kegiatan tersebut sia-sia. Karena itu, energi bangsa perlu memberikan informasi pada masyarakat untuk mengerti substansi antara semarak dalam perlombaan dan arti kemerdekaan.

Pondok Pesantren Sabilunnajah, Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal merupakan satu dari sekian banyak pesantren yang menyemarakkan Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia dengan berbagai lomba yang lucu dan menuntut kekompakan ala out bond. Energi bangsa mendapat informasi dari salah satu pengasuh, Kiai Mandzur Labib, yang menurutnya kegiatan tersebut sebagai ungkapan rasa syukur dan sarana untuk memperkokoh persatuan.

“Para santri dan masyarakat pada umumnya mengadakan kegiatan berbagai lomba untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan. Ini merupakan sebuah ungkapan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan, dan itu sesuai perintah Allah dalam Alquran Surat Ibrahim ayat 7 Juz 13,” katanya, Minggu, (18/8/2019)

Gus Labib, sapaan akrabnya, melanjutkan, kegiatan perlombaan juga sekaligus untuk mengenang jasa para pahlawan dan memupuk jiwa patriotisme generasi penerus bangsa. Sebab, Syaikh Musthafa Al Ghulayani dalam Idzatun Nasyiin menegaskan kemerdekaan adalah sebuah karunia Allah SWT. Dengan adanya kemerdekaan, diharapkan manusia bisa memanfaatkan dengan baik untuk dirinya sendiri dan orang lain.

“Orang yang merdeka, dalam pengertian baru dan benar adalah orang yang murni pendidikannya, bersih jiwanya, berpegang teguh dengan sifat-sifat terpuji, menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela, melepaskan diri dari segala bentuk ikatan perbudakan dan melaksanakan kewajiban yang menjadi kewajibannya,” jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, kita tinggal menikmati perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita. Namun bukan berarti kita tinggal diam ongkang-ongkang kaki, justru mempertahankan kemerdekaan itu lebih berat. Dicontohkannya, kita belum merdeka secara ekonomi, teknologi dan sebagainya. “Nah, beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap generasi penerus bangsa Indonesia adalah meningkatkan jumlah orang-orang terpelajar yang bermoral tinggi dan baik, yang di dalam dirinya telah tertanam kuat cinta tanah air itu adalah bagian dari keimanan,” tuturnya.

Dahulu, sambungnya, para santri jarang yang sekolah formal, akan tetapi saat ini sudah lulus S2 bukan hal yang prestisius lagi. Menurutnya, upaya meningkatkan jumlah kaum terpelajar tersebut tidak akan terwujud, kecuali dengan semangat jihad melawan kebodohan. “Harus berani mengorbankan harta dengan niat demi kemaslahatan umum, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mencerdaskan masyarakat melalui pengajian di mushalla atau masjid, dan pesantren, atau bahkan membangun lembaga pendidikan formal yang dapat menghembuskan jiwa nasionalisme,” urainya.

Kata kiai muda yang periode lalu menjadi Ketua RMI NU Jateng ini, kesadaran nasionalisme sejak dini pada jiwa para pelajar dapat melahirkan gagasan–gagasan mulia dan amal saleh dalam benak mereka dan yang sanggup membangkitkan mereka tatkala mereka menjadi dewasa untuk berkhidmat demi kepentingan negara yang berada di ambang kehancuran akibat ulah putra putri negara yang tidak bertanggung jawab, yang tanpa disadari kejahatannya melebihi musuh-musuh yang sebenarnya.

“Merdeka bukan berarti bebas semaunya sendiri, sehingga merasa bebas membahayakan dirinya sendiri dan orang lain,” tegasnya.

Gus Labib mencontohkan, perilaku menghamburkan harta kekayaan, berbuat semena-mena, merusak tatanan kemasyarakatan dengan menyebarkan paham anti NKRI dan merasa benar sendiri dalam persoalan khilafiah sehingga menganggap yang beda dengannya kafir. Oleh sebab itu Gus Labib mengingatkan semangat perjuangan dari kisah seorang santri yang bernama Abdul Hamid murid Kiai Ageng Besari yang kita kenal sebagai Pangeran Diponegoro.

“Pangeran Diponegoro membuat Belanda kocar kacir. Beliau salah satu teladan bagi para santri. Santri harus turut ambil peran dalam semua sendi kehidupan dalam menjaga keutuhan NKRI dan menyebarkan Islam yang damai apapun profesinya,” jelasnya.

Untuk diketahui pula, PP Sabilunnajah merupakan satu dari sekian banyak pesantren yang ada di Kabupaten Kendal. Dalam perkembangannya, pesantren tersebut telah mendirikan Madrasah Tsanawiyyah Plus Sabilunnajah. Saat ini, tengah dalam proses mendirikan sekolah kejuruan. “Insya Allah kita akan segera mendirikan SMK. Karena kita merasakan masyarakat membutuhkan peran pesantren lebih dari sekedar pendidikan keagamaan, tapi juga pendidikan formal dan kejuruan,” pungkasnya.

Related Articles

Back to top button