Essai

Gundul

Oleh : Ahmad Saefudin

ENERGIBANGSA.ID – Gundul itu bukan sekadar potong rambut. Maknanya sangat dalam. Di pesantren, misalnya, hukuman terberat bagi santri pembangkang yang tarafnya sedikit di bawah “diboyongke” (dikembalikan paksa oleh Sang Kiai ke orang tua santri) ialah dibotakin.

Tampilan kepala plontos di lingkungan pondok sama artinya dengan identitas kehinaan. Jika boleh meminta, hampir bisa dipastikan santri yang kena “takzir” akan memilih sanksi menguras bak mandi selama satu bulan penuh, daripada harus digunduli.

Ngomong-omong soal gundul, kita patut kecewa terhadap ulah oknum aparat kepolisian yang menyukur habis rambut pembina Pramuka SMPN 1 Turi. Mereka memang sudah berstatus tersangka akibat tragedi susur sungai di Sungai Sempor, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Sleman yang menelan sepuluh korban jiwa.

Tapi, batapapun begitu, mereka tetap saja guru. Kealpaan mereka sudah ditebus oleh ancaman bui. Bukankah ini cukup setimpal? Mengapa juga mereka mesti dihinakan?

Di luar kekeliruan manajemen instansi sekolah, insiden hanyutnya siswi juga tak bisa dilepaskan dari faktor alam. Semuanya saling bertaut. Malang nian nasib para pembina itu.

Ibarat telah jatuh, harus tertimpa tangga pula. Kala emosi mereka bercampur aduk antara pilu kehilangan anak-anak binaannya dan juga dihantui perasaan bersalah, kepedihan itu masih harus diiris oleh tindakan kurang empatik dari penegak hukum.

Semoga seluruh guru dan siswa SMPN 1 Turi diberi ketabahan dalam menjalani musibah ini. Kita sebagai orang luar cukup mengambil hikmah. Tak perlu lagi menambah beban mereka dengan perlakuan-perlakuan yang tidak simpatik.

Walakhir, setelah mendengar kabar terakhir, ternyata penggundulan tersebut murni atas inisiatif tersangka. Sehingga, “clear” sudah. Tudingan perlakuan kurang manusiawi oknum aparat kepada para Pembina Pramuka itu otomatis terbantahkan.

Beginilah enaknya medsos. Kita bisa “share” informasi tanpa batasan yang rigid, karena kita juga sekaligus editornya.

*Ahmad Saefuddin, intelektual jaringan PMII, dosen di INISNU Jepara

Related Articles

Back to top button