fbpx
Nasional

Golkar Dukung Pemerintah Bangun Optimisme Saat Pandemi

ENERGIBANGSA.ID (Jakarta)— Anggota Komisi XI DPR, Melchias Markus Mekeng mengungkapkan bahwa upaya pemerintah melalui Airlangga Hartarto selaku Menko Perekonomian sudah benar.

Menurutnya, Pemerintah bukan tidak paham angka-angka ekonomi seperti dikritik ekonom Faisal Basri, tetapi yang dibangun adalah optimisme ditengah krisis.

Pemerintah tidak mungkin hanyut dalam resesi dengan membangun narasi pesimisme, tetapi harus yakin dengan kebijakan yang diambil.

“Dunia ini memang tidak seindah yang dibayangkan atau yang dikatakan. Tetapi kan optimisme harus dibangkitkan. Kalau pemerintah tidak bangun optimisme dalam situasi seperti sekarang ini, ya rusak negara ini,” kata Mekeng dilansir tim energibangsa.id dari tribunnews.com

Ia menanggapi kritikan Faisal Basri yang menyebut pemerintah saat ini kurang pemahaman mengenai resesi.  

Bahkan sekelas Menteri Perekonomian, Airlangga Hartarto sebagai komandan ekonomi di Tanah Air tidak paham mengenai itu.

Baca Juga : Jurus Hindari Resesi & Kekuatan RI ala Sri Mulyani

“Kuartal III perkiraan saya minus 3 persen. Airlangga aja pemahaman tentang resesi nol besar. Kata Menko kalau kuartal II minus 5,32 persen, kuartal III minus 3 itu enggak resesi, karena minusnya turun. Ngeri enggak Pak? Komandan ekonominya enggak ngerti resesi,” kata Basri sebelumnya.

anggota komisi IX
Anggota Komisi XI DPR, Melchias Markus Mekeng. (sumber: tribunnews.com)

Mekeng menjelaskan yang dilakukan pemerintah saat ini adalah mencegah supaya pertumbuhan ekonomi di kuartal III (Juli-September) dan kuartal IV (Oktober-Desember) tidak turun ke minus yang lebih tinggi lagi.

Pemerintah sedang bekerja keras membalikan pertumbuhan ekonomi dari minus 5,32 persen pada kuartal II (April-Juni), turun ke minus 1 persen atau nol persen pada kuartal III, bahkan bila perlu menjadi positif.

Baca Juga : Di Ambang Resesi, Ini Persiapan yang Perlu Dilakukan

Menurut mantan Ketua Komisi XI DPR ini, negara ini sedang mencari momentum atau tren agar terjadi pembalikan dari pertumbuhan ekonomi.

Misalnya penggelontoran anggaran yang besar ke UMKM, membentuk program kartu pra kerja yang mencapai Rp 2 4 juta per orang, Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rp 600.000 per orang, dan relaksasi serta restrukturisasi kredit dari perbankan.

“Kalau dia (ekonomi- Red) turun dari minus 5,32 persen menjadi minus 3 persen seperti disampaikan Basri, tentu itu dampak dari program-program yang dilakukan selama ini. Tentu ini merupakan signal dari perbaikan ekonomi kita,” jelas Mekeng.

“Menko Perekonomian bukan tidak tahu. Bukan tidak ngerti ekonomi. Dia sangat ngerti tapi angle-nya dari pemerintah yang harus memberikan optimisme kepada masyarakat. Masa harus ciptakan pesimisme. Nanti masyarakat tidak semangat dan hanya meratapi akan hadirnya resesi,” lanjutnya.

Mekeng menegaskan program yang dijalankan pemerintah telah dibahas bersama DPR. 

Artinya program pemulihan ekonomi bukan sesuka hati pemerintah tetapi mendapat masukan dan pertimbangan dari parlemen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini memang masih lebih besar disokong oleh konsumsi masyarakat. Pemerintah pun sedang berusaha menarik investasi dengan berbagai cara.

Namun belum berhasil dalam situasi krisis seperti sekarang. Maka yang dikerjakan saat ini adalah menjalankan program konkrit berupa dukungan besar ke UMKM karena UMKM menjadi motor penggerak ekonomi.

UMKM yang hidup dan bergerak penuh akan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dengan demikian bisa meningkatkan konsumsi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. (dhanti/EB)

Related Articles

Back to top button