e-voting Pilkades Boyolali
Petugas menunjukan hasil penghitungan pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Boyolali, (29/6). (dok. kompas.com)
Kabar IndonesiaTeknologi

Gunakan E-Voting dalam Pilkades, Kabupaten Boyolali Pelopor Pemilu Berbasis Teknologi di Indonesia

0

ENERGIBANGSA.ID – Kabupaten Boyolali melangsungkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) 2019 serentak di 228 desa yang tersebar di 22 kecamatan pada sabtu (29/6). Namun dari hajatan demokrasi tersebut terdapat hal unik dan menarik di dalamanya. Pasalnya Pilkades yang dilaksanakan di kabupaten Gunung Merapi ini dilakukan dengan menggunakan metode e-voting.

Hal ini pun belum pernah dilakukan dalam pesta demokrasi Indonesia. Sebagaimana pantauan tim energibangsa.id, Kabupaten Boyolali menjadi salah satu daerah di Indonesia yang mengimplementasikan kemajuan dan penggunaan teknologi melalui sistem pemilihan dan pemungutan suara secara eletronik atau e-voting.

Menurut Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermasdes) Boyolali, pada tahun 2019 ini Kabupaten Boyolali telah melaksanakan sistem e-voting tingkat kepala desa untuk keempat kalinya.

“Sebenarnya kita sudah empat kali pakai e-voting. Tapi karena keterbatasan alat tidak semua Pilkades pakai E-voting, yang paling banyak di kecamatan Karanggede dan Mojosongo,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Bina Pemerintah Desa Dispermasdes Boyolali, Candra Irawan.

Berbagai perangkat keras untuk penunjang e-voting disiapkan seperti komputer layar sentuh, laptop, smartcard atau kartu pemilih elektronik, alat pembaca kartu dan printer. Begitu juga untuk perangkat lunak seperti aplikasi data daftar pemilih tetap dan aplikasi pemilihan kepala desa yang saling terintegrasi .

Menurut Chandra, Dispermasdes Boyolali telah menyediakan 200 perangkat komputer yang disebar di 69 desa. Satu komputer disediakan untuk tiap dusun. Sebelum pelaksanaan hari ini, Pemerintah Kabupaten telah melakukan sosialisasi ke masyarakat, khususnya bagi warga yang berusia lanjut dan warga berkebutuhan khusus atau disabilitas. Mereka memerlukan pendapingan saat pemungutan suara.

“Dengan e-voting, pemilih hanya menunjukkan undangan dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang kemudia diverifikasi. Selanjutnya mereka akan mendapatkan chip yang fungsinya untuk mengaktifkan layar pemungutan suara,” tambahnya, dikutip dari merdeka.com

Setelah muncul gambar calon kepala desa, pemilih hanya tinggal memilih salah satu calon. Jika saja terjadi kesalahan atau tidak sesuai, pemilih bisa menganulir dan mengulanginya.

Proses pemungutan suara yang berbasis elektronik itu pun terbilang mudah dan cepat. Seno Samudro, Bupati Kabupaten Boyolali, meyakini dengan pemilihan menggunakan e-voting akan lebih lancar dibandingkan dengan pemilihan manual.

Bupati Boyolali dan Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Boyolali, Seno Samudro (dok. Gesuri.id)

“Kami melakukan langkah-langkah itu, untuk mengantisipasi konstestan yang complain. Namun, kami sudah melakukan pendataan kejadian kisruh dalam Pilkades Boyolalai sangat kecil atau mendekati angka nol,”kata seno di kantor Dinas Dispermasdes Boyolali.

Selain itu, para pemilih atau masyarakat terlihat begitu antusias datang berbodong-bodong ke TPS sejak pagi untuk melaksanakan pemilihan dan pemungutan suara. Hal ini terpantau di Desa Bendonsari, Kecamatan Sawit, Boyolali.

Lebih dari itu, dengan adanya perkembangan teknologi sistem e-voting  tersebut diharapkan dapat mengurangi penggunaan kertas, mempercepat waktu hasil penghitungan serta akuntabel. Semoga kedepannya, sistem ini mampu diterapkan untuk pemungutan suara yang lebih besar seperti Pilkada atau Pilpres. 

Komentar Netizen
Bagikan, agar menjadi energi positif untuk orang lain

Mengenal UNISBANK, Pencetak Enterpreneur Berbasis IT

Previous article

Liftoff catat Indonesia Pasar Menarik Bagi E-Commerce

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.