Film dan Hiburan

Guru-Guru Gokil: Film Komedi yang Indonesia Banget, Intip Keseruannya

SEMARANG, energibangsa.id — Film orisinal Netflix kedua dari Indonesia, Guru-Guru Gokil yang diproduseri oleh Dian Sastrowardoyo, ia pun juga ikut berperan dalam film tersebut. Film ini bergenre drama komedi.

Film ini mengisahkan seorang pria bernama Taat Pribadi (Gading Marten) yang memiliki keinginan menjadi orang sukses, akan tetapi ia beranggapan apabila ia memiliki banyak uang maka, ia baru mencapai kesuksesannya.

Ia rela melakukan apapun demi uang asal tidak sebagai guru, profesi yang ditekuni oleh Ayahnya sendiri. Akan tetapi, ia terpaksa menjadi guru karena pekerjaan itulah ‘yang ada’ untuknya saat itu.

Alur ceritanya digarap begitu ringan, sayangnya masih belum maksimal. Terdapat kekurangan besar yang membuat film tersebut terasa tidak sesuai dengan ekspektasi.

Film Komedi Indonesia

Seperti, motivasi karakter antagonis yang dimainkan oleh Pak Le (Kiki Narendra) sebagai otak dari perampokan, kurang bisa dipahami.

Memang sepanjang film Pak Le digambarkan sebagai penjahat yang misterius. Tetapi itu saja tidak cukup. Motivasi ia memerintahkan perampokan harus tetap jelas agar konflik yang muncul terasa natural. Bila tidak, akan terasa dipaksakan dan mengada-ada seperti yang terjadi dalam film ini.

Hal itu diperparah dengan pendirian Pak Le sebagai suatu karakter seperti tidak konsisten. Padahal konsistensi suatu karakter sangat penting karena berdampak pada logika cerita, baik untuk karakter antagonis atau protagonis.

Dalam satu adegan, Pak Le secara tidak langsung menjelaskan bahwa uang gaji guru yang ia curi tidak berarti. Adegan tersebut kemungkinan untuk menjelaskan bahwa Pak Le sangat kaya, karena dari awal dia memang dijelaskan sebagai penjahat yang kaya.

Pernyataan Pak Lek sontak memunculkan pertanyaan untuk logika cerita film ini. Kalau uang itu tidak berarti baginya dan sudah kaya, buat apa ia merampok? Padahal kisah perampokan ini ditempatkan sangat penting dalam film hingga menjadi landasan cerita.

Kekurangan lain dalam film ini adalah pelibatan murid-murid yang terasa dipaksakan saat membantu guru-guru bertindak untuk kembali merebut gaji yang dicuri. Tepatnya ketika murid-murid membantu Taat dengan menggambar tato dan membantu guru-guru menangkap perampok.

Dengan pengantar yang seadanya, seketika murid-murid langsung membantu guru. Rahabi Mandra dan Tanya Yuson selaku penulis naskah seolah mengambil jalan pintas saat membuat adegan itu. Bagaimanapun penyampaiannya, yang penting satu bagian cerita selesai.

Memang cukup mengharukan melihat murid dan guru saling membantu, apalagi dalam film yang fokus tentang guru. Tapi lama-lama lelah juga melihat adegan seperti itu, pada akhirnya keterlibatan murid hanya sebatas formalitas.

Intip Keseruannya

Terlepas dari kekurangannya, film yang disutradarai Sammaria Simanjuntak ini layak mendapat pujian atas penggambaran profesi guru di Indonesia.

Film ini menggambarkan guru sangat nyata, bagaimana mereka mendapat gaji sangat kecil meski pekerjaannya tidak mudah.

Belum lagi profesi guru kurang dihargai dan masih dipandang sebelah mata. Selain itu, film ini juga menggambarkan kondisi nyata dana bantuan dari pemerintah yang kerap kali telat cair padahal sekolah sedang benar-benar membutuhkan.

Dari segi akting, pemeran dalam film ini tampil dengan baik. Kualitas akting Gading Marten sebagai pemeran utama dalam film ini terbilang bagus. Namun bila membandingkan Faradina sebagai pemeran pembantu, Faradina tampil lebih baik. (Dhanti/EB).

Related Articles

Back to top button