Opini / Gagasan

Generasi Muda dan Krisis Kepakaran

Oleh: Irma Yuliani*

Untuk dapat menyelesaikan permasalahan bangsa dibutuhkan analisis kritis dan mendalam, dan basisnya adalah kemampuan intelektual

ENERGIBANGSA.ID – Menjamurnya berbagai wacana di lini massa kian hari semakin tidak bisa terbendung lagi persebarannya. Seringkali berbagai persoalan politik, ekonomi, atau bahkan isu-isu keagamaan dikritisi oleh mereka yang bukan ahlinya.

Irma Yuliani, Dosen IAIN Surakarta. (Dok: istimewa)

Media sosial saat ini bagaikan mimbar yang berfungsi untuk mempertemukan berbagai pendapat, argumen, rumor, bahkan hoaks. Sebagian besar narasi yang mengalir bukan bersumber dari ahlinya, tetapi lahir dari individu-individu yang seolah memiliki otoritas untuk menyampaikan kebenaran subjektifnya masing-masing.

Mengutip pendapat Nicols dalam bukunya yang berjudul The Death of Expertise (2017), ada tiga hal yang menyebabkan matinya budaya kepakaran di lingkungan kita hari ini, yaitu komersialisasi pendidikan, jurnalisme yang buruk, dan juga internet.

Hari ini budaya komersialisasi pendidikan menyematkan gelar sarjana bukan lagi kepada mereka yang dinyatakan layak untuk membidangi suatu bidang tertentu, tetapi ukuran financial memiliki korelasi yang tinggi terhadap kemampuan untuk membeli gelar dan juga ijazah bagi siapapun yang mau.

Dalam aktivitas jurnalisme, tidak sedikit para jurnalis menyuguhkan suatu informasi bukan didasarkan pada kebenaran fakta, justru kebenaran opini yang lahir dari informan yang banyak disoroti publik lebih diutamakan. Harapannya, informan dengan follower banyak akan mengundang pembaca lebih banyak juga dibandingkan penyuguhan informasi dari pakarnya, hanya karena alasan minimnya follower atau massa yang dimiliki oleh para pakar, pendapat yang lahir dari pemikiran mereka tidak lagi diminati.

Hidup di tengah kerja entertaint memang selalu memaksa kita untuk memunculkan laku yang menarik di depan layar, meski hal itu seringkali bertolak belakang dengan kondisi yang sesungguhnya.

Di sisi lain, angka penetrasian internet yang semakin meningkat juga ikut serta memobilisasi lemahnya kinerja kepakaran kita hari ini. Mudahnya penelusuran informasi melalui internet bukannya memicu individu untuk semakin selektif terhadap informasi yang masuk, melainkan justru mereka terlihat semakin bodoh.

Hal ini karena penerimaan informasi secara mentah-mentah lebih mereka utamakan dari pada verifikasi kebenaran. Saat ini, bukan hanya mandegnya budaya kepakaran saja yang menjadi persoalan, namun efek yang timbul dari penggunaan internet dan juga media sosial lebih mengerikan lagi dampaknya.

Berawal dari Generasi Muda

Untuk mencapai level pakar, tidak bisa prosesnya diselesaikan melalui kegiatan penelusuran informasi atau keilmuan hanya dari internet, seperti budaya yang marak pada hari ini. Banyak sekali pakar dadakan yang muncul dengan style berargumennya masing-masing. Namun yang disayangkan sesungguhnya mereka tidak memiliki kapabilitas yang cukup untuk mengeluarkan pendapat tersebut.

Generasi muda menjadi garda terdepan saat ini untuk mereduksi dominasi kepakaran tersebut. Hilangnya budaya kepakaran menjadi salah satu ancaman besar bagi generasi muda, baik dalam hal merujuk kepada pakar atau menjadi pakar.

Sebuah generasi yang diproyeksikan akan mengambil kendali bagi pembangunan negara tentu dibutuhkan modal yang kuat dalam melandasi kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh mereka kedepannya. Bagaimana jadinya jika sebuah kebijakan diambil tidak berdasarkan pada analisis mendalam, dikhawatirkan hal tersebut tidak mampu menjadi jawaban atas permasalahan bangsa dan juga negara.

Menurut Statistik Gender Tematik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (2018), menyebutkan bahwa generasi muda pada dasarnya memiliki komposisi kesehatan dan pendidikan yang lebih baik dari pada generasi sebelumnya, harusnya modal ini berbanding lurus dengan kualitas intelektual mereka. Namun faktanya beberapa dampak negatif dari perkembangan teknologi telah mendestruksi sebagian lain dari kualitas generasi muda.

Padahal penting untuk kita ketahui bahwa generasi muda adalah surganya ide. Sebagian besar dari mereka mampu memproduksi ide-ide kreatif dan inovatif, dan hanya sedikit dari mereka yang membutuhkan arahan untuk dapat melahirkan ide kreatif. Meski terkadang ide mereka ada yang sifatnya abstrak dan kurang aplikatif, dengan sedikit memodifikasi akan dapat menjadikan ide tersebut menjadi ide mahal yang mungkin tidak mampu dilahirkan oleh generasi sebelumnya.

Persoalan antara tingginya produksi ide dan minimnya hal kepakaran menjadi gap tersendiri bagi generasi muda. Permasalahannya kemudian ide kreatif saja tidak cukup. Jika diumpamakan seperti sepeda motor, menarik secara tampilan luar saja tidak cukup, tetapi juga membutuhkan struktur mesin yang kuat agar tahan lama dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Dalam hal ini, penting untuk dipahami bersama bahwa kelahiran generasi muda harus diimbangi dengan proses pembelajaran yang berkualitas, terutama tempat mereka dalam mengembangkan nalar intelektual.

Urgensi Peran Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi wadah yang ideal untuk meningkatkan kualitas diri dan intelektual, bukan sekedar medan loncatan untuk mendapat gelar. Meski akhir-akhir ini teknologi informasi lebih mendominasi, dan tidak sedikit perguruan tinggi yang lebih mengutamakan pembelajaran softskill berbasis teknologi informasi.

Namun perlu diketahui juga bahwa kualitas intelektual generasi muda juga tidak kalah penting. Kualitas intelektual merupakan pondasi penting yang harus dimiliki generasi muda sebelum keterampilan lainnya.

Karena pada dasarnya, untuk dapat menyelesaikan permasalahan bangsa baik itu ekonomi maupun lainnya dibutuhkan analisis yang kritis dan juga mendalam yang basisnya adalah kemampuan intelektual. Akhirnya berbagai persoalan bangsa bisa diatasi oleh generasi muda (*).

*Irma Yuliani, Dosen IAIN Surakarta Jawa Tengah

Related Articles

Back to top button