Olahraga

Format Kompetisi Liga 3 Dianggap Tidak Adil, Ini Faktanya

ENERGIBANGSA.ID – pecinta bola tanah air kembali ramai di dunia maya karena ada akun bola di instagram yang berpendapat bahwa ada ketidakadilan dalam format kompetisi liga 3.

Adalah akun liga1mafia_02 yang menulis dalam visual post-nya mengenai ketidakadilan dalam penyelenggaraan event kasta ke-3 sepakbola nasional itu.

“Liga3 masih jauh dari kata Fair! Bayangkan saja, ada yang selalu menjadi tuan rumah, ada juga yang selalu semua laga adalah awaydays. Belum lagi urusan PS Ngada yg di tuduh memakai pemain ilegal. Jadi the Javu sama kejadian Bhayangkara dan Bali United,” tulis akun tersebut di instagram.

Postingan yang menampilkan logo dan perbandingan Persijap Jepara dan PSN Ngada sebagai salah satu contoh ketidakadilan dalam penyelenggaraan format kompetisi karena Persijap selalu menjadi tuan rumah di babak 32 besar, dan pada 16 besar kembali menjadi tuan rumah. Sementara PSN Ngada di babak 32 besar dan 16 besar selalu menjalani laga away.

Postingan itu tak pelak membuat banyak suporter Persijap emosi. Banyak akun suporter Persijap yang emosi karena postingan akun liga1mafia_02 seakan-akan tim Persijap tidak dianggap fairplay dan ada ‘main’ dengan PSSI.

Perlu diketahui bahwa berdasarkan regulasi liga 3 Nasional PSSI, babak Nasional terdiri dari 4 (empat) babak, yaitu : a) Babak 32 besar; b) Babak 16 besar; c) Babak 8 Besar d) Babak Final.

Faktanya adalah, semua tim yang lolos di babak 32 besar berhak dan boleh mengajukan diri menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan babak 32 besar dan 16 besar.

Mereka bisa mengajukan proposal kepada PSSI, dengan syarat stadion, lapangan latihan, fasilitas, dan akomodasi dianggap layak dan memenuhi kriteria penyelenggaraan babak nasional liga 3.

Yanuar Aris Budiarto, salah satu pemerhati sepakbola Jawa Tengah memberi pandangan sendiri bahwa menjadi tuan rumah tidak serta merta pasti lolos, pasti menang, dan tidak jaminan untung besar.

“menjadi tuan rumah penyelenggara babak 32 besar, 16 besar, dan 8 besar ini secara moral memang sangat membantu Persijap, pemain jadi bersemangat karena didukung ribuan supporter,” ujarnya.

Tapi menurut Yanuar, secara finansial, tuan rumah yang juga jadi penyelenggara belum tentu untung, malah bisa jadi tekor, karena tuan rumah harus membayar sewa stadion yang biayanya sangat mahal untuk semua tim peserta. Sementara jumlah penonton sangat dinamis.

Belum lagi, sesuai aturan regulasi liga 3 Nasional PSSI Klub tuan rumah wajib untuk membayar levy (retribusi) pertandingan kepada Asosiasi Provinsi PSSI atau PSSI pelaksana kompetisi sesuai dengan statuta PSSI dan statuta Asosiasi Provinsi PSSI.

“Selain itu, tidak menutup kemungkinan malah pihak yang menjadi tuan rumah babak 32 besar, 16 besar, itu juga diminta menanggung fasilitas dan akomodasi semua tim peserta,” lanjutnya.

jadi, dari sini bisa disimpulkan penyelenggaraan kompetisi Liga 3 di babak nasional sudah sesuai rules of the game, dan statuta PSSI, tidak melanggar fairplay.

Related Articles

Back to top button