Nasional

Gibran-Teguh Berpotensi Jadi Calon Tunggal, Apa Kata Pakar?

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Bukan lagi wacana, Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo secara resmi diusung PDIP maju Pilwalkot Solo.‎ Sosok muda pebisnis kuliner bermerk “Markobar” itu dipasangkaan dengan Teguh Prakosa.

Calon Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka – Teguh Prakosa yang diusung PDI Perjuangan. Sumber: Instagram/ @jawapos

Di Pilkada Solo, Gibran dan Teguh telah mendapatkan dukungan dari mayoritas partai yang duduk di DPR Kota Solo. Keempat parpol tersebut masing-masing PDI Perjuangan (30 kursi), Golkar, Gerindra dan PAN (masing-masing 3 kursi).

Adanya dukungan mayoritas membuat Gibran-Teguh maju sebagai pasangan calon tunggal. Sebab, partai lain yang tidak atau belum memberikan dukungan yakni PKS (5 suara) dan PSI (1 suara).

Kedua partai itu dikabarkan belum memutuskan sikapnya. Jika PKS dan PSI berkoalisi, jelas tidak memenuhi persyaratan karena hanya mendapatkan dukungan 6 kursi. Disatu sisi, syarat untuk mengajukan calon sendiri adalah 9 kursi atau 20 persen dari total kursi.

Fenomena Calon Tunggal

Mengamati dinamika politik dalam Pilwalkot Solo, akademisi ilmu politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Wahid Hasyim Semarang, H. Agus Riyanto, M.Si menyebut fenomena calon tunggal sebenarnya telah ada sejak lama.

“Di Semarang juga kemungkinan calon tunggal”, katanya, saat dihubungi energibangsa, Rabu (22/7).

Agus menyebut fenomena calon tunggal dalam Pilkada menunjukkan kegagalan partai dalam proses kaderisasi dan rekrutmen politik.

“Partai tidak mampu menjalankan fungsi dengan baik, untuk memproduksi dan reproduksi kader. Selanjutnya, diajukan sebagai calon dalam kontestasi politik”, paparnya.

“Seharusnya arena pilkada dimanfaatkan parpol untuk menampilkan kapabilitas politiknya dalam memproduksi kader yang berkualitas”, terangnya.

“Dengan calon tunggal kemungkinan bakal terjadi di Solo dan Semarang serta daerah lain, masyarakat juga tidak bisa mendapatkan alternatif-alternatif pilihan politik. Ini kemungkinan akan menyebabkan meningkatnya apatisme masyarakat”, pungkasnya.

Peneliti Lembaga Survei Indo Margin Semarang, Susanto, S.IP., M.Sos, memberikan tanggapan bahwa “peperangan” Gibran-Teguh yang “tanpa lawan” di Pilwalkot Solo bukan merupakan hal yang baru dalam pilkada.

“Calon tunggal sesungguhnya telah ada sejak lama. Dan kali ini (calon tunggal) bukan perkara baru dalam pilkada. Fenomena ini bisa saja terjadi di Boyolali, Sragen, Kebumen dan Rembang”, jelas Susanto.

“Ya, mungkin memang parpol pengusungnya PDIP, partai besar, jadi partai lainnya enggan mengusung kadernya”, sambungnya.

Kalkukasi politiknya (parpol lain) susah menang. Jadi pilihannya ada dua; ikut mengusung calon dari PDIP, atau tidak ikut andil dalam kontestasi”, paparnya.

Faktor lain sebagaimana disebutkan peneliti muda itu, terkait masalah kaderisasi partai yang buruk, serta dampak penerapan parliamentary theshold (PT) yang tinggi sehingga parpol-parpol lain tidak turut hadir.

“Banyak faktor, sebenarnya. Soal kaderisasi parpol, misalnya, turut mempengaruhi ini. Jadi, parpol tak mampu dan tak mau memunculkan kader potensial”, imbuhnya.

“Faktor lainnya, ketentuan ambang batas (PT) juga turut mewarnai ini. Lihat saja, partai Hanura, PKB, PPP, juga tak punya kursi di DPRD. Akhirnya ya mereka jadi penonton”, ringkasnya.(dd/EB).

Related Articles

Back to top button